Kisah Sang Kyai Guru Bagian 34 - 31 Views
Raja Remi

Sebelumnya kisah sang kyai guru bagian 33. Maghrib baru saja berlalu, selesai dzikir waktu shalat, seperti biasa aku duduk santai menikmati secangkir kopi dan rokok. Kang Din menghampiriku dengan seorang pemuda, tapi ku lihat pemuda itu wajahnya berwarna hitam.

“Ada apa kang?” tanyaku.
“Ini Yan, ada orang mau minta tolong” kata kang Din tetangga rumahku.
“Minta tolong kenapa kang?”.
“Ini teman kerja di kantorku, dia itu sakit kok aneh”.
“Anehnya di mana kang?” tanyaku heran.

loading...

“Anehnya, ini kalau istrinya melihat dia, itu melihatnya seperti kera, jadi istrinya takut, lalu kalau mau berangkat kerja kaki dan tangannya tak bisa di gerakan, jadi kayak lengket di ranjang” jelas Kang Din.
“Wah aneh juga kalau begitu”.
“Apa menurutmu sakitnya di guna-guna? atau di kerjai orang?” tanya Kang Din.
“Wah kalau itu aku ndak tahu kang”.

“Soalnya kemarin sudah di obati pakai telur, jadi telur di jalankan di gelundungkan di atas tubuhnya, dan setelah itu telurnya di pecah, dan ternyata di dalam telur ada jarumnya” jelas Kang Din.
“Terus kemarin juga di bawa ke orang paranormal, katanya dari tubuhnya di keluarkan ada paku, jarum, gumpalan tanah” jelas kang Din lagi.
“Wah aneh juga, tapi aku gak bisa ngobati kang”.

“Tolonglah di apakan gitu, kasihan dia, wong ini juga sudah di bawa kemana-mana tapi hasilnya nihil”.
“Lha apa waktu di keluarkan pakunya ndak sembuh?” tanyaku.
“Ya begitulah tidak sembuh”.

Sebenarnya seminggu silam, aku telah di beri tahu tentang orang ini yang di bawa kang Din, bagaimana cara mengobatinya maka aku tinggal mengobatinya, dengan petunjuk yang ku peroleh.

“Bagaimana Ian?” tanya Kang Din.

Sementara lelaki yang di bawa sama sekali tidak berbicara, hanya mendengarkan pembicaraan kami. Jadi aku hanya perlu mengucapkan petunjuk yang ku terima lewat mimpi.

“Masnya ini namanya siapa?” tanyaku kepada orangnya yang sakit itu.
“Saya bernama Muhajir mas” jawabnya singkat.
“Binnya siapa?”.
“bin Abdul Munir mas” jawabnya lagi.
“Yakin tidak sampean jika aku yang mengobati?” tanyaku lagi.
“Yakin mas”.
“Mau menjalankan syarat yang akan ku berikan?”.
“Siap mas, asal saya bisa sembuh, syaratnya apa mas?” tanyanya.

“Syaratnya sampean harus mengambil kelapa hijau, tapi jangan sampai kelapanya jatuh ke tanah, soal caranya itu terserah sampean bagaimana agar kelapanya tak jatuh ke tanah, entah memakai tambang atau bagaimana, sanggup?”.
“Sanggup mas”.
“Nah besok kalau sudah mendapat kelapa itu sampean bawa kemari kelapanya” jelasku.
“Ya mas, kalau begitu saya mohon diri”.
“Ya silahkan”.

Memang kadang secara logika, kadang pengobatan itu tak logis, tapi sesuatu terjadi itu tak menunggu akal kita menerima baru terjadi, tapi segala sesuatu itu terjadi karena Allah mengijini untuk terjadi, bahkan syetan saja tahu itu, makanya ketika dulu iblis mau menyesatkan anak turun Adam, dia meminta ijin dulu pada Allah, agar di beri ijin menggoda anak turun Adam, sebab jika Allah tak mengijinkan maka bagaimanapun remehnya, sesuatu tak akan terjadi.

Besoknya Muhajir datang lagi, dengan membawa kelapa hijau tiga butir, lalu ketiga kelapa hijau ku do’akan, dan yang satu ku suruh meminum, yang satu ku suruh memakai mandi, yang satu ku suruh memakai untuk mengepel rumah. Dua hari kemudian Muhajir datang di sertai istrinya, dan mengucapkan terima kasih karena istrinya tidak lagi melihat pada yang lelaki seperti melihat kera, juga penyakitnya Muhajir telah tuntas tak di rasakan lagi.

Tapi malamnya di atas genteng rumahku terdengar ledakan seperti petasan, ada beberapa kali ledakan, terjadi kira-kira jam 1 dini hari. Aku segera melepas sukma, mencari arah cahaya api dari mana datangnya, sukmaku melesat ke arah Cirebon, dan berhenti di sebuah rumah. Aku pun melesat ke dalam rumah, bau menyan serasa menyengat, dan di dalam rumah seorang lelaki berpakaian batik bertubuh pendek, tengah melakukan ritual tenung, ku buat lingkaran membentengi ruang gerak kekuatan lelaki itu, sebentuk seperti lingkaran balon tembus pandang, lelaki itu mencoba berulang-ulang mengirim santetnya, tapi selalu mental mengenai dirinya sendiri, dia heran, dan mengulangi, tapi tetap saja jarum, paku, silet yang di kirimkan tetap membalik mengenai dirinya sendiri.

“Ada apa ini? Sial siapa yang memberi pertolongan kepada sasaranku” dengus lelaki itu, aku hanya menggeleng melihat tingkah lakunya.

Lalu aku pulang ke rumah, kembali ke dalam ragaku. Aku sedang melakukan kerja sama dengan Mahmud, dia yang menanggung segala penerimaan pembayaran usaha kami, dan aku yang menjalankan usaha, di awal-awalnya pembayaran yang dia berikan lancar, tapi heran ini sudah sebulan berlalu tapi pembayaran tak kunjung dia berikan, padahal secara perhitungan bagian yang ku terima 6 juta kadang ada dalam satu minggu, sebab pendapatan memang tak pasti karena tergantung jalannya usaha yang ku jalankan. Aku mendatangi Mahmud, dia orang kaya yang banyak usahanya, ada toko elektronik, ada penjualan sepeda motor, juga usaha yang ku tak tahu apa lagi.

“Mas Mahmud, ini soal pembayaran bagian saya bagaimana kok tidak ada ku terima pembayaran” kataku ketika berhadapan dengan mas Mahmud.
“Itu Ian untuk bulan ini tak ada uang, semua uangnya habis untuk pembelian bahan” jawab dia.
“Lho bahan apa lagi, kan aku yang mengerjakan, jadi melihat beli tidaknya bahan” kataku heran dengan pernyataannya.
“Ya nyatanya uangnya sudah habis” katanya ngotot.
“Ya kalau begitu caranya, ya saya yang rugi, mana ada bekerja tidak di bayar, mana ada orang mau” kataku, karena sudah merasa di akali.
“Ya kenyataannya seperti itu, mau bagaimana lagi”.

“Sudah kalau seperti itu, kita hentikan saja kerja sama kita, sebab ini jelas merugikan saya, kalau sistimnya tidak saling menguntungkan” jelasku.
“Ya kalau sampean ingin membatalkan ya sampean tidak mendapat bagian apa-apa” katanya.
“Tak apa-apa jika saya tidak dapat apapun, dari pada nantinya kita lanjutkan saya akan makin di rugikan” kataku agak jengkel juga menghadapi orang seperti itu.

Aku pun pulang, tapi dua malam kemudian aku merasa aneh, rumahku seperti suntuk, sumpek, toko ku juga sama sekali tak ada yang membeli, bahkan satu orang pun tak ada yang membeli, seperti toko tak terlihat oleh orang yang lewat saja, dan serasa udara dalam rumah serasa suntuk. Ada apa sebenarnya, ku coba meraga sukma, melihat apa sebenarnya yang terjadi, ternyata di gaib rumahku seperti di kurung aura gelap sekali.

Kelebihan meraga sukma itu bisa melacak ke masa yang lewat, kita bisa menelusuri ke dunia masa yang lewat, tinggal meraga sukma ke waktu yang kita tuju, tapi dengan cara awal berangkat, jadi tak bisa di lakukan setelah meraga sukma, tapi bisanya di lakukan dengan tujuan waktu yang di tuju sebelum meraga sukma. Aku segera kembali ke tubuh, dan mulai lagi melacak siapa yang berbuat membuat rumahku di lingkupi aura hitam, segera sukmaku melesat ke arah waktu dan tempat, dimana Mahmud dan istrinya sedang duduk di hadapan seorang dukun, dan sedang mengerjai rumahku.

Aku jadi tahu, kenapa Mahmud tak mau membayar pembagian uang kerja sama kami. Aku kembali lagi ke tubuhku. Dan besoknya meminta seseorang untuk memperingatkan kepada Mahmud, supaya menarik kekuatan jahat yang di pakai untuk mengganggu rumahku. Eh malah Mahmud marah-marah, dan malah menuduhku memakan uangnya, mencuri uangnya. Aku berusaha sabar, tapi anehnya, setelah mahmud menjelek-jelekkanku, ada seorang gila yang meminta rokok.

Sebenarnya di dekat Mahmud ada banyak orang, tapi yang di mintai kok kebetulan Mahmud, dan Mahmud tak memberi lalu orang gila itu marah dan memukul Mahmud, di pukul sampai giginya lepas tiga. Aku tak perduli pada cerita orang yang ku suruh, soal orang gila yang memukul Mahmud itu, aku meminta pada orang yang ku suruh memperingatkan Mahmud lagi, agar menarik kekuatan jahat yang di kirimkan ke rumahku itu, sampai peringatan yang ku berikan telah tiga kali. Lalu aku berinisiatif mengembalikan kekuatan jahat kepada pengirimnya.

Malam itu telah ku rencanakan untuk mengembalikan semua kekuatan jahat pada Mahmud. Maka aku duduk bersila menghimpun semua dzikir, meminta pada sang pemberi kekuatan yaitu Allah, lalu setelah semuanya kekuatan terkumpul, bumi ku gedor, serasa pusaran kekuatan dasyat membuyarkan kekuatan yang melingkupi rumahku, dan terdengar jerit

“Ampun! Ampun” dari puluhan jin yang dikirim ke rumahku.

Segera ku lepas sukma, karena memburu, bicara dan menangkap jin dengan badan wadak tanpa mediator amatlah sulit, sementara aku sendirian, aku melompat, dan menghadang berbagai jin yang mencoba lari dari gebahanku, yang paling tinggi berbentuk raksasa dan berbadan hitam ku hentikan, dia langsung menekuk tubuh sujud minta ampun, padahal tanganku sudah ku isi cahaya dari ya latif, sehinga berwarna putih keperakan, jika ada yang melawan, aku sudah siap meleburnya lumer menjadi cairan.

Tapi ternyata tak ada yang melawan, semua langsung bersimpuh takluk, aku melayang menunggu, semua terdiam. Ada tiga belas jin, beberapa berbentuk cebol kecil, dengan telinga lancip dan dagu kecil serta tubuh katai, yang paling aku perhatikan adalah yang bertubuh tinggi, mungkin tingginya ada lima meteran, tubuhnya hitam legam, dan tak memakai pakaian sama sekali, tapi tubuhnya di penuhi bulu.

“Kalian tahu kesalahan kalian?” tanyaku, ku buat kereng.
“Ampun, ampun, kami hanya di perintah!” kata jin yang bertubuh besar, dan berbibir tebal.
“Aku tahu kau dan teman-temanmu hanya di perintah, maka dari itu, aku ingin kalian kembali pada yang memerintah” kataku.
“Kami tak berani” kata jin yang bertubuh besar.
“Hm, kalau begitu, kalian tahu apa yang ada di tanganku ini? Jika ku hantamkan kalian, apa yang terjadi” kataku mengancam.
“Ampun” kata semua serentak, dan bersujud-sujud.

“Bagaimana, apa kalian mau kembali ke pengirim kalian, atau kalian memilih lebur musnah” kataku sambil menambah konsentrasi lafadz ya latif ke tangan kananku, sehingga warna terang keperakan makin menyala.
“Baik, kami akan kembali kepada pengirim kami, lalu apa yang harus kami lakukan?” kata jin yang bertubuh besar.
“Kalian lakukan saja apa yang pernah di perintahkan oleh pengirim kalian kepada kalian, untuk melakukan sesuatu hal buruk padaku, nah kalian sanggup kan?”.
“Ya kami sanggup” jawab mereka serempak.
“Nah sekarang kalian boleh pergi” kataku sambil menyingkir.

Dan semua jin kemudian beranjak pergi, akupun kembali pada raga yang ku tinggalkan. Yang terjadi kemudian sungguh membuatku amat tercengang. Pertama yang terjadi rumah Mahmud jadi angker, istri dan anaknya takut tinggal di rumah, sehingga minta pulang ke rumah istrinya. Bahkan orang yang lewat di sekitar rumah Mahmud pun jadi takut lewat samping rumah itu.

Jika malam kadang terdengar suara seram, kadang terdengar tembok di gedor-gedor, berbagai paranormal sudah berulang kali dan berganti-ganti di datangkan untuk membersihkan rumah itu, tapi ujung-ujungnya, kalau tidak pingsan ya lari kabur dari rumah itu. Entah bagaimana prosesnya, Toko Elektroniknya Mahmud kesandung masalah, dan semua Elektronik disita oleh pihak yang juga telah bekerja sama dengan Mahmud. Juga Dealer motor, juga kesandung masalah, sampai kemudian ketahuan kalau Mahmud banyak menanggung hutang pada Bank.

Dan rumah yang pernah di tinggalinya di tawarkan mau di jual seratus lima puluh juta, tapi orang hanya mau menawar seratus juta, beberapa hari kemudian akhirnya Mahmud mau menjual rumahnya seharga seratus juta, tapi yang menawar hanya berani lima puluh juta, Mahmud tak mau, tapi beberapa hari kemudian dia mau menjual rumahnya lima puluh juta, tapi yang menawar hanya mau dua puluh lima juta, begitu terus terjadi, sampai akhirnya rumah terjual tiga juta, dan itupun setelah ada perjanjian Mahmud akan merobohkan rumahnya sendiri.

Dan bukan cuma sampai di situ, istri mahmud minta cerai, dan anak-anaknya tak ada yang mau tinggal dengannya, Mahmud tinggal di bekas kandang sapi tetangganya. Semua itu terjadi dalam masa cuma tiga bulan, aku membayangkan bagaimana jika seandainya hal itu menimpa diriku dan keluargaku. Kadang aku sendiri merasa kasihan dengan keadaan Mahmud, tapi seandainya tidak begitu pasti yang dia lakukan pada orang lain tak akan berhenti, dan sampai pada diriku pasti orang sebelum diriku yang di kerjai Mahmud sudah banyak korbannya, dan pas kebetulan dia ketemu batunya.

Segala perjalanan apapun yang terjadi, maka itu tak ada artinya jika kita tidak bisa mengambil sebagai pelajaran, menyerap kandungan hikmah apa yang tersimpan di dalamnya. Sehingga segala keputusan dan apa yang seharusnya di lakukan ketika menghadapi hal yang sama. Begitu juga bagi diriku sendiri, apapun yang di hadapi, kepanikan sekali-kali bukan jalan keluar, ketenangan mengambil sikap, akan menghasilkan keputusan yang terbaik.

Jika kita menyandarkan diri pada Dzat yang paling kuat yaitu Allah, maka kita akan menjadi kuat. Dan jika kita menyandarkan pada selain Allah, siapapun selain Allah itu pasti mati, terhalang, tak ada manusia atau apapun ciptaan Allah itu sakti, dan punya kelebihan kecuali Allah yang memberi kelebihan, seperti burung yang terbang, atau ikan yang tahan di dalam air.

Bersambung kisah sang kyai guru bagian 35.

Whatsapp 085214060632

Agen Bola SBOBET