has write 15 articles | You are reading: Kisah Sang Kyai Guru Bagian 4 - 145 Views

Sebelumnya kisah sang kyai guru bagian 3.

“Aku selalu mendoakan ibu”.
“Tapi doamu tak sampai, kenapa kau tak masuk agama Muhammad, aku tak kuat lagi di siksa”.
“Mama, huhu” Evo masih menangis.
“Aku pergi anakku, masuklah agamanya Muhammad”.

Tiba-tiba tubuh Jauhari melemah, dan ambruk.

“Mama, mama jangan tinggal Evo ma. Mama.” Evo menjerit lalu tubuhnya gelosor pingsan lama Evo pingsan, sementara Jauhari telah lama sadar, tapi masih kelihatan bingung, kayak orang habis di nyalain petasan tepat di depan hidungnya.

Sementara setelah Kyai menyalurkan tenaga prana dari jauh, Evo mulai bergerak-gerak sadar, karena peristiwa itu Evo kemudian masuk Islam, mempelajari doa anak kepada orang tuanya. Setelah shalat ashar, keluarga Evo meninggalkan pesantren, wajah Evo sudah tak sedih lagi, nampak jelas ada gurat-gurat harapan yang kuat di dasar hatinya, sehingga wajah cantiknya berpendaran.

Belum sampai setengah jam mobil Evo dan keluarganya pergi, datang lagi dua mobil, satu mobil toyota model lama, satu lagi mobil sedan polisi. Setelah mobil itu parkir, orang-orang yang ada di dalam mobil segera keluar, dari mobil toyota kijang, nampak keluar dua lelaki satu berperawakan sedang bajunya warna coklat susu, umurnya sekitar empat puluhan tahun, orang ini bernama Setiono, sering dipanggil pak Nono, adalah kepala desa Pasir Seketi.

Yang keluar dari mobil bersamanya adalah carik Sanusi, orangnya berperawakan tinggi gagah, kumis melintang sangar. Sementara mobil yang satu lagi adalah mobil polisi, berisi tiga orang polisi. Kelima orang itu segera menemui Kyai di rumahnya. Aku tak mengerti masalahnya, sampai Kyai memanggilku, karena aku sedang masak di dapur menyiapkan makanan untuk berbuka puasa. Merebus singkong, dan membakar ikan asin. Bau ikan asin yang terbakar segera memenuhi udara, memanggil cacing dalam perut bergerak-gerak sehingga menimbulkan suara berkerutan, rupanya bau ikan asin pun sampai ke rumah cacing-cacing dalam perut itu.

“Feb, di panggil Kyai” suara Majid yang wajahnya melongok dari balik gedek yang sebatas dada, pemisah dapur dengan dunia luar, yang memanggil Feb cuma Majid, dia adalah teman sekolahku di SMA. Karena tahu aku di pesantren lalu dia menyusul, Majid sama denganku dari Tuban cuma beda kecamatan, dia dari Bangilan, perawakannya biasa malah agak pendek, tingginya setelingaku, wajahnya paspasan, ganteng kagak, jelek dia, karena wajahnya berlubang-lubang bekas jerawat batu, tapi memang hobynya mencet jerawat, kalau sudah mencet jerawat, maka dia akan berusaha sekuat mungkin supaya jerawat itu kena, kalau sudah kena, senangnya seperti mendapatkan harta karun terpendam.

“Gantiin di dapur ya?”.
“Sudah sana, biar aku yang ngurusin”.

Akupun melangkah meninggalkan dapur menuju tempat Kyai menerima tamu. Nampak di situ juga Mujaidi, rupanya di panggil juga, Mujaidi adalah santri dari Bekasi. Sebenarnya awalnya bukan santri, tapi berobat karena kecanduan narkoba, setelah sembuh, kemudian memutuskan menjadi santri.

Mujaidi perawakannya tinggi kurus, aku saja sepundaknya, umurnya masih delapan belasan, bibirnya tebal hitam, sering sariawan, lalu di kelotoki kulitnya, wajahnya agak lonjong, sama dengan Majid, wajah Mujaidi juga berlubang-lubang karena bekas jerawat batu, hobinya sama dengan Majid, memenceti jerawat, kalau Mujaidi sudah memenceti jerawat maka dia akan lupa waktu, lupa makan, bedanya dengan Majid kalau Majid mencet jerawatnya kalau sudah meletus, bekas letusannya di usap-usapin ke tembok, tapi kalau Mujaidi lebih profesional mencetnya saja dia pakai kain, sehingga kalau jerawatnya meletus, letusannya tak kemana-mana, kainnya juga di basahi cairan antiseptic.

Peralatan pencet memencet jerawat milik Mujaidi juga lumayan lengkap. Yang aku pernah lihat, ada batu kali, manfaatnya adalah kalau batu di jemur di matahari, dan setelah panas maka di tempelkan, ke jerawat yang belum matang, maka akan segera matang, ada lagi amplas nomor 2000, gunanya untuk mengamplas tempat jerawat yang terlalu dalam. Ada juga jarum jahit, untuk ngorek-ngorek jerawat yang sudah terlalu berakar. Aku segera duduk di sebelah Mujaidi, yang melemparkan senyumnya kena mataku,

“Mas Ian” kata Kyai.
“Iya Kyai”.
“Entar malam, bareng Mujaidi ikut ronda sama orang Pasir Seketi. Mereka membutuhkan bantuan kita, untuk menangkap pencuri yang meresahkan warga”.

Aku pun mengiyakan, sambil melirik Pak Lurah dan rombongannya. Maka setelah shalat maghrib, dan menjalankan wirid wajib, aku dan Mujaidi pun berangkat setelah berpamitan kepada Kyai. Gelap mulai merayap, kampung Pasir Seketi dari pesantren jaraknya kira-kira empat kiloan, cuma harus melewati hutan kopi yang panjang serta grumbul-grumbul yang gelap mengerikan, tapi kami menganggapnya biasa, karena memang kami biasa hidup di alam bebas. Jam delapan lebih kami tiba di desa Pasir Seketi. Di hadang pemuda-pemuda desa yang membawa golok arang.

“Siapa?” tanya pemuda gempal memakai topi coklat. Di belakangnya berdiri pemuda yang lain siaga.
“Aku Ian” jawabku keras untuk menghilangkan kecurigaan. Dan rupanya pemuda itu mengenaliku.
“Oh mas Ian, ayo mas ke rumah Pak Lurah, Pak Lurah sudah menunggu, tadi berpesan kalau mas Ian datang supaya langsung di bawa ke rumah” kata pemuda itu seraya menggandengku.

Di ikuti oleh anggukan hormat dari sepuluh pemuda, di mata mereka memancarkan kekaguman ketika memandangku dan Mujaidi. Memang kisah pesantren kanuragan Pacung, lereng gunung Putri, sudah menjadi buah bibir, tentang Kyai dan santrinya yang sakti-sakti, itu membuatku bangga sekaligus takut, takut suatu saat cerita mereka terbukti, dan kami tak sakti, lemah, tentu akan kecewa mereka dan nama pesantren Pacung hanya isapan jempol belaka. Kami bertiga sampai di rumah Pak Lurah, dan memang di serambi depan Pak Lurah telah menunggu kedatanganku. Melihatku dan Mujaidi datang, Pak Lurah segera menyongsong kedatanganku.

“Ah saya sudah berharap-harap cemas, jangan-jangan nak mas Ian gak datang, mari-mari″ kami di ajak masuk ke dalam rumah dan duduk di kursi.

Sementara di meja terhidang beraneka macam buah, gorengan, dan entah makanan apa lagi, aku yang tiap hari makan singkong rebus, tentu ingin mencicipi buah semangka yang telah di potong-potong warnanya ada yang kuning dan merah. Aku melirik Mujaidi, tentu dia juga merasakan apa yang kurasakan, oh benar sekali, kulihat jakunnya naik turun amat cepat. Karena ludah yang di telannya, dan tanpa sadar dia mengulurkan semangka kuning, aku menyodok kakinya dengan kakiku.

Kebetulan Pak Lurah ke dalam sebentar, memanggil istrinya, dan anaknya di minta menyediakan minuman, semangka kuning yang telah di tangan Mujaidi, segera cepat di lahap, ketika Pak Lurah keluar, semangka itu telah hilang termakan tak tersisa sampai kulit-kulitnya. Pak Lurah keluar bersama istri dan anak perempuannya, sambil membawa minuman di nampan.

“Ini lo bu murid dari Pesantren Pacung, anak-anak muda yang sakti-sakti″ terdengar suara Pak Lurah yang benar membuat aku jengah, serba salah, tapi aku berusaha bersikap wajar.

Anak Pak Lurah bernama Anggraini, wajahnya ayu wajah polos anak desa, tapi aku kaget ketika Anggraini meletakan minuman matanya mengerling, bagaimanapun aku lelaki normal wajarlah kalau berdesir hatiku. Setelah kenal-kenalan, istri dan anaknya Pak Lurah ke dalam, tinggal aku, Mujaidi, dan Pak Lurah. Sementara satu pemuda dan dua orang desa yang sebelumnya menemani Pak Lurah telah melanjutkan ronda. Aku melanjutkan pembicaraan sambil sekali-kali mencicipi tahu isi dengan cabe kesukaanku.

“Sebenarnya ada pencurian yang bagaimana sih pak, kok sampai meminta bantuan Kyai?”.
“Begini lo nak mas Febri,” Pak Lurah mulai bercerita, setelah menarik napas panjang.

“Desa Pasir Seketi adalah desa yang damai, tak pernah ada pencurian, kehilangan. Sampai satu hari. Anak perawan desa ini ada yang hilang, namanya Nining. Sehari dua hari Nining tak muncul, kedua orang tuanya menyangka Nining pergi ke kota menyusul abangnya yang bekerja di Jakarta, jadi orang tuanya kemudian menghubungi abang Nining yang ada di Jakarta, tapi abangnya mengatakan, Nining tidak menyusul ke Jakarta, semua orang bertanya lalu kemana Nining, sampai seminggu kemudian tubuh Nining di temukan di sungai pinggir desa sudah tak bernyawa.

Semua orang geger, siapa yang tega melakukan kekejian seperti itu? Setelah di periksa forensik ternyata Nining di perkosa sebelum di bunuh, Polisi berusaha menyelidiki tapi hasilnya tak ada. Pembunuh Nining tak bisa di temukan. Sampai sebulan kemudian, lagi-lagi Melati perempuan desa ini pun menghilang, malah menurut ibunya Melati malam itu menghilang dari kamarnya, karena memang jendelanya terbuka, seluruh desa telah di ubeg-ubeg tapi Melati tak di temukan, sampai seminggu kemudian mayatnya di temukan di sungai dulu Nining di temukan. Ini jelas bahwa penjahat yang menculik adalah penjahat cabul belaka. Tapi kami tak tahu bagaimana dia beraksi” Pak Lurah berhenti bercerita.

Dia mengambil rokok Dji sam soe dan menyalakannya, aku dan Mujaidi pun ikut-ikutan mengambil rokok dan menyalakannya, selama ini kami ngerokok tingwe alias ngelinteng dewe. Itu pun tembakau puntung, maka rokok Dji sam soe terasa nikmat sekali, asap mengepul-ngepul bergulung. Pak Lurah melanjutkan ceritanya.

“Kami tak mau kecolongan lagi, maka perondaan di tingkatkan, di bantu para Polisi, sampai seminggu yang lalu, kami meronda, salah satu rombongan peronda melihat bayangan dalam gelap malam, “berhenti!” tapi bayangan itu, malah berlari, dan ternyata menggendong karung di pundaknya, tak salah lagi, penculik, sebagian rombongan segera mengejar, yang lain memukul kentongan memanggil bantuan, semua orang berlarian ke arah suara kentongan, dan setelah tahu semua mengejar, saat itu Pak Lurah sendiri dan tiga Polisi ikut mengejar.

Betapa saktinya orang itu, dengan masih menggendong orang yang di culiknya dia melesat meloncati pagar meloncat ke wuwungan atap rumah, lalu meloncat ke atap yang lain, Polisi mau menembak tapi takut mengenai perempuan yang di panggul, lalu penculik itu berhenti dan menoleh, seperti mengejek. Lalu melesat cepat, dan hilang di telan gelap malam. Tempat sekitar penculik itu menghilang sudah kami aduk-aduk tapi kami tak menemukan apa-apa, dan yang hilang kali ini gadis bernama Tunik, seminggu kemudian kami menemukan nyawa Tunik di buang begitu saja di sungai ujung desa. Maka setelah kami adakan rapat, kami memutuskan meminta bantuan Kyai Lentik” belom lagi Pak Lurah menyelesaikan ceritanya, tiba-tiba terdengar jeritan istri Pak Lurah dari dalam.

“Anggraini! Anggraini pak” Pak Lurah segera lari ke dalam, aku dan Mujaidi segera mengikuti, nampak bu Lurah menangis.
“Anggraini hilang pak”.
“Hilang gimana?”.
“Tadi di kamar, sekarang nggak ada”.
“Sudah di cari kemana-mana?″.
“Sudah pak tapi kagak ada”.

Tiba-tiba di tabuh kentongan bertalu-talu. Aku segera menghambur ke arah suara kentongan, di susul Mujaidi.

loading...

“Kejar, penculik tangkap!”.

Aku berlari cepat, Mujaidi menyusul di belakangku, orang berserabutan mengejar. Tubuhku terasa ringan, aku dapat menyusul yang lain, malah aku tak sadar ada paling depan di antara pengejar. Kulihat bayangan meloncati sebuah pagar, di pundakya kelihatan karung, tentunya berisi, ah pasti Anggraini, aku makin cepat mengejar, semangat, meloncati pagar, meloncati sungai kecil, menerobos kebun pisang. Aku berhenti membungkuk mengatur napas, mengusap keringat yang membasahi jidatku. Aku baru sadar kalau aku sendiri, kemana yang lain, aku tengak tengok tak ada orang, yang lain pada kemana, tapi aku tadi benar-benar melihat orang itu lari ke sini, dengan sinar bulan yang seperti kuku, kucoba mengenali tempat sekitarku.

Perlahan pandanganku mulai jelas. Kuburan. Benar tempat ini kuburan, mungkin pemakaman orang desa Pasir Seketi, tapi semakin ku perhatikan ini pemakaman tua, terlihat yang tak begitu terurus, dan batu nisannya dari batu yang menyerupai batu candi, semua hitam berlumut. Segala pohon melintang kesana kesini, rumput setinggi lutut, pohon besar di tengah pemakaman, sungguh tempat yang angker, mungkin dulu aku kalau tidak di gembleng Kyai mengitari pulau Jawa dan tidur di sembarang tempat yang lebih seram dari tempat ini, tentu aku akan takut.

Aku melangkah berhati-hati sambil kaki meraba-raba, sekali waktu mataku menengok ke arah aku datang mengharap ada yang menyusulku, tapi keadaan teramat sepi, aku mau memutuskan tuk kembali, tiba-tiba terdengar, suara daun kering terinjak.

“Siapa?” kataku, tak yakin. Muncul di depanku bayangan manusia, pakaiannya hitam-hitam dan memakai penutup wajah hitam.
“Heh cuma mas Ian ha ha ha” suara orang itu dan bentuk tubuhnya yang tinggi besar, aku seperti pernah mengenalnya.
“Hah kau penjahat cabul” kataku sambil masih tengak tengok, mengharap orang yang datang.

Sebab kalau sampai aku berhadapan dengan lelaki ini sendirian bisa berabe. Apakah begini rasanya kalau mau berkelahi, tubuh gemetar. Bagaimana aku menghadapi orang ini, kulihat tubuhnya tinggi besar, berotot, kalau di bandingkan denganku tubuh kecil ceking, tangan kecil kurang gizi, jangankan berkelahi salaman saja kalau tanganku di remasnya tentu seperti meremas kobis. Apalagi sampai berantem, aku takut membayangkannya.

Terus terang selama ini belum pernah aku berkelahi, pernah juga mau berkelahi, waktu aku kelas SD, kelas dua, kursi yang ku tempati di tempati sama anak lain, lalu ku suruh dia pergi, tapi tak mau malah ngajak berantem, lalu dia memegang hidungku, akupun menangis sekencangnya. Tanpa sadar ku pegang hidungku yang mancung. Wah bagaimana kalau nanti hidungku di pukul sampai patah, pasti tak bisa ku banggakan lagi, apalagi kalau sampai aku mati.

Ah aku kan masih punya hutang sama teh Ipar, warung yang dekat pondok, apa aku lari saja ya, eh pembaca jangan mengira aku ini pengecut, aku lari cuma mau bayar hutang, apa aku jujur saja ya sama orang di depanku. Aku pergi dulu bayar hutang, nanti balik ke sini, dia bisa tunggu sambil ngerokok-ngerokok, kuraba sakuku, tadi sebelum pergi aku sempat menyambar rokok Dji sam soe yang ada di meja pak Lurah, tapi alangkah kecewaku, rokokku hilang pasti terjatuh saat kejar-kejaran tadi, ah pupuslah harapanku, tapi kalau dipikir-pikir kalau untuk bayar hutang saat ini aku sendiri tak punya uang.

Eh kamu jangan hiha-hihik kalau baca, pasti kamu mengira aku pengecut, benar aku mau bayar hutang tak bermaksud lari, ini pilihan sulit tak seperti yang kau kira, aku hanya takut kalau mati masih menanggung hutang. Dan aku tak takut berkelahi, soal aku di terminal Pulogadung di todong preman kemudian semua uangku di minta lalu ku berikan, itu memang karena aku tak mau berkelahi dan tak suka berkelahi, kalau mau orang di depanku ini, dari pada berkelahi mending main gaple, atau skak, atau macan-macanan, atau yang lebih gampang lagi, suit.

Yang kalah harus mengakui kalah, jadi gak ada yang terluka, eh pembaca jangan ketawa-ketawa saja, aku tahu kalian menganggapku pengecut, lagian kalau aku mati, kalian kan gak tahu kelanjutan cerita ini, oke aku ngalah memang aku pengecut, lalu kalian mau apa? Bingung, terjadi pergolakan dalam pikiranku. Ah aku masih berharap ada pemuda kampung yang datang kesini membantuku, repotnya kalau menjadi orang sudah terlanjur di anggap sakti, keringat mengucur, dari semua pori-pori tubuhku, bahkan punggungku basah.

Padahal udara sangat dingin sekali. Sesaat hatiku lega, ketika kulihat bayangan mendekati. Tempat aku dan orang bertopeng itu berhadapan. Tapi rasa legaku segera sumpek lagi, karena yang datang ternyata Mujaidi, wah sama saja, parah. Bisa tambah runyam ini urusan. Gimana gak runyam, Mujaidi ini lebih pengecut lagi, mungkin embahnya pengecut. Sama ulat saja takut, jangankan ulat, di tubuhnya di rambatin kecoak saja gindrang-gindrangnya saja tak henti, merinding terus.

“Hua-ha-ha, rupanya pendekar dari pesantren Pacung lagi yang datang, sungguh bangga bisa bertarung dengan orang gagah” kata orang bertopeng itu dengan nada menghina, mungkin dia sudah tahu kalau kependekaran kami cuma cerita saja.
“Heh Muja, kenapa kamu kesini?” tanyaku berbisik, setelah dia ada di dekatku.
“Aku cuma ngikuti mas Ian, soalnya tadi arah larinya kesini. Dia tuh siapa mas?”.
“Ya ini orangnya yang suka nyulik gadis”.
“Waduh bahaya kalau begitu mas, mending lari saja mas” Mujaidi beringsung sembunyi di belakangku, itu sudah aku kira, jadi aku tak terkejut melihat tingkah Mujahidi.

Lalu bisikku, “eh apa enggak perlu pakai alasan?”.
“Ya enggaklah ya lari, lari saja” aku baru saja mau menyetujui usul Mujaidi, tiba-tiba orang bertopeng itu telah bicara,
“Ah jangan banyak bacot, terima seranganku” kaki orang itu lurus menendang ke perutku, gerakannya begitu cepat. Ngehg! Perutku kena tendangan telak.

Aku tak sempat lagi mengelak, atau lebih tepatnya tak tahu cara mengelak, karena memang tak tahu bagaimana bertarung, perutku mulas bukan main, tapi aku masih untung jatuhku menimpa Mujaidi yang ada di belakangku. Aduh perutku mulas banget. Ah mungkin bisa jadi alasan aku buang air besar dulu, tapi setahuku dalam cerita silat tak ada yang menghentikan pertempuran untuk buang air besar dulu, apa nanti tak malu-maluin. Tiba-tiba *bruuuet! Angin keluar tanpa bisa kucegah lagi, Mujaidi mendorongku, “ah kentut, beuh baunya seperti kentut genderuwo” Mujaidi memegangi hidungnya seakan-akan yang kukentuti hidungnya. Dia berbangkis-bangkis. Aku segera berdiri, setidaknya mulas di perutku berkurang.

Tiba-tiba kudengar bisikan halus di telingaku, jelas aku tahu itu suara Kyai. “Mas Ian, baca Basmalah” panas seperti balsem cap lang, mengalir deras ke setiap urat-uratku, mengalir ke ujung jari kaki tangan dan kakiku. Sehingga tubuhku makin lama makin ringan, dan kakiku serasa tak menapak lagi ke bumi, mengalir ke kepala sehingga mataku makin lama makin jelas melihat, tempat ini pun menjadi seperti siang di penglihatanku. Bahkan seekor nyamuk yang terbang kian kemari tampak nyata sekali, suara nyamuk yang hinggap pun terdengar kakinya menapak di nisan. Aku tak tahu apa yang terjadi denganku, hawa yang mengalir dari pusarku masih terus mengalir.

“Huahaha, pendekar, jawara tai ayam, curot, murid pesantren Pacung tak ada isinya” suara orang bertopeng itu memecahkan sunyi yang menyelimuti pemakaman tua itu.
“Mati saja kalian.” setelah mengatakan itu tubuh orang itu berkelebat. Kaki di hantamkan lurus ke arahku, kaki satunya menekuk. Tapi di pandanganku serangan itu seperti film dalam gerakan lambat.

Tiba-tiba kurasakan ada tenaga dari dalam tubuhku. Aku menyamping, kaki yang menderu ke arahku, ku cengkeram dan ku tarik sehingga lelaki itu terlempar mengikuti tendangannya. Dan tanganku menelusup menghantam lehernya dengan pergelanganku. Hugh! Tubuhku terseret oleh tubuhnya, kaki kiriku yang terangkat segera memalu belakang kepalanya sementara tanganku menarik lepas kain penutup kepalanya, dan bret! Aku kaget bukan main.

“Hah carik Sanusi!” orang yang menjadi maling para gadis itupun kaget, tutup wajahnya lepas.

Lebih kaget lagi dia tak menyangka akan seranganku. Cepat beruntun, telak, aku sendiri kaget, dan tak tahu apa yang menimpaku sehingga mampu menyerang begitu jurus yang kupakai seperti jurus tai chi. Mujaidi juga terlongo-longo menyaksikan sepak terjangku.

“Setan alas. Bajul buntung, tai kebo, jiampot, rupanya punya simpanan hah” umpat carik Sanusi panjang pendek, lalu segera mencabut goloknya.

Aku pun segera mencabut golokku. Golokku ini di bilang golok biasa ya memang golok biasa, karena sering kupakai memotong kayu bakar. Soal kesaktiannya sudah tak terhitung berapa nyawa ayam termakan ketajamannya. Golok ini pemberian Kyai, karena memang aku tak punya uang untuk membeli golok, golok ini bergagang kayu sawo kecik, di buat oleh orang Ciomas. Kampung pembuat golok paling punya nama di tlatah Banten.

Sebelum membuat golok besi di tancapkan di tanah pada waktu bulan purnama, dan baru di ambil bulan purnama kemudian, sehingga besinya menjadi besi kuning tahan karat dan tua. Ilmu kekebalan yang bagaimanapun akan terluka tersentuh golok ini, karena di isi oleh Kyai. Tapi aku tak mau terbawa oleh cerita mistik tentang golok, makanya golok ini kubuat bekerja di dapur.

Bersambung kisah sang kyai bagian 5.

Facebook: pernah muda
Whatsapp: 0852 1406 0632

Agen Bola SBOBET