Kisah Sang Kyai Guru Bagian 33 - 43 Views

Sebelumnya kisah sang kyai guru bagian 32. Ketika aku pulang dua minggu sekali ke rumah dari tempat usahaku, Kyai Askan datang ke rumah.

“Ada apa Kang?” tanyaku.
“Lha sampean ini bagaimana, masa waktu aku menjadi imam sampean tidak ikut menjadi makmumku” katanya dengan nada marah.
“Lho saya kan seringnya ada di tempat kerja saya to kang, jadi jarang pulang, bagaimana saya bisa ikut?” jelasku.
“Ya harus tetap ikut, ya di sempat-sempatkan ikut” katanya memaksa.

loading...

“Lha tempatnya kan jauh to kang, kalau saya wira wiri, apa ndak ngabiskan bensin banyak?” kataku, aku mulai ndak sabar juga, kalau ada orang yang di beri hati malah minta jantung.
“Lalu apa kata orang, itu si kyai Askan jadi imam, kyai Ian tak pernah mau menjadi makmum, pasti karena bacaan kyai Askan tidak fasih” katanya.
“Lha sampean ini kok ya aneh, apa ada orang bilang begitu?”.
“Ya belum ada, tapi nanti kan juga ada”.

Aku geleng-geleng kepala.

“Sesuatu yang belum ada kok sampean ada-ada, itu namanya su’udzon, sampean ini kyai” kataku.
“Juga apa urusannya bacaan fatekhah sampean sama kehadiran saya, lha kalau saya itu lidah sampean, misal saya ndak hadir otomatis sampean jadi cedal, hu-ha-hu-hu kayak orang bisu, lha saya kan orang lain, mau saya hadir atau tidak kan ndak pengaruh sama shalat jama’ah, la sampean ini ikhlas apa endak to sebenarnya? Kok selalu ngajak ribut dan meributkan saya, saya kan juga punya keluarga, perlu mencari ma’isah, perlu makan, nyari uang, sampean itu sudah tak kasih minta semua, lha kok masih kurang, sebenarnya maunya apa?”.

Dia berdiri, dan pergi begitu saja tanpa pamit, aku hanya menatapnya dengan heran, kok ada orang kayak gitu, mau mengatakan tidak ada juga, kenyataannya sudah di hadapi, mau bagaimana. Penyakit iri dengki memang super sulit mengobatinya, jika seseorang tak mau menyadari bahwa penyakit itu memang benar-benar ada dan membakar hati pikiran orang yang memiliki penyakit itu.

Sebenarnya dalam pemikiran dangkalku, mengobati penyakit hati itu tak bedanya seperti mengobati penyakit lahir. Seperti kita kalau pergi ke dokter, kan di periksa dulu, tidak asal di suruh nungging, terus jarum suntik di tancapkan, tapi di diagnosa, dokter akan bertanya apa keluhannya, lalu mengelompokkan dalam suatu penyakit. Keluhan itu di sesuaikan dengan kebiasaan penyakit, jika pasien bilang giginya senut-senut, tak akan di bilang itu penyakit ambeien atau susah buang air besar, di bilang dokter itu sakit gigi, kalau dokternya seperti itu pasti dokternya yang sakit.

Sebuah diagnosa akan menentukan penyakit, lalu akan di temukan penyakitnya dan obat yang tepat, sakit gigi, obatnya pasti obat untuk meredakan sakit gigi, jangan mau di kasih salep ambeien, di oleskan di lubang gigi. Begitu juga sakit yang mengenai hati, maka di diagnosa, apa penyakitnya, yang jelas manusia yang mengidap penyakit harus menyadari kalau dirinya sakit, kalau tak mau menyadari ya makin susah untuk di obati.

Dan obat itu selalu bertentangan dengan penyakit, jika punya rasa sombong, ya bersikaplah tawadhu’, kalau perlu bayar orang suruh meludahi kita di tengah pasar, biar sombongnya hilang. Sebab namanya juga penyakit, di rasa atau tidak di rasa itu akan mengganggu. Khususnya mengganggu dalam pendekatan diri pada Allah, dan amal ibadahnya tak akan di terima, dengan kata lain, seumur-umur orang yang berpenyakit hati itu ibadah, maka tak akan mengecap manisnya ibadah, dan nikmatnya terijabahnya do’a.

Ternyata Kyai Askan masih tetap menjelek-jelekkanku di setiap pengajiannya, aku di bilang tak bertanggung jawab di beri amanat di masjid, nifak, dan lain-lain, tapi ku biarkan saja. Hitung-hitung mengurangi dosaku, aku tetap santai menjalankan aktivitasku tiap hari. Sampai pada suatu hari, aku mendengar anak dari Kyai Askan yang sudah bisa jalan tiba-tiba lumpuh, dan kakinya mengecil, tiap malam selalu menangis sampai pagi, sudah di bawa ke dokter, tapi tak ada perubahan sama sekali. Anaknya tetap dalam keadaan lumpuh, dan tiap mulai maghrib menangis sampai suaranya habis, karena sebelum ada adzan subuh, anaknya itu tak mau berhenti menangis.

Sehingga Kyai Askan dan istrinya di buat pusing, karena tiap malam harus begadang menjaga anaknya yang menangis terus, tiap hari di carikan obat kesana kemari tapi semua tak sanggup mengobati, sampai di bawa ke Kyai Sepuh. Di katakan oleh kyai Sepuh itu kalau anaknya itu di gandoli dua jin lumpuh, dan bahkan kyai Sepuh itu tak sanggup mengambil, dan yang sanggup mengambil hanya seorang pemuda berkaca mata, rumahnya depannya ada pohon mangganya, dekat balai desa Bligo, itu ku dengar setelah istrinya bercerita padaku.

Sudah sebulan anak Kyai Askan seperti itu, mau di bawa ke rumahku, jelas gengsi, mencoba di bawa ke paranormal, atau kyai, dukun, semua tetap hasilnya nihil. Sampai mungkin sudah tak ada jalan keluar, maka istrinya jam 2 malam di suruh ke rumahku membawa anaknya yang lumpuh dan di gendong, dalam keadaan menangis, mengetuk rumahku.

“Siapa?” tanyaku yang waktu itu masih dzikir.
“Saya dik, istrinya Askan” jawab istrinya Askan.

Aku keluar membuka pintu, dan ku lihat anaknya di gendong dalam keadaan menangis.

“Mari silahkan masuk” kataku mempersilahkan.

Anehnya ketika melangkah ke pintuku, maka anaknya langsung diam, tak menangis. Memang di luar ku lihat dua jin lumpuh, tengah bersembunyi dari tatapan mataku.

“Ada apa mbak?” tanyaku.
“Ini anakku, lumpuh dan rewel terus” jelasnya.
“Lha tidak rewel gitu kok mbak, anteng saja” kataku menunjuk anaknya yang tidur dalam gendongannya.
“Iya ya, tapi tadi rewel” katanya.
“Kalau gitu saya mohon diri.” tambahnya.
“Ya silahkan” ku antar sampai pintu, dan pintu ku tutup, tapi baru berjalan sampai 50 meteran, anaknya nangis lagi.

Aku juga mendengar, dan ku tunggu ternyata dia datang lagi, ku bukakan pintu.

“Siapa mas?” tanya Husna yang bangun.
“Ini istrinya pak Askan” jawabku.

Dan lagi-lagi ketika anaknya di bawa masuk ke rumahku, maka tangisnya pun terhenti.

“Ini bagaimana, kok kalau masuk rumah anakku jadi ndak nangis?” katanya.

Tak ku katakan kalau ada dua jin lumpuh yang mengikuti dan dua jin itu tak berani masuk rumahku, takutnya malah membuat istri pak Askan takut.

“Wah aku ndak tahu mbak, wong saya ini orang bodoh” jawabku.
“Sudah tidur di sini saja mbak, wong anaknya juga sudah anteng gitu tidurnya, sana bawa tidur di kamarku” kata Husna. Dan Husna pindah ke luar tidur di lantai.

Paginya Kyai Askan datang dan mengajak pulang istrinya. Hanya Husna yang menemui. Siangnya istrinya datang lagi, juga di temui Husna. Dia cerita soal aku yang di katakan orang yang bisa mengobati anaknya, lalu Husna memanggilku.

“Ada apa mbak?” tanyaku.
“Ini soal lumpuhnya anakku, kata orang pintar sampean yang bisa mengobati” katanya.
“Wah orang pintarnya itu mengada-ada mbak, wong saya ndak bisa apa-apa” jelasku.
“Ya mbok sampean kasih air atau apa, biar lumpuh anakku ini sembuh”.
“Dik tolong ambilkan aqua” kataku pada Husna.

Lalu air ku bacakan basmalah, dan ku tiupkan ke air.

“Ini nanti airnya di pakai memandikan si kecil ya mbak, semoga Allah memberikan kesembuhan” kataku.

Lalu istrinya Kyai Askan mohon diri, aku hanya berharap semoga semua menjadikan kebaikan ke depan, walau aku tak banyak berharap. Dan memang besoknya anaknya Kyai Askan benar-benar sembuh. Tapi kemudian malah dalam pengajiannya aku di siarkan di speaker bahwa aku telah mengerjai anaknya. Ya biarlah, aku juga tak berharap pekerjaanku di nilai dengan penghargaan, kok kemudian malah membuatku karena menolong orang lain aku makin di jelek-jelekkan, mungkin akan membuatku makin meningkat derajatku di sisi Allah.

Dan saat cerita ini ku tulis, sekarang malah bukan kyai Askan saja yang memusuhiku, tapi juga istrinya, sampai berusaha dengan daya upaya, dan membakar ke sana-sini untuk menjatuhkan namaku. Tapi segala kebaikan pasti harus ada yang dengki agar kebaikan itu seperti terdorong. Dan keikhlasan manusia akan teruji, serta terukur, keikhlasan tertinggi menurut dangkalnya pikiranku adalah ketika kita telah tak merasa bahwa perbuatan baik apapun yang kita lakukan adalah perbuatan kita, tapi itu adalah perbuatan Allah, kita hanya lapangan tempat Allah melakukan perbuatan baik, bagaimana tidak, kan semua anggota tubuh yang kita punya adalah milik Allah, bahkan sebuah niat baik melakukan perbuatan baik yang menempatkan di hati adalah Allah, dan pemikiran untuk melakukan perbuatan dengan segala bentuk kejlimetan proses teorinya yang memberi ilham agar terealisasi dengan sempurna adalah Allah.

bahkan kemudian suatu perbuatan yang asalnya dalam bentuk teori dan rencana kemudian menjadi gerak dan kejadian yang mengijinkan dan memberi tempat, waktu, peluang, semua yang memberi adalah Allah, maka tak ada satupun hak kita mengakui kalau satupun adalah perbuatan kita, walau bila di lihat seperti perbuatan kita. Coba saja kalau satu saja itu merupakan perbuatan kita, contoh saja waktu, jika kita merasa itu waktu kita, maka coba hentikan waktu, berarti kita harus menghentikan semua, menghentikan waktu yang berjalan, seluruh manusia di seluruh dunia yang bergerak, seluruh jantung makhluk, dari semut, sampai hiu, manusia dan jin yang berdetak, angin yang berhembus, dari denyut nadi sampai pergerakan matahari.

Cuma mau menghentikan waktu saja begitu beragam dan majmuknya yang harus kita hentikan bersama penghentian waktu. Dan jangankan menghentikan seluruh dunia, bahkan menghentikan diri sendiri, aliran darah, degup jantung, kita tidak bisa menghentikan, apalagi harus menghentikan seekor hiu yang berenang, bukankah kita akan mati sendiri. Berarti kalau kita munafik, maka waktu itu bukan milik kita, juga kesempatan, sampai detilnya semua kejadian, hanya Dzat Yang Maha Sempurna dan tanpa cela juga kekuranganlah yang mampu mengatur.

Jadi hanya Allah yang berbuat baik, kita hanya menjadi tempat Allah melakukan perbuatan baik, karena hanya menjadi tempat perbuatan baiknya Allah, maka tak pantas kita mengharap suatu balasan dari perbuatan baik yang tak pernah kita lakukan, jika kita masih mengaku-aku, maka perbuatan baik kita itu tak ada nilai dan timbangannya. Fadholallohu ba’dokum, Allah memberi keutamaan, jadi bila keutamaan itu kita sadari dan kita yakini adalah pemberian, bukan dari daya upaya, atau kelebihan kita menjalankan laku tertentu, maka kita baru di katakan bersyukur, kalau menggunakan keutamaan atau kebisaan yang kita miliki untuk di pakai sesuai dengan guna kelebihan yang kita miliki, maka kita baru di katakan orang yang bersyukur, dan jika kita bersyukur, maka Allah akan menambahi fadhilah atau kelebihan lain yang Allah anugerahkan.

Bukan sebagai suatu alasan tertentu, tapi sebagai kewajaran kejadian, sebab sudah sunatulloh, peraturan dari Allah, bahwa kejadian atau sesuatu yang terjadi itu akan menjalar pada kejadian yang lain, makanya di katakan Lain sakartum la azidannakum, apabila kamu bersyukur maka kami akan menambahi untuk kalian, sebab sesuatu yang terjadi itu akan menimbulkan kejadian baru, dan kejadian baru itu membutuhkan kelengkapan waktu, ruang, materi pendukung terjadinya.

Contoh sepele saja, kita mau makan, jika kita pergi ke warung nasi, jika tempatnya jauh kita butuh jalan, dan jalan harus ada yang membangun, jika jalan raya, maka harus ada kerikil, aspal, kontraktor, krikil itu harus ada yang mengangkut, ada kejadian sampai terjadinya berbentuk kerikil, dan lain-lain. Jika sampai di warung, maka warung itu berdiri, harus ada yang mendirikan, di bangun dari kayu, maka harus ada kayunya, penebang kayunya, yang mengangkut, tukang kayu, dan kelengkapannya.

Contoh kita ambil jika ada tukang kayu, maka tukang kayunya harus dalam keadaan sehat, hidup, kuat, bisa menukang, punya peralatan lengkap dari ukur sampai gergaji, lalu kita ambil lagi tentang gergaji, harus ada besi, ada pembuat gergaji, ada kikir. Itu belum sampai ke nasinya, baru dalam perjalanan ke warung nasi, begitu banyak dan sambung menyambung suatu kejadian, dengan kejadian lain. Jadi kata simpelnya, jika kita melakukan sesuatu sesuai dengan cara dan teori yang benar, maka Allah akan memudahkan terjadinya pendukung lain dari yang menyangkut yang berhubungan dengan perbuatan yang kita lakukan dengan benar.

Semua di jadikan mudah, mau kemana, jalannya mulus, prosesnya lancar, tak ada macet, antara kejadian yang satu dengan yang lain sepenuhnya saling mendukung. Sebab semua seratus persen dalam kendali Allah, jika kita menjalankan sesuatu tidak sesuai aturan Allah, katakanlah menyalahi aturan yang benar, maka laingkafartum inna adzabi lasadid, jika kamu ingkar maka adzab Allah itu teramat pedih, itu juga suatu kejadian wajar, jika kesalahan satu akan menimbulkan kesalahan yang lain.

Contoh, pembangunan jalan raya, uang pembangunannya di korupsi, jalan di bangun dengan mengurangi ini itu, jalan berkuwalitas rendah, maka jalan menjadi cepat rusak, berlubang, lalu banyak terjadi kecelakaan, macet, kerusakan mobil, pemborosan bahan bakar, unjuk rasa, anarki, pengrusakan, dan terus menyambung pada kejadian-demi kejadian.

Bersambung kisah sang kyai guru bagian 34.

Whatsapp: 0852 1406 0632

Agen Bola SBOBET