Hantu Baik Versi 2

Intan berjalan menuju rumahnya, saat itu jam telah menunjukan pukul 18:00 sudah waktunya memasuki adzan maghrib. Intan mempercepat sedikit jalannya agar cepat sampai di rumah. Terlihat lelaki remaja seumuran Intan berada di tepi jembatan, dia memandang air sungai yang mengalir, lelaki itu menggunakan baju sekolah.

“Apa yang dia lakukan disana sendirian?” (gumam intan).

Sesampainya di rumah intan menaruh tas sekolahnya dan mandi, setelah mandi intan menuju ke dapur memasak nasi untuk ibunya yang sedang berbaring di atas kasur. Setelah memasak intan membawakan nasi untuk ibunya dan segera menyuapinya.

“Maaf ya ibu, aku telat pulangnya soalnya tadi, ada masalah sedikit” kata intan yang menyuapinya.
“Iya tidak apa-apa intan” kata ibu intan tersenyum lembut.
“Ibu yang sabar ya, intan lagi kumpulin uang buat operasi ibu” kata intan sedih.
“Sabar kok sayang” kata ibu intan mengelus rambut putrinya.

Setelah Intan menyuapi ibunya, intan menuju ke kamarnya untuk belajar. Di saat belajar, intan merasa ada yang mengawasinya dari jendela, intan menoleh namun tidak ada siapa-siapa. Malam pun semakin larut, jam menunjukan pukul 10 malam, Intan beranjak dari kursi belajarnya berjalan menutup pintu, terlihat ibunya intan tertidur pulas, intan tersenyum tipis. Saat menutup pintu terlihat lelaki remaja yang berada di tepi jembatan tadi sedang duduk di depan rumah Intan.

Keesokan paginya berangkat ke sekolah, berpamitan dengan ibunya. Intan berjalan menuju ke sekolah dengan berjalan kaki menuju ke tepi jembatan menunggu angkutan umum untuk sampai ke sekolahnya. Saat berjalan Intan tersandung, seorang lelaki remaja menolongnya. Intan melihat lelaki remaja itu memegang dadanya, dan tamparan mengenai wajah lelaki itu.

“*Au! Gila ya kamu di tolongin malah tampar aku” kata lekaki itu.
“Ngapain kamu pegang-pegang punyaku?” kata intan kesal.
“Mana aku tahu siapa suruh taruh di atas” kata lelaki itu mengelus pipinya yang masih merah.
“Lah perkataan bodoh”.
“Kamu memang tahu kalau kamu hampir jatuh tadi dan melukai kepalamu, bukan bilang terima kasih malah menampar”.

loading...

“Iya, iya sorry deh makasih ya telah menolongku puas!” kata intan menginjak kaki lelaki remaja itu.
“Aduh. Aduh. Hey tunggu si*lan!”.
“Apa, apa hah?” kata intan menatap tajam ke arah laki-laki itu.
“Enggak kok *hehe, namaku Mayzal panggil saja zal” kata mayzal menyodorkan tangannya.
“Aku Intan priyani ningsih” kata intan membalas tangannya mayzal.

“Sudah aku mau berangkat” kata intan.
“Boleh aku ikut? Aku tidak punya tujuan nih”.
“Urusanmu sendiri itu” kata intan ketus.
“Boleh ya, ya, aku ikut ya, ya” kata mayzal merengek.
“Enggak, enggak, enggak!” kata intan yang mencoba masuk, tetapi mayzal memegang lengan baju.

*Krek.
“Ups. Sorry” kata mayzal lari seribu.
“Hey! Tunggu kau” kata intan mengejar mayzal.
“Maaf aku tidak sengaja” kata mayzal yang masih berlari.
“Kau harus ganti bajuku yang sobek” sini kau.

Intan berlari begitu cepat hingga mayzal tertangkap dan menarik kerah baju mayzal dan terjatuh di tanah. Intan menampar sampai memukulnya hingga mayzal kesakitan.

“Makanya jangan lari dariku” kata intan mengelam tangannya.
“*Au. Sakitnya hey! Kasar banget sih aku kan tidak sengaja, sakitnya pipiku” kata mayzal yang kesakitan.
“Biarin *wek!” kata intan menjulurkan lidahnya.
“Kotor deh bajuku kalau gini”.
“Baju jelek saja di perkarakan”.
“Ini baju satu-satunya tahu” kata mayzal membersihkan bajunya.

“Ya, ya, ya, ya sudah aku mau berangkat sekolah, rumahmu ada dimana? Nanti aku mau mampir buat gantiin bajuku”.
“Apaan robek dikit saja di perkarakan”.
“Ini baju satu-satu punyaku”.
“Sama *dong, kita jodoh *dong” kata mayzal.

*Plak!
“Astaga! Nampar lagi! Hey tunggu jangan lari kamu” kata mayzal mengejar intan yang sudah menamparnya.
“Bye” kata intan melambaikan tangannya di bus.
“Awas kalau ketemu lagi”.
“*Wek!” kata intan menjulurkan lidahnya.
“*Hem senang juga memukulnya” (gumam intan ) tersenyum-senyum.

Sesampainya di sekolah intan bergegas masuk ke sekolah dan menaruh tasnya. Tidak berapa lama, pak guru datang mengajar. Hari ini adalah semester pertama, intan telah belajar semalaman dan harus mendapatkan ranking satu biar bisa membantu ibunya. 1 jam pelajaran pun usai, intan membereskan pensil dan penghapusnya dan berjalan menuju ke kantin untuk membeli minuman biar pikiran intan tak stres.

“Enaknya bagi *dong” kata mayzal yang tiba-tiba berada di belakang intan.
“*Uhuk. Uhuk. Ngapain kamu kesini?” tanya intan.
“Kan sekolah disini, salah?”.
“Salah lah harus muncul di hadapanku” kata intan.
“Lah. Apa salahnya kan aku bilang ingin berteman denganmu” iya ngapain harus ngikutin aku.
“Kan sekolahku disini juga”.

“Masa!? Aku tidak percaya tuh”.
“Iya sudah kalau tidak percaya”.
“Sini minumanya aku minta” kata mayzal yang mengambil di tangan intan.
“Apaan sih sini kembalikan zal”.

Tiba-tiba kaki intan terpeleset dan terjatuh mayzal memegangnya mereka jatuh bersama dan mereka bertatapan beberapa detik.

“Minggir dik!” kata intan menendang.
“Aduh! Sakitnya, dasar intan” kata mayzal kesakitan.
“Eh sorry, sorry aku tidak sengaja “kata intan.
“Tapi bohong *wek” kata mayzal lari meninggalkan intan.
“Si*lan” teriak intan.

*Kring, kring bell pun berbunyi tandanya pelajaran akan segera di mulai kembali. Intan memasuki kelasnya, intan melihat mayzal melewati kelas intan dan mengacungkan jari tengah ke intan.

“Si*lan tuh bocah mau bekelahi lagi” kata intan dalam hati.

Sepulang sekolah perasaaan intan terasa sangat tidak enak sekali, terasa intan harus buru-buru pulang untuk melihat ibunya.

“Kamu kenapa gelisah gitu?” tanya mayzal.
“Tahu nih perasaanku tidak enak sekali dengan ibuku di rumah, aku harus pulang nih tapi angkutan tak datang-datang” kata intan gelisah.
“Aku punya sepeda mau pakai? Aku bisa mengantarmu dengan kecepatan seperti motor”.
“Ngada-ada saja kamu”.
“Mau tidak?”.
“Iya deh”.

Mayzal pun mengambil sepedanya dan menyuruh intan yang mengendarainya. Intan melajukan sepeda mayzal dengan kecepatan 40km/jam sesampainya di rumah terlihat para tetangga berada di rumah intan memasangi bendera warna putih.

“Ini ada apa pak?” tanya intan dengan mata berkaca-kaca.
“Yang sabar ya dik, ibu kamu telah tiada” kata pak jon.

Selanjutnya hantu baik versi 2 bagian 2.

Agen BolaAgen Bola SBOBET
Gugun

Gugun

nama:gugun tinggi:165cm berat:50kg hoby:membaca,dan menulis karanganjangan lupa baca ceritaku ya hanya di kch jangan pernah baca ini sendirianaku suka buat cerita horor yg sedikit di bumbui pertemana dan horor yg sadis seperti mutilasiok salam knl semuafacebook: Nak gugun email: [email protected]

All post by:

Gugun has write: 57 posts

Please vote Hantu Baik Versi 2
Hantu Baik Versi 2
3.3 (66.67%) 3 votes