has write 20 articles | You are reading: Tangan Hantu Wanita - 2310 Views

Hari mulai menjelang sore, tepatnya adzan maghrib akan segera berkumandang. Belum lagi rintik hujan yang cukup deras seakan serempak mewarnai, hariku pada hari ini, tak ada tempat untuk berteduh. Perlahan hujan mulai membasahi kemeja merah yang sedang aku pakai saat.

Mataku berbinar, untunglah ada sebuah pohon beringin yang berdiri dengan angkuhnya, kupikir juga lumayan untuk tempat berteduh di saat hujan sedang mengguyur bumi. Benar-benar tak bersahabat. Sebuah pohon beringin yang lebat cukup untuk aku berteduh sampai hujan reda. Aku terduduk tepat di bawah pohon beringin tersebut.

Aku tak peduli meskipun celana jeans yang kupakai akan kotor, ya karena kakiku sudah berdemo sejak tadi di acara pernikahan Rika sahabat dekatku berdiri saja, tak ada tempat untuk duduk semuanya penuh dan juga karena tidak di sediakan kursi untuk para tamu duduk. Entahlah, mungkin karena si empunya pesta mau lebih irit atau memang pelit.

Untunglah tak lama setelah aku berteduh hujan segera reda. Aku pun berniat segera melanjutkan perjalananku agar pulang tepat waktu dan orang rumah tidak berasumsi yang negatif padaku. Karena terlambat lima menit saja, akan ada beribu pertanyaan yang akan di tujukan padaku oleh ibuku khususnya. Aku sudah cukup pusing dengan masalahku yang bertumpuk tidak mau ku tambah lagi dengan pertanyaan-pertanyaan nggak penting dari ibuku. Baru saja, aku berdiri dari bawah pohon beringin tersebut. Mendadak ada seorang wanita berambut panjang sedang duduk di motorku. Seolah sudah siap untuk di bonceng. Aku pun mencoba bertanya pada wanita itu.

“Maaf, mbak. Mbak mau kemana? Kalau searah mungkin bisa bareng dengan saya” ujarku sekedar berbasa-basi.

Wanita itu hanya menoleh sembari tersenyum. Tidak !Bukan tersenyum lebih tepatnya menyeringai. Tanpa sadar, aku bergidik ngeri. Tiba-tiba saja, selarik angin terasa menusuk tulangku. Tanpa pikir panjang, segera aku tancap gas sambil berharap jalanan tidak macet agar aku bisa lebih cepat tiba di rumah sebelum malam menjelma, dan membuat suasana jalan lebih horor lagi karena sepi.

“*Fiuh, akhirnya aku tiba juga di rumah. Aku lelah sekali, ingin rasanya langsung menubruk kasur dan segera terlelap. Namun, aku tidak bisa seperti itu kalau aku tidak mau sepanjang malam tubuhku di serang rasa gatal yang amat sangat” gumamku pelan lebih menujukan pada diriku sendiri.

Aku pun melempar tas milikku ke atas tempat tidur. Lalu segera, mengambil handuk dari masuk kamar mandi. Setelah aku siram tubuhku beberapa kali, terasa sangat segar. Lalu, aku membasahi rambutku 10 menit kemudian aku telah selesai mandi.

“Ah, segar banget rasanya, aku jadi lebih fresh sekarang” kataku senang.

Aku segera mengeringkan rambutku dan handuk mengingat mataku yang sudah tidak bisa di ajak kompromi lagi. Baru 5 menit aku sibuk mengeringkan rambutku, ketika tiba-tiba ada sepasang tangan kasar, dengan kuku yang panjang tampak tak terawat, yang mencolek bahuku dan aku tercekat kaget. Tubuhku tanpa di komando langsung tegang, kaku, tak bergerak. Seakan sudah terpaku di depan pintu kamar mandi.

“Tangan siapa sih, kasar banget?”.

loading...

Tiba-tiba saja, ada sepasang tangan melingkar di pinggangku. Spontan, aku menjerit dengan keras.

“To-tolong, hentikan. Jangan ganggu aku. Pergi sana”.

Aku baru saja hendak berniat lari keluar rumah, namun aku sadari aku baru saja mandi dan menuju kamar dan berpakaian terlebih dahulu. Lalu, perutku seperti menuntut minta di isi. Untunglah, bik Ijah pembantu di rumahku sudah memasak makanan sebelum pulang. Aku pun menyiapkan piring dan sendok, sesudah menyendok nasi dan lauk yang tersedia. Aku pun menyantap makanan itu dengan sangat nikmat. Tapi, ketika aku tiba pada suapan terakhir. Yang ada di piringku bukan nasi beserta lauknya melainkan belatung-belatung.

“Berarti yang tadi aku makan itu?” aku tak dapat melanjutkan kata-kataku.

Aku segera menuju kamar mandi dan memuntahkan semua isi perutku disana. Biarlah malam ini tidur dengan perut lapar dari pada tidur dengan perut kenyang, bukan dengan nasi melainkan belatung. *Ugh, aku tiba-tiba saja jadi mual sekali mengingat hal yang baru saja terjadi.

“Ada apa dengan hidupku, sih?” tanyaku pada diriku sendiri.
“Setahuku sejak aku bertemu dengan wanita tersebut, hidupku jadi penuh dengan keanehan. Mungkinkah, wanita itu adalah hantu?” tanyaku lagi pelan.

Tanpa sadar, aku bergidik ngeri. Bulu kudukku tiba-tiba saja meremang, selarik angin mengenai tengkuk belakangku. Aku lihat sosok wanita itu tengah menatapku tajam sambil menyeringai seram muncul di wajahnya yang memang sudah seram. Wanita itu menampakan kedua taringnya. Lalu aku mundur beberapa langkah ke belakang, hampir saja aku terjatuh.

Untung segera bisa aku atasi rasa gugup itu, ya aku menghadapi hantu ini. Aku hampir pingsan saat ini, tak bisa bernapas, seketika napasku tercekat, tertahan di tenggorokan. Kedua tangan hantu itu siap mencekikku. Lalu semua menjadi gelap dan aku tidak ingat apa-apa lagi.

Agen Bola SBOBET