Lala dan Keriting Bagian 9 - 3 Views

Sebelumnya lala dan keriting bagian 8. Melihat iblis Chentong telah pergi jauh John langsung segera berlari menghampiri Nurul dan Yain. Tapi satu iblis prajurit yang tiba-tiba datang itu terlihat langsung berubah wujud menjadi seorang kakek-kakek.

John: kakek salim.
Salim: kalian tidak apa-apa?
Yain: *okhok, ohkhok, aku tidak apa-apa.

Sementara itu di tengah perjalanan menuju kota mati iblis Chentong terlihat berhenti melesat.

Iblis Chentong: bodoh sekali, saya telah di perdaya, setangguh apapun pendekar yang menyerang kota mati, semua iblis yang ada di kota mati tidak akan bisa terbunuh.

Menyadari hal tersebut akhirnya iblis Chentong langsung berbalik dan langsung kembali melesat dengan sangat cepat.

Salim: iblis Chentong sudah menyadari penyamaranku, kita harus segera pergi meninggalkan tempat ini. “*Fhush” Nurul langsung melesat cepat ke arah Friska dan Lala.

Lala: bagaimana dengan Keriting?
Nurul: sudah tidak ada waktu lagi, iblis Chentong sudah dekat.
Lala: aku tidak bisa meninggalkannya kalian pergi saja duluan.
Nurul: berhati-hatilah.
Salim: ayo cepat, ikuti aku.

“*Fhush” Salim langsung melesat cepat meninggalkan tempat tersebut dan “*fhush” di ikuti oleh Yain yang langsung membawa John serta “*fhush” Nurul yang membawa Friska. Sementara Lala dengan menahan rasa sakit terlihat mulai melangkah berjalan menuju pintu depan rumah. Saat Lala akan membuka pintu untuk masuk ke dalam rumah tiba-tiba “*derph” kedua telapak kaki iblis Chentong mendarat di depan rumah. Seketika Lala langsung membalikan badannya. Dan di saat yang bersamaan tiba-tiba Yain, Nurul dan Salim berhenti di tengah perjalanan.

Yain: kenapa John?
John: nyawa Lala dan Keriting sedang dalam bahaya, kenapa kita meninggalkan mereka?

Salim: hanya ini satu-satunya pilihan John, Ling dan Lung adalah pendekar yang hebat tapi dengan sangat mudah iblis Chentong bisa membunuh mereka, kamu juga sudah melihat sendiri ayah dan ibumu yang memiliki kemampuan empat kali kecepatan peluru hampir terbunuh oleh iblis itu, gadis yang kamu sebut sudah memilih jalan takdirnya sendiri untuk membalas dendam, padahal nenek bulan hitam yang telah menyelamatkannya sudah sering menasehatinya, kita sudah tidak bisa membantunya lebih jauh lagi karena nyawa kita juga dalam bahaya jika terus ikut campur dalam masalah ini, aku lihat sepertinya gadis itu sudah menyesali keinginannya dan telah menyadari bahwa bukan hanya nyawanya yang dalam bahaya.

Nurul: ayo John, kita harus segera melanjutkan perjalanan.

Akhirnya Salim, Yain, Nurul, John dan Friska memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanan menuju bukit jukut hejo yang merupakan tempat tinggal kediaman Salim.

Iblis Chentong: *hmm, hmm, hmm (tersenyum pahit), kenapa anda tidak ikut melarikan diri gadis kecil, tapi itu keputusan yang sangat bagus karena saya tidak perlu repot-repot lagi untuk membunuh anda.
Lala: kalau kamu mau pedang tujuh naga, ini ambil saja dan segera tinggalkan tempat ini.

“*Tlirink, tink, tink” Lala melemparkan pedang tujuh naga tepat ke depan iblis Chentong.

Iblis Chentong: oh, oh, sebenarnya saya sama sekali tidak menginginkan pedang itu, yang bisa menggunakan pedang itu dengan sempurna hanya orang yang memiliki ikatan darah dengan Ling, saya sangat ingin membunuh Ling dan semua orang yang memiliki ikatan darah dengannya, setelah membunuh Ling saya sengaja menyimpan pedang tujuh naga di kota mati, karena saya yakin suatu saat akan ada orang yang memiliki ikatan darah dengan Ling datang ke kota mati untuk mengambil kembali pedang itu, sangat tidak saya sangka ternyata yang datang adalah anak gadis buah hati Ling.

Lala: baiklah kalau itu yang kamu mau, silahkan bunuh aku sekarang juga, tapi segera tinggalkan tempat ini.

“*Dreph, dreph, dreph” iblis Chentong langsung melangkah berjalan menghampiri Lala.

Iblis Chentong: *hmm, hmm, hmm (senyum jahat), sepertinya ada sesuatu yang sangat berharga di rumah ini sampai-sampai anda tidak melarikan diri dan rela menyerahkan nyawa anda.

“*Kreph” iblis Chentong mencekik Lala dan sedikit mengangkatnya sehingga telapak kaki Lala sama sekali tidak menapak. Dengan sedikit memutar iblis Chentong langsung “*jedakh” memukul sehingga Lala terhempas ke depan rumah dan “*brugkh” tergeletak tidak sadarkan diri. Setelah itu “*bruakh, tlarakh, takh” sebuah pintu depan rumah hancur. Dan kemudian iblis Chentong langsung melangkah berjalan masuk ke dalam rumah.

loading...

Matanya melirik-lirik sekitar dalam rumah dan pandangannya terhenti pada sebuah pintu kamar. Yang dimana di dalam kamar tersebut ada Keriting yang sedang berbaring di tempat tidur dengan keadaan wajah dan badannya terbalut perban. Setelah iblis Chentong sampai di sebuah pintu kamar itu “*bruakh, tlarakh, takh” pintu kamar tersebut hancur terkena pukulan. Lalu kemudian dengan perlahan iblis Chentong berjalan masuk ke dalam kamar untuk melihatnya. Selanjutnya lala dan keriting bagian 10.

Agen Bola SBOBET