Pedang 7 Naga

Pada suatu hari hiduplah seorang pendekar wanita dari negeri Tiongkok yang bernama Ling Tan Kwong. Dia hidup di dalam gua bersama dengan kedua orang tuanya. Masa kecil Ling di habiskan di dalam gua yang suasananya gelap dan tenang jauh dari keramaian, Ling kecil setiap harinya di tempa oleh kedua orang tuanya untuk menguasai ilmu bela diri, tenaga dalam dan ilmu pengobatan guna untuk mendarma bakti tehadap orang-orang yang membutuhkan pertolongan.

Kedua orangtua Ling ahli bela diri, ilmu tenaga dalam dan juga ahli pengobatan, Ling memiliki wajah yang cantik, berkulit putih dan senyum yang manis seperti ibunya, kedua mata Ling terlihat tajam juga nampak sayup. Ling anak yang baik dan juga patuh terhadap kedua orang tuanya. Saat beranjak dewasa, kedua orang tua Ling meninggal dunia, itulah saat-saat peristiwa yang membuat hati Ling sangat sedih dan merasa terpukul di kala itu.

Hari pun berlalu, saat lepas kematian kedua orang tuanya, Ling merasa tak punya gairah untuk hidup, karena kedua orangtua yang amat dia sayangi telah meninggalkanya seorang diri di negeri yang teramat asing baginya, Ling berpikir untuk apa dia hidup di dalam gua hanya seorang diri dan berteman hanya dengan hewan-hewan di pintu mulut gua.

Untuk menghilangkan rasa kesedihannya Ling bermeditasi dengan tata cara yang pernah di ajarkan oleh kedua orang tuanya. Dalam meditasinya Ling seperti mendapatkan sebuah petunjuk untuk segera meninggalkan gua yang selama ini menjadi tempat tinggalnya bersama kedua orang tuanya. Saat hening dalam meditasinya Ling mendengar suara kedua orang tuanya memerintahkan Ling untuk segera keluar dari gua dan mencari sebuah pedang di bawah kaki air terjun. Ling pun terkejut dan terbangun dari meditasinya.

“Ayah, ibu dimana kalian? Aku kesepian disini” teriak Ling dengan suara tangisan yang memilukan.

Tak terasa air mata Ling membasahi pipinya dan dengan segera Ling menyekanya. Dengan hati yang gundah teringat akan kedua orang tuanya Ling kembali meneteskan air matanya, dengan rasa kesedihan yang mendalam Ling segera mengganti bajunya yang bernuansa Cina (Tiongkok) berwarna merah muda dan bercelana biru muda dengan segera Ling pun berkemas membuntal pakaiannya yang lain lalu mengikatnya di pundak dan berlari ke arah kuburan kedua orang tuanya diluar gua di pinggir pohon bambu.

“Ayah, ibu yang ku sayangi aku akan meninggalkan gua seperti ayah dan ibu sampaikan, aku akan mendarma bakti kepada setiap orang yang butuh pertolonganku, aku akan kembali ke gua ini saat aku merindukan kalian dan aku juga akan mengambil pedang di kaki air terjun”.

Setelah Ling berpamitan di kuburan kedua orang tuanya, Ling berlari melesat cepat seperti angin lilimbu melewati semak-semak belukar dan juga pepohonan yang rindang. Saat sampai di air terjun Ling di kejutan oleh seekor ular raksasa berwarna hijau keemasan sedang meliuk-liuk di atas air terjun.

“Astaga ular apa ini? Baru kali ini aku melihat ular yang sangat besar seperti ini” ucap Ling sangat terkejut.
“*Huahaha. Siapakah kau gadis kecil?” tanya naga penunggu air terjun.
“Hah? Ternyata ular naga raksasa itu dapat bicara” ucap Ling merasa heran.

Saat itu Ling sangat ketakutan dan berlari sembunyi di balik pepohonan.

“Untuk apa kau sembunyi di balik pohon itu gadis kecil, kalau kau seorang pendekar seperti leluhurmu Tan Kwong mendekatkalah, jika kau mampu mengalahkan kami bertujuh, kami akan tunduk kepadamu gadis kecil, kalau kau hanya ingin mandi, mandilah ku persilahkan, *huahaha” ucap naga penunggu air terjun.

Tak berapa lama keluarlah enam naga lain dari air terjun meliuk-liuk seperti terganggu akan kedatangan anak manusia di wilayah kekuasannya, tujuh ekor naga itu terlihat kompak seakan sudah siap menelan Ling hidup-hidup.

“Ayah, ibu, kakek, nenek doakan agar aku dapat memiliki pedang yang ayah, ibu maksud di kaki air terjun ini” doa Ling saat itu.
“Matilah kau gadis kecil” teriak tujuh naga mulai menyerang Ling.

Serangan tujuh naga secara serempak membuat pepohonan dan batu menjadi hancur berantakan dan Ling sudah hilang melesat dari penglihatan tujuh naga penunggu air terjun.

“*Hahahaha, naga kelima kita terkecoh oleh gadis kecil itu. Cepat sekali gadis kecil itu menghilang” ucap naga ketujuh penuh heran.
“Firasatku benar! Gadis kecil itu tak bisa kita remehkan saudaraku naga ketujuh” sahut naga kelima.
“Kakek para naga semua maafkan aku sebelumnya, aku kesini hanya di perintahkan ayah dan ibuku untuk mengambil sebuah pedang saja. Aku tidak ingin berkelahi, beritahu aku dimana pedang itu” ucap Ling tegas.
“*Hehehe. Sungguh terlalu lugu kau gadis kecil kau pun seorang anak yang sangat pemberani, aku suka itu” sahut naga ketiga.
“Wahai gadis kecil, jika kau ingin mendapatkan pedang yang di katakan ayah dan ibumu, hadapilah kami bertujuh terlebih dahulu” ucap naga kesatu tegas.

Saat itu juga kembali para naga air terjun menyerang Ling dengan ganas, naga ketujuh menggunakan kekuatan api dari dalam mulutnya dan menyemburkannya kearah Ling. Ling terbang melesat ke udara menahan api dengan kedua tangannya dan mengembalikan serangan naga ketujuh.

“*Arh, mataku panas sekali naga kelima, aku tak dapat melihat gadis kecil itu lagi” ucap naga ketujuh kesakitan luka di matanya.

Dengan mata yang terbakar naga ketujuh kehilangan keseimbangan dan terbentur kepalanya di dinding batu lalu terjatuh di bawah kaki air terjun. Melihat naga ketujuh terjatuh, naga kelima melesat terbang meliuk-liuk di atas udara dan mengeluarkan semburan api berwarna putih yang amat panas lalu menyemburkannya ke tubuh Ling.

“*Akh. Sinar apa ini? Silau sekali kedua mataku” Ling tidak dapat melihat dan terjatuh.

*Brugh! Tubuh Ling jatuh tersungkur di bebatuan yang terjal.

“*Huahahaha, kau rasakan itu gadis kecil, hanguslah tubuhmu” ucap naga kelima senang melihat lawannya terkapar.

Naga kelima berpikir Ling telah tewas terkena semburan api putihnya. Tak berapa lama Ling bangkit dan memeriksa tubuhnya ternyata hanya bajunya saja yang hangus terbakar. Ling pun segera melesat terbang ke tubuh naga kelima dan memukul jantung naga kelima bertubi-tubi.

*Pukulan harimau terbang* Buk, buk, buk!

“*Argh! Sakit sekali dadaku” rengek naga kelima kesakitan.

Tanpa diberi kesempatan Ling pun segera melompat di tubuh naga kelima dan mencoba mencabut urat naga kelima dengan jurus cakar harimau terbang yang di ajarkan ayahnya.

loading...

*Cakar harimau terbang*

“Ampun tuan! Aku naga kelima mengaku kalah dan tunduk kepadamu” ucap naga kelima menyerah.
“Kau belum mengalahkan aku gadis kecil, tak perlu kau merasa sakti dapat mengalahkan kedua saudaraku naga ketujuh dan naga kelima” ucap naga ketiga penuh amarah.

Dengan amarah yang besar naga ketiga menyerang Ling dengan mengepakan ekornya yang menyala api ke arah tubuh Ling, dan Ling pun terlempar jauh ke dalam hutan.

“*Hahaha, mati kau gadis kecil yang sombong” ucap naga ketiga penuh kemenangan.

Di dalam rimbunan hutan tubuh Ling tergeletak dan sekujur tubuhnya terluka parah namun dia masih dapat bergerak.

“Ah, sakit sekali tubuhku, rasanya tulang-tulangku patah semua” ucap Ling kesakitan.

Ling mengatur nafasnya dalam-dalam dan perlahan-lahan menghembuskannya, dalam posisi berbaring Ling hening dan mulai bermeditasi. Samar-samar di kejauhan terdengar suara seorang kakek tua memanggil-manggil namanya.

“Ling, Ling, Ling, bangunlah aku datang di hadapanmu, bangunlah nak” ucap kakek tua bertopi caping berbaju hitam.

Perlahan-lahan Ling membuka matanya dan memperjelas penglihatannya.

“Kakek ini siapa?” tanya Ling kepada seorang kakek yang tiba-tiba berdiri di hadapannya.
“*Hehehe, aku hanya orang tua yang kebetulan lewat nak, minumlah air ini! Tubuhmu akan sehat dan segar kembali seperti sediakala” ucap kakek misterius kepada Ling.

Lalu Kakek misterius itu meminumkan air ke mulut Ling memakai daun sirih, dan Ling meminumnya dengan dua kali tegukan.

“Terima kasih kek! Kenapa tubuhku merasa aneh dan aku tidak merasakan tulang-tulangku yang patah tadi” tanya Ling penuh keheranan.
“Sekarang bangkit dan berdirilah nak, lukamu sudah sembuh dan tubuhmu menjadi lebih kuat dari sebelumnya” ucap kakek misterius kepada Ling.
“Dengan sepuluh jari serta satu kepala, aku ucapkan terima kasih kek! Entah bagaimana aku membalas budi baik kakek” ucap Ling kepada kakek misterius.

“*Hahaha, tak perlu nak! Hadapilah tujuh naga di kaki air terjun itu dan milikilah pedangnya, perjalananmu masih jauh, kau tolonglah orang-orang yang lemah” ucap kakek misterius kepada Ling.
“Baik kek aku penuhi nasehatmu, ayah dan ibuku pun menyuruh aku menumpas kejahatan dan menolong orang yang lemah, kenapa kakek tahu aku mau mencari pedang di kaki air terjun?” tanya Ling merasa heran kepada kakek misterius.
“*Hahaha, nanti aku ceritakan jika kita bertemu kembali, buka mulutmu lebar-lebar dan tutup matamu rapat-rapat” ucap kakek misterius tegas.

Ling pun membuka mulutnya dan menutup matanya, tiba-tiba kakek misterius itu meludah bekas sirih yang dia kunyah di mulut Ling. Ling pun terkejut dan darahnya mulai mendidih.

“Kenapa kau meludahi mulutku kek, apa maksudmu” ucap Ling geram.
“*Hehehe, gadis kecil kau seperti harimau betina! Mirip sekali dengan ibumu, sekarang pergilah tumbangkanlah tujuh naga air terjun” ucap kakek misterius yang mulai menjelma menjadi seekor harimau yang sangat besar.
“Astaga, kakek? Ka-kek seekor harimau?” ucap Ling ketakutan.
“Tak perlu kau takut kepadaku nak! Segera ambilah sembilan lembar sirih di atas punggungku dan kunyahlah sampai habis, lalu kau bacalah mantra ini, (belangmu belangku taringmu taringku manunggal dalam ragaku)” kakek harimau membisikan mantra tersebut di telinga Ling.

Selanjutnya pedang 7 naga bagian 2.

Agen BolaAgen Bola SBOBET
Salim

Salim

"Aku menuliskan kisah tanpa pena serta tanpa lampu. Hal yang aku senangi ialah tertawa, juga menghindar dari keramaian. Aku begitu bahagia bersembunyi di tempatku yang gelap, karena tak ada yang dapat melihatku, dan aku begitu mudah melihatmu"

All post by:

Salim has write: 39 posts

Please vote Pedang 7 Naga
Pedang 7 Naga
3 (60%) 1 vote