has write 1 articles | You are reading: Bayangan Kelima - 526 Views

“Semua kamera sudah siap?” tanya Banu kepada Doni.
“Siap Nu” jawab Doni.
“Lampu gimana Ngga?” tanya Banu kepada Angga.
“Beres Nu” jawab Angga.
“Peralatan yang lain sudah siap semua kan Ta?” tanya Banu juga kepada Rista satu-satunya cewek di tim mereka.
“Siap Boss” sergah Rista.

Mereka berempat adalah teman satu kampus yang lebih dikenal dengan sebutan “Tim Pemburu Hantu“. Berangkat dengan satu ide yang sama, tentang dunia gaib, dunia spiritual, dan mitos. Bersama-sama mereka ingin membuktikan tentang keberadaan hantu, setan, jin dan makhluk-makhluk astral lainnya. Dengan peralatan yang canggih dan lengkap, sudah puluhan bahkan ratusan tempat “angker” mereka datangi untuk membuktikan keberadaan makhluk gaib itu tapi belum satupun bukti yang mereka dapatkan. Kali ini mereka mencoba satu tempat di pinggiran kota Jakarta, sebuah villa kosong yang sudah lama tidak ada penghuninya.

“Nu kamu yakin? Kita bakalan dapat buktinya kali ini?” tanya Rista.
“Ya mudah-mudahan sih berhasil Ta” kata Banu yang di anggap leader sama teman-temannya.
“Aku kok gak yakin ya Nu. Pamor rumah ini masih kalah sama Rumah Pondok Indah. Rumah Kentang. Lawang Sewu, tempat-tempat itu kita datangi saja nihil hasilnya. Gimana tempat ini Nu” kata Doni.
“Memang lu dapat info tempat ini dari mana sih Nu? Aku search di internet saja gak ada” tanya Angga.
“Dari salah satu saudaraku” jawab Banu.

“Dia dapat info dari warga sini, katanya sih dulu ini villa di tempati oleh satu keluarga, hingga suatu saat pembantu keluarga tersebut menjadi gila, dia membunuh semua anggota keluarga itu dengan sadis seluruh anggota tubuh keluarga itu di mutilasi bahkan ada beberapa anggota tubuhnya di makan sama itu pembantu” terang Banu.

“Sejak saat itu ada beberapa keluarga yang lain yang mencoba menempati villa ini tapi tidak selalu bertahan lama karena selalu di ganggu, bahkan warga daerah sini tidak berani mendekati villa ini, katanya sih sering terdengar suara rintihan dan teriakan orang minta tolong dari rumah ini”.
“Ah, cerita seperti itu sering kita dengar Nu! Tapi buktinya?” kata Doni.
“Kenapa kita gak nyoba tempat lain saja sih Nu? Yang lebih angker dan seram gitu? Aku gak yakin”.
“Ya apa salahnya kita coba. Kalau gak ada hasilnya ya terserah kalian deh mau kemana kita untuk penelitian kita selanjutnya. Oke?” jawab Banu.

“Terus pembantunya ketangkap gak Nu?” tanya Rista sambil menyiapkan peralatan yang mau dia bawa.
“Katanya sih gak hilang begitu saja. Entah kabur, entah bunuh diri atau…” terang Banu.
“Entah jadi setan?” sela Angga.
“*Hehe ya gitu deh” jawab Banu nyengir.
“Ok, mulai kita rekam semua teman-teman. Percobaan ke-148 untuk membuktikan keberadaan makhluk gaib akan kita mulai” kata Banu menghadap ke kamera.
“Pukul 23:00 WIB. Tempat villa kosong di desa Cimanggis kabupaten Bogor. Waktu berakhir penelitian pukul 01:00 WIB” gumam Banu sambil mencatatnya.

“Semua lampu matikan Ngga!” perintah Banu ke Angga.
“Ok Nu” jawab Angga.
“Ok Mulai ya? Seperti biasanya Rista sama Doni ke lantai 2. Angga lu periksa keadaaan diluar, aku tetap disini di lantai 1” perintah Banu kepada ketiga temannya.
“Siap” jawab Rista, Doni dan Angga berbarengan.

Rista dan Doni mencoba menyusuri dan merekam semua sudut lantai 2 di villa tersebut.

“Eh Don, coba lu sorot lukisan itu deh” kata Rista seraya menunjuk ke sebuah lukisan yang terpasang di ruang keluarga di lantai 2.

Doni pun menyorot lukisan tersebut dengan lampu senternya, tampak sebuah lukisan foto keluarga, yang terdiri dari suami, istri dan ketiga anak laki-lakinya, sang suami dan istri berdua duduk berdampingan di sebuah sofa dan saling memegang tangan, sementara ketiga anak laki-lakinya berdiri di belakang sang suami dan istri sambil tersenyum. Tampak senyum bahagia terpancar dari wajah keluarga kecil tersebut.

“Ini keluarga yang di ceritain sama Banu ya?” tanya Rista kepada Doni.
“Mungkin” Jawab Doni.
“Tragis ya? Padahal kayaknya itu happy family banget” kata Rista sedikit sedih.
“Takdir siapa yang tahu Ta! Sudah ah, yuk lanjut” ajak Doni.

Mereka berdua memeriksa ruangan demi ruangan, kamar demi kamar, hanya lampu senter Doni yang menerangi mereka, sesekali lampu senter Angga yang sedang memeriksa halaman depan terlihat dari jendela kamar. Angga menyusuri dan merekam keadaan diluar villa, mulai dari halaman depan, halaman belakang serta jalan setapak di depan villa. Dengan menggunakan alat perekam suara dan sebuah handycam dia mencoba memeriksa semua sudut halaman depan dan lingkungan di sekitar villa tersebut.

Dari luar tampak villa tersebut tampak kokoh berdiri, dengan cat putih kusam dan halamannya di tumbuhi ilalang dan rumput liar. Di beberapa bagian tembok dan pagar depan di tumbuhi tanaman menjalar dan sarang laba-laba, jelas sekali bahwa villa tersebut tidak di tempati dan di urus untuk waktu yang sangat lama. Hanya bunyi serangga dan desiran angin yang terdengar di telingga Angga, sesekali terdengar bunyi kepakan kelelawar yang terbang melintasi villa tersebut.

Banu mencoba menyusuri setiap ruang di lantai 1, tampak furniture dan perabotan masih lengkap dan berdebu, di tutup dengan memakai kain putih. Satu persatu Banu membuka kain itu dan memeriksa setiap furniture dan perabotan yang dia jumpai. Banu menyusuri sebuah lorong yang tampaknya menuju ke arah dapur. Pandangannya tertuju pada sebuah kamar yang letaknya bersebelahan dengan dapur.

Kemudian dia membuka pintu kamar tersebut, tampak pemandangan yang mengerikan terlihat di kamar tersebut, tulang belulang binatang seperti tikus, kucing, kelelawar bahkan ada sebuah tengkorak kepala yang dia yakini Banu sebagai tengkorak kepala babi hutan di pasang di salah satu dinding kamar tersebut. Banu membuka sebuah laci meja yang terletak di samping tempat tidur, dia menemukan sebuah buku yang bersampul kulit kambing dan bertuliskan jawa kuno yang tidak dia mengerti artinya.

Banu membuka setiap halaman setiap buku tersebut, tampaknya isi buku itu pun bertuliskan huruf-huruf jawa Kuno, hanya beberapa halaman yang berisi berupa gambar yang artinya pun sulit di mengerti. Banu memutuskan untuk membawa buku tersebut, dia memasukkan buku tersebut ke dalam tasnya dan melanjutkan investigasinya.

(Pukul 01.00 WIB). Akhirnya semua berkumpul kembali di ruang tengah lagi.

“Gimana guys?” tanya Banu kepada teman-temannya.
“Nihil” jawab Doni dan Rista.
“Nihil juga Nu” jawab Angga juga.
“Lu sendiri Nu?” tanya Angga pada Banu.
“*Huft” Banu menghela nafas. “Nihil juga” katanya.
“Sudah aku bilangin juga! Buang-buang waktu kita disini” kata Doni sedikit kesal.

“Sudah-sudah! Gak usah marah-marah gitu! Namanya juga percobaan, sudah kita beresin deh, terus buru-buru cabut. Ngantuk dan capek aku, pengen buru-buru rebahan di kost” kata Rista.
“Tunggu, tunggu. Aku nemuin ini sih” sela Banu sambil mengambil sesuatu dari tasnya.
“Aku temuin di kamar belakang, aku yakin itu kamar pembantu deh, yang kata masyarakat sekitar sini jadi gila dan ngebunuh penghuni rumah ini” Banu menunjukan buku yang tadi dia temukan.
“Halah, itu kan cuma urban legend saja Nu biar ini villa berasa angker! Buktinya kita gak nemuin apa-apa” kata Doni dengan nada sinis.

Banu memandangi temannya itu sambil menggelengkan kepalanya pelan.

“Coba lihat bukunya Nu. Apa isinya?” pinta Angga.
“Aku juga gak tahu sih apa isinya, tulisannya pakai huruf Jawa Kuno gitu” kata Banu.
“Kali lu tahu artinya Ngga. Lu kan ada keturunan Jogja, ningrat gitu” ledek Banu.

Angga menyorotkan lampu seternya ke buku itu dan membuka buku itu, kemudian mencoba mengecek halaman perhalaman.

“Ini kan” kata Angga tercengang dan terpaku setelah meneliti buku tersebut.
“kenapa Ngga?” tanya Rista.
“Ini kitab Jawa Kuno. Kitab Sukmo, Jiwo Lan Rogo. Sejenis Kitab Keabadian gitu” terang Angga dengan semangat.

loading...

Ketiga temannya menatap Angga.

“Sok tahu lu Ngga, memang lu bisa baca bahasa Jawa Kuno” Doni menyela.
“Gak sih” kata Angga. “Cuma aku pernah di kasih tahu sama mbah aku di Jogja, Kitab-Kitab Jawa Kuno yang sudah di musnahkan dan dilarang di pelajari isinya. Salah satunya ya Kitab ini” terang Angga lagi.
“Ini buktinya, gambar ini nih. Sama persis sama yang ditunjukan mbah dulu waktu aku masih kecil” kata Angga seraya menunjukkan sebuah gambar yang berada di belakang sampul buku tersebut, gambar segitiga yang berada di dalam lingkaran dan di dalam lingkaran tersebut terdapat satu huruf Jawa Kuno.

Banu, Doni dan Rista saling berpandangan.

“Arti gambar ini nih, ya Sukma Jiwa dan Raga. Jadi satu gitu, membentuk sebuah keabadian. Siapa yang mempelajari buku ini bakal hidup abadi selamanya. Cuma ya itu sih, katanya jiwanya di jual kepada setan” terang Angga menirukan gaya mbahnya.
“Lu yakin Ngga?” tanya Banu.
“100% aku masih ingat banget” jawab Angga pasti.
“Memang kenapa itu buku di musnahkan?” tanya Rista.

“Kata mbah, ini buku itu membawa kesesatan dan bencana. Zaman dulu itu ada satu desa di Jawa, aku gak ingat daerahnya mana, satu desa itu meninggal semua dalam waktu semalam. Dan kondisi warga yang meninggal sangat tragis, beberapa bagian tubuhnya sudah gak utuh, kayak di mutilasi gitu” terang Angga.

“Yang hidup cuma satu, yaitu sang kepala desa, konon katanya yang membunuh semua warga desa itu ya si kepala desa itu. Dia jadi gila setelah mempelajari ilmu yang ada di kitab ini” terang Angga sambil menunjuk-nunjuk buku tersebut.
“Terus?” tanya Banu.
“Sama Nu kayak pembantu rumah ini”.
“Hilang begitu saja” terang Angga sedikit menakut-nakuti.

Ketiga teman Angga saling berpandangan lagi, bahkan terdengar Doni menelan ludahnya.

“Jadi maksud lu, itu buku tuh buku ilmu hitam gitu. Siapa yang bisa mempelajarinya bakal hidup selama-lamanya?” tanya Doni ke Angga.
“*Yups, kurang lebih seperti itu” kata Angga.

Sejenak hening mereka berempat terdiam dan saling pandang satu sama lain.

“Sudah, pulang saja yuk. Ngantuk nih, gak ada apa-apa juga disini” kata Rista, walaupun sebenarnya dia agak ketakutan juga.
“Lampu nyalain Ngga. Aku mau beresin alat-alat nih” kata Rista lagi.

Angga pun menyalakan lampu sorot. Saat mereka sedang membereskan peralatan mereka, tiba-tiba.

“Don” kata Rista.
“Iya” jawab Doni.
“Bu-bu-bukannya kita cuma berempat ya Don” kata Rista lagi agak terbata-bata.
“Iya, memangnya kenapa? Kok lu kayak ketakutan gitu sih?” tanya Doni agak penasaran.

Banu dan Angga pun memandangi Rista.

“Te-terus, ini bayangan siapa ya?” kata Rista ketakutan dengan menunjuk ke arah sesosok bayangan hitam yang terkena cahaya lampu sorot, tepat berada di belakang mereka berempat.

Mereka pun melihat kearah sumber bayangan tersebut. Tampak sesosok wanita berambut panjang acak-acakan, dengan noda darah di sekujur tangan dan bajunya. Bibirnya menyeringai dengan mulut berlumuran darah sampai ke lehernya, seperti habis meminum darah dan memakan daging segar.

“*Huaa” mereka berempat pun berteriak. Tapi heningnya malam seolah menyirnakan suara teriakan keempat anak muda tersebut.

Find and follow me.
Instagram: @sekar_topan_bundakalinkeyra
Judul cerita: Bayangan Kelima
Oleh: Sekar Aroem

Agen Bola SBOBET