Menembus Alam Gaib - 5 Views

Sebelumnya aku tidak pernah mengira akan mengalami kejadian ini, yaitu kejadian yang secara logika tidak akan pernah dapat di terima, hingga saat ini aku masih bertanya-tanya, apakah aku memang menembus alam gaib. Baiklah kawan, langsung ke kisahku tentang menembus alam gaib. Aku dan kelima temanku (Oki, Ahmad, Rivan, Trisno dan Ghofur) berencana untuk merayakan pergantian tahun di puncak Gunung Gede.

Pada saat pendakian sampai kami merayakan malam pergantian tahun, kami tidak terlalu mengalami hal-hal yang aneh, meskipun sesekali terdengar seperti ada suara bebek di tengah malam. Hingga akhirnya, pada saat kita turun gunung, kami pun sempat beristirahat di sebuah tempat seperti lapangan yang luas, dan aku melihat jam menunjukkan pukul 15.00 sore.

Setelah 10 menitan kami beristirahat, kami pun melanjutkan perjalanan. Saat itu aku kebelet untuk buang air kecil, dan aku pun buang air kecil di bawah pohon yang tidak terlalu tinggi dan pohonnya pun terlihat sudah kering. Di bawah pohon itu ada sebuah lubang yang tidak terlalu besar dan aku buang air kecil disana. Setelah selesai, tiba-tiba seperti ada yang masuk ke mataku.

Satu menit aku memejamkan mata, aku pun merasa aneh, sepertinya aku ditinggal temanku. Aku terus mencari temanku, hingga hari pun mulai gelap. Aku yang hanya ditemani cahaya dari senterku terus menelusuri jalan yang gelap dengan sedikit berlinang air mata.

Tiba-tiba saja, dari kejauhan aku menemukan cahaya lampu. Yah, lampu rumah penduduk yang hanya ada 8 rumah di sana. Aku pun kembali lega dan berjalan menuju rumah penduduk itu yang berbentuk seperti rumah panggung. Setelah sampai, aku langsung mengetuk pintu, dan keluarlah dari balik pintu seorang nenek yang belum terlalu tua dengan senyum ramahnya.

Nenek itu pun yang bernama Nenek Jamilah mempersilahkank­u masuk dan aku pun menceritakan apa yang baru saja aku alami dan berencana untuk menginap satu malam di sini. Menurut Nenek Jamilah memang banyak pendaki yang sering tersesat di gunung ini jika kita berlaku tidak sopan atau sesumbar. Setelah Nenek Jamilah memasak, aku pun makan bersama Nenek Jamilah dan cucu wanitanya yang kira-kira berumur 15th. Setelah makan akupun pamit tidur untuk keesokan harinya mencari temanku.

loading...

Malampun berganti pagi, akupun bangun dan segera bersiap-siap. Nenek Jamilah menawariku makan tapi aku menolaknya dengan dalih aku harus buru-buru mencari temanku. Akhirnya Nenek Jamilah pun membekalkan makanan yang disimpan di dalam boboko (tempat nasi) kepadaku. Setelah aku siap, aku pun berpamitan. Nenek Jamilah memberikan aku satu batang emas.

Yah, satu batang emas yang sangat berkilau. Akupun tertegun dan menerimanya begitu saja. Aku pun berpamitan dan Nenek Jamilah mengingatkan sesuatu padaku, “Nanti di depan, kalau sudah lewatin deretan pohon bambu, kamu jangan menoleh ke belakang”. Aku pun pergi dan setelah melewati pohon bambu yang Nenek Jamilah maksud, rasa penasaranku pun muncul dan aku menoleh ke belakang.

Astaga sekarang yang terlihat olehku adalah pohon beringin tua besar dan dikelilingi oleh kuburan-kuburan yang tua tak terurus. Batinku bicara, “Di mana rumah-rumah panggung tadi? Dan di mana Nenek Jamilah bersama cucunya itu?”. Dalam kepanikanku tiba-tiba saja seperti ada yang merayap di tanganku. Setelah aku lihat. hah, sekumpulan belatung keluar dari dalam boboko.

Spontan aku lempar boboko itu, dan ternyata dalam boboko itu isinya adalah belatung yang sangat banyak dan jari-jari manusia, serta batangan emas yang nenek Jamilah berikan padaku berubah menjadi batang pohon pisang yang telah membusuk. Aku pun lemas, dan sayup-sayup mataku tertutup, hingga akhirnya aku terbangun oleh teriakan seseorang yang memanggil namaku.

Dalam kejauhan aku melihat temanku Rifan, Oki, dan Ahmad yang berlari ke arahku dan memelukku erat. Temanku Ahmad berkata, “Kamu ke mana aja? Kami sudah satu minggu mencari kamu”. Hah? Satu minggu, padahal aku merasakannya hanya satu malam saja ketika berada di alam gaib.

Agen Bola SBOBET