has write 3 articles | You are reading: Pulau Berdarah (Prologue) - 770 Views

Halo saudaraku, Assalaamu’alaikum, di postingan kali ini saya akan memposting bagian dari novel buatan saya “pulau berdarah” (tapi belum selesai), ini bagian prologuenya. Di hutan yang lebat dan sunyi, hanya terdengar suara jangkrik bersahut-sahutan dan suara burung hantu berkumandang. Saat itu bulan di tutupi awan, jadi suasana saat itu gelap gulita dan sangat mencekam.

Kesunyian di dalam hutan itu kemudian di pecahkan oleh suara tapak kaki seseorang yang tengah berlari terbirit-birit. *Tap-tap-tap-tap, dag-deg-dag-deg. “*Huft, huft” suara nafas terengah-engah lelaki dan di tambah suara tapak kaki yang seirama dengan detak jantung. Dengan membawa korek api gas di tangannya, lelaki itu berlari dengan ketakutan. Sepertinya dia sedang di kejar oleh sesuatu. Bukan hanya satu tapi ada banyak yang mengejarnya.

Dia terus berlari hingga pada akhirnya berhenti sejenak karena kelelahan dan kebingungan. “Si*lan! Aduh bagaimana ini! Aku tak mau mati disini!” katanya dengan panik dan nafas masih terengah-engah dan dengan detak jantung yang cepat. Setelah istirahat sejenak dia pun mengumpulkan seluruh tenaganya dan lanjut berlari dengan berharap menemukan tempat untuk sembunyi.

Tapi setelah beberapa langkah dia berlari, dia tersandung akar pohon dan tersungkur ke semak-semak yang cukup lebat. *Srek! Brak! “*Argh! Aduh kakiku” dia mengerang kesakitan dia tak bisa kemana-mana karena kaki kirinya terkilir jadi dia memilih untuk bersembunyi di semak itu. Dan karena suara erangannya saat dia jatuh itu sedikit kuat sehingga dapat memancing perhatian makhluk itu.

Setelah dia melihat salah satu dari makhluk-makhluk itu muncul tak jauh darinya. Dia merasakan panik, takut, tegang, dan sakit disaat bersamaan. Dia pun berusaha untuk tak membuat suara-suara bahkan dia tak bergerak sedikitpun dari tempat dia duduk agar tak membuat suara-suara yang memancing perhatian.

“Matilah aku” batinnya saat makhluk itu berada tepat di depan semak belukar tempat dia jatuh. Dari celah-celah dedaunan telihat sosok itu merangkak-rangkak. Kulitnya yang pucat dan di tambah noda darah di tangan sampai sikunya itu membuat orang itu semakin ketakutan hingga meneteskan keringat dingin. Orang itu meraba-raba tanah dan menggenggam sebuah batu. Lalu dia melemparkannya ke arah semak-semak lain yang agak jauh darinya.

*Srek, lemparan batu tadi menghasilkan suara yang mengalihkan perhatian makhluk itu ke semak belukar yang di lempar tadi. Setelah makhluk itu menjauh. Orang itu pun mundur kebelakang dan bersiap-siap untuk kabur lagi. Tapi sebelum sempat dia berdiri, dia tiba-tiba tergelincir ke dalam gua di belakangnya tanpa dia sadari. Ternyata di balik semak belukar itu ada gua tersembunyi.

Orang itu pun duduk memegang pinggangnya sambil menahan sakit akibat tersandung akar pohon dan jatuh ke dalam gua. “Cis. Aku harus segera mendapatkan harta karun itu, tapi makhluk-makhluk si*lan ini selalu menggangguku. Semua anak buahku sudah di bantai dan di makan oleh mereka, tinggal aku sendirian, si*lan! Aku bahkan tak yakin bisa selamat dari ini! Apa aku harus selamatkan diriku dulu?” keluh orang itu dalam hati sambil bersandar di dinding gua lalu tak lama kemudian dia tertidur karena kelelahan.

Di pagi hari orang itu terbangun dalam keadaan terikat di pohon. “Hah?! Tempat ini! Desa kanibal-kanibal itu!” seru orang itu setelah terbangun dan meronta-ronta lalu dia melihat sekelilingnya dari pohon tempat dia terikat yang berada dekat pojokan desa. Di alun-alun terdapat potongan-potongan daging yang sudah hancur serta tulang kerangka manusia dan hewan. Dan juga terdapat mayat-mayat tergantung disana.

loading...

Tak lama kemudian datanglah sosok dari arah matahari terbit. Tampangnya kurus tinggi dan jalannya membungkuk. *Dag-deg-dag-deg. “Si*lan!” dia mengerang sambil memberontak dengan keras. Detak jantung orang itu semakin cepat saat makhluk itu berbungkuk menatapnya. Wajah makhluk itu pucat dengan darah yang comot di mulut dan dagunya dengan kuku-kuku panjang yang penuh darah. Sosok itu mengangkat parang kesamping dan mengayunkannya ke leher orang itu dan *Srash! Pandangannya menjadi gelap seketika.

Agen Bola SBOBET