has write 52 articles | You are reading: Kisah Sang Kyai Guru Bagian 40 - 169 Views

Sebelumnya kisah sang kyai guru bagian 39. Mobil melaju dengan kencang, penunjuk kecepatan sampai mentok, yang ku suka di Saudi adalah tak ada macet, jalan lurus, dan tak banyak belokan, dan tak ada jalan tol, semua jalan lebih tol dari jalan tol di Indonesia. Jika bicara jujur, memang pemerintah Saudi yang kenyataan tanahnya tandus, keunggulan melebihi Indonesia, dari yang tak ada korupsi, mobil murah karena tanpa pajak, BBM juga seReal dapat dua liter, berarti seliter kalau di hitung rupiah cuma seribu dua ratus rupiah, tak ada cerita pom bensin di jaga polisi, juga tak ada polisi cepek di jalan, orang paling miskin dan udik saja punya mobil, apalagi orang kaya.

Pemerintah Saudi memang sangat perhatian sama rakyatnya, tak ada dan tak mungkin orang luar bisa usaha atau membuka usaha di Saudi tanpa menggunakan nama kepemilikan orang asli Saudi, tak bisa orang luar bebas mempunyai tanah atau usaha. Sebab Raja tak mau rakyatnya di jajah bangsa asing, yang hebat semua orang mempunyai ATM, dan uang dari pemerintah langsung sampai ke tujuan orang yang akan di beri, tanpa melewati siapapun.

Pas bulan puasa, jadi banyak orang yang pergi umroh, di jalan kami temukan banyak rombongan keluarga. Malam makin larut, mobil taksi masih melaju, tiba-tiba ban meletus, untung mobil langsung keluar dari jalan raya, dan di tepi jalan hanya pasir, dan untungnya juga pas di dekat kami ada bengkel penggantian ban, di Saudi itu tak ada tukang tambal ban, adanya bengkel penggantian ban, jika ban kempes, lansung di ganti yang baru, dan hebatnya penggantian semua dari pencopotan baut sampai pelepasan ban semua memakai mesin otomatis, jadi pencopotan sampai ban terganti ban baru waktunya paling enam menit, malah Muhsin yang ke kamar kecil, kedahuluan ban terganti dan mobil siap jalan.

Di Saudi juga kepentingan rakyat soal jalan amat di perhatikan oleh pemerintah, dari banyaknya gunung yang di-bor untuk jalan tembus menjadi terowongan di lambung gunung tak terhitung, sehingga jalan bisa di perpendek tak perlu mengitari gunung, dan jalan mulus, lancar, bagus, tapi tak ada jalan tol, tak ada tarikan sana-sini, jalan antar kota, bisa ngebut sengebut-ngebutnya, tak pakai macet sama sekali.

“Ini ada dua orang TKI yang datang dari Indonesia, asalnya melalui bandara Riyad, tapi di alihkan ke bandara Jeddah” kata Muhsin.
“Kok bisa begitu?” tanyaku heran.
“Iya soalnya ini berbarengan banyak orang umroh di bulan puasa, baiknya bagaimana mas?” tanya Muhsin.
“Terus ada penjemputan dari pabrik tidak yang di Jeddah?”.
“Tidak ada mas, ya harus naik bus sendiri dari Jeddah”.

“Wah kalau seperti itu ya repot, TKI itu pasti tak punya uang real kan?”.
“Iya juga mas, makanya aku bingung”.
“Punya teman gak yang di Jeddah? Yang agak dekat bandara?” tanyaku.
“Ada sih mas, coba ku hubungi”.
“Iya baiknya begitu, suruh dia membelikan tiket bus ke Jizan, pasti dua TKI itu juga belum bisa bahasa Arab, beli tiket sendiri pasti juga tak bisa”.
“Iya mas” jawab Muhsin, yang menghubungi temannya lewat ponsel.
“Sudah mas, temanku sudah sanggup menjemputnya ke bandara, dan membelikan tiket, nanti biar tiketnya di ganti sama perusahaan”.
“Ya sukur kalau begitu, moga saja ndak ada halangan”.

Jam delapan pagi kami sampai di Yu lam-lam, dan berganti pakaian umroh, di kamar mandi antrian sampai panjang, harus sabar, kekurangan Saudi mungkin tak ada WC yang membayar seperti di Indonesia, karena tidak bayar, maka WC jadi tidak ada yang membersihkan, sepanjang jalan semua WC kotor banget, bahkan tak di siram, atau dalam keadaan tersumbat, jadinya ngeri kalau ke kamar kecil, jadi harus nahan selama perjalanan.

Ya semua yang gratis memang tak selamanya baik, jika mungkin berbayar, WC jadi ada yang membersihkan. Sampai di Masjidil Haram kami segera towaf, dan cepat-cepat menjalankan rukun umroh, sebab setelah shalat jum’at rencana langsung pulang kembali ke pabrik, karena mengejar waktu dengan kembali bekerja besok paginya. Selesai sa’i aku cepat-cepat ke tempat di mana kami janjian, jika kami terpisah maka selesai menjalankan ibadah kami akan ketemuan di depan toko asir, tapi semua tak ada, aku menunggu sambil duduk melepas lelah, sebentar kemudian Munif nongol.

“Ian dah selesai?” tanyanya tiba-tiba di sampingku.
“Sudah tinggal potong rambut.” jawabku.
“Ini ada gunting, biar ku potong sedikit rambutmu, sebagai sarat saja” kata Munif mengeluarkan gunting dari tas pinggangnya.
“Iya ini potongin. Tadi pisahan sama Muhsin di mana?” tanyaku sambil membiarkan rambutku di potong Munif.
“Ya tadi waktu towaf putaran ketiga, tapi kok tadi ponselnya di titipkan ke aku” jawab Munif sambil merapikan potongan rambutku.

“Lhoh gimana to, ya kan seharusnya ponsel di bawa sendiri-sendiri, la kalau pisahan kita ndak ketemu gimana?” tanyaku kaget.
“Ndak tahu tadi ponselnya di titipkan, ini ponselnya” kata Munif sambil mengeluarkan ponselnya Muhsin.
“Waduh, gimana ini, la dia mau ngehubungi kita pakai ponsel siapa?”.
“Lha kamu juga mau to Nif di titipin ponsel, harusnya kamu jangan mau”.
“Ya pikirku di titipin ponsel juga gak berat-berat amat, kenapa gak mau”.

“Yo bukan masalah beratnya to Nif, la kalau kita mau ngehubungi Muhsin pakai ponsel siapa hayo, coba nyalain ponselnya, kali saja dia ngehubungi kita pakai ponsel si sopir itu”.
“Wah gak bisa di hidupin” kata Munif mencat-mencet ponsel.
“Oalah, ponsel pakai di-PIN segala, jan repot banget si Muhsin” kataku yang coba membuka ponsel ternyata pakai PIN.

Satu jam menunggu, tapi Muhsin tak juga muncul.

“Nif gimana kalau kita ke mobil yang di parkir, kamu tahu kan di mana mobilnya di parkir?” usulku, yang lama-lama mumet melihat orang yang wira-wiri. “Ya siapa tahu mobilnya kita bisa ganti baju, soalnya pakai baju umroh terus risih juga”.
“Iya, aku tahu tempatnya, ayolah dari pada diam” jawab Munif yang langsung berdiri.

Kami pun berjalan menuju mobil yang di parkir berjarak tiga kiloan dari area Masjidil Haram, dalam perjalanan waktu shalat dan di tengah perjalanan waktu shalat jum’at pun mulai, kami berdua menjalankan shalat jum’at di jalan, selesai shalat jum’at kami sebentar istirahat tidur di rerumputan taman, lalu melanjutkan mencari mobil yang di parkir, sampai di mobil, ternyata mobil terkunci.

“Wah bagaimana mobilnya terkunci” kataku kecewa, sebenarnya aku yakin kalau mobil terkunci tapi aku berharap entah kebetulan si sopir pas kembali ke mobil.
“Gimana sekarang Nif? Kita kayak orang hilang gini?”.
“Kalau balik lagi ke tempat kita janjian ngumpul bagaimana?” tanya Munif kayak orang bingung.
“Ya gak apa-apa, aku jalan jauh juga dah biasa, tapi kamu sendiri yang setengah tua gitu apa ndak pegal?” tanyaku kepada Munif yang ku lihat wajahnya memelas.
“Ya aku ndak pegal, tapi kita tiduran bentar di taman tadi ya”.
“Ya itu namanya pegal”.
“Sudah kalau ndak kuat puasa, batalin saja, kita kan musafir” kataku menghibur. “Benar-benar risih pakai pakaian umroh jalan wira-wiri, tiap orang-orang ngelihatin kita, kita jadi kayak badut, mungkin malaikat pada ngetawain kita dari atas, sampai giginya copot melihat kita jalan wira-wiri kayak orang bingung”.

loading...

“Memangnya malaikat punya gigi? Bukannya dia gak doyan makan? Apa di tempat malaikat ada jualan bakso balungan yang harus di makan pakai gigi, atau keripik singkong?”.
“Ya kalau daging kurasa ada, kan Nabi Ibrahim waktu mau nyembelih Nabi Isma’il di datangkan kambing oleh malaikat” jawabku sekenanya.
“Oh iya, ya” kata Munif.
“Eh tidak ding, itu kambing kurbannya Habil yang di kasihkan ke Nabi Ibrahim, tapi untanya nabi Soleh, atau buroknya Nabi Muhammad kan juga dari alam malaikat, berarti ada kayaknya di sana binatang”.

“Ah bingung aku, sudah tiduran bentar saja” kata Munif yang segera tiduran di rumput taman.
“Nif, kamu bawa uang gak?” tanyaku.
“Bawa tapi di ATM” jawab Munif.
“Ya kalau begitu kita bisa pulang”.
“Tapi aku tak bisa ngambil” jelas Munif.
“Lhoh kenapa?”.
“Aku tak tahu caranya”.

“Lalu selama ini kamu ngambil gaji bagaimana? Kamu di Arab kan sudah empat tahun, masak ngambil uang di ATM saja kamu ndak bisa, wong tinggal mencet, ah sama dengan orang badui Arab kamu, udik, gak bisa ngambil uang di ATM”.
“Ya nyatanya aku ndak bisa, aku takut salah pencet, malah ATM nya rusak”.
“Ah benar-benar dah, apes benar kita”.
“La kamu ndak punya uang di ATM?” tanya Munif.
“ATM ku kan baru jadi kemarin Nif, gajian juga belum, siapa yang mau ngisi”.
“Kamu hapal nomor ATM mu?” tanyaku.
“Ya tak hapal, tapi aku selalu bawa nomor pinnya” jawab dia sambil mengeluarkan kartu ATM yang di bungkus amplop yang ada tulisan nomor pinnya, lalu menyodorkan kepadaku.

“Aku sendiri juga belum pernah ngambil uang lewat ATM, tapi dari pada bengong, mending kita coba” kataku meyakinkan.
“La nanti kalau kartuku nyangkut di dalam bagaimana?” katanya takut.
“Memang ada kayak gitu?”.
“Ya ada, banyak”.
“Terus kalau kartunya ketemu orang, nanti uangku di kuras semua”.
“Kan ada PIN nya”.

“La kalau pinnya ketahuan?”.
“Ah seribu banding satu lah, nomor pin ketahuan orang”.
“Kartunya di pegangi ya, atau di ikat benang, kalau nyangkut di dalam kan bisa di tarik”.
“Ah gak-gak kalau nyangkut, jadi gak kita ngambil uang, nanti kalau terpaksa kita ndak ketemu Muhsin, kita pulang pakai bus saja”.

“Dengan pakai pakaian umroh gini, di bus apa tak di ketawain orang sampai giginya tanggal?”.
“Ya tanggal juga gigi mereka sendiri, yang penting kita kan tidak nyuri pakaian umroh” jelasku.
“Sudahlah kalau dapat uang kita beli baju” kata Munif.
“Ya kan celana juga, ini aku ndak pakai celana dalam”.
“Ya sama, iya nanti beli baju sama celana”.
“Ayo cari ATM” kataku bangkit dari tidur.

Dan kami berjalan, untung di Saudi di perempatan dan di setiap gang atau keramaian ATM selalu ada, dan aku masukkan kartu ATM di salah satu ATM.

“Hati-hati mencetnya, jangan sampai salah”.

Ku ganti bahasa dengan bahasa Inggris, walau aku sendiri belum pernah ngambil uang di ATM, tapi nyatanya gak sulit.

“Ngambil berapa?” tanyaku ketika di dalam menanyakan uang yang akan di lakukan transaksi penarikan.
“Seribu saja dulu” jawab Munif.
“Wah uangmu banyak juga”.
“Iya aku ambil sekali kalau mau pulang, jadinya ngumpul” jelas Munif.

Setelah mengambil uang dari ATM kami berjalan kembali ke Masjidil Haram. Tapi baru sampai pasar di sekitar Masjidil Haram ponsel Munif bunyi. Munif segera mengambil ponsel yang di taruh di tas pinggangnya, lalu di angkat.

“Si Muhsin” kata Munif berbisik.
“Kamu di mana?” tanya Munif.
“Di tukang cukur” jawab Muhsin.
“Tukang cukur di mana? Kan tukang cukur banyak”.
“Di bawah jembatan” jawab Muhsin.
“Ini aku juga di bawah jembatan, jembatan sebelah mana?”.
“Jembatan sebelum pasar”.

Aku yang tengak-tengok, melihat Muhsin pas di belakang Munif, hanya dipisah jalan raya, tapi kedua orang itu saling membelakangi. Aku tepuk pundak Munif, dan ku tunjukkan arah, dimana Muhsin sedang menelepon. Munif nengok dan melihat Muhsin.

“Iya kami sudah melihat, kami akan kesana” kata Munif.
Maka kami pun menyeberang jalan, dan bertemu Muhsin.

“Lhoh belum cukur rambut mas?” tanya Muhsin.
“Aku cukup potong sedikit, tadi sudah di potongin Munif” kataku.

Dan kedua orang itupun saling menyalahkan soal ponsel, aku hanya melihat, bagiku tersesat dan kehilangan kontak sangat penting, karena bisa tahu dan sedikit hapal jalan-jalan Makkah, sehingga suatu saat jika datang ke Makkah setidaknya sudah setengah hapal. Dan banyak sekali hikmah yang bisa ku dapat, dan ini akan menjadi kenangan bagiku dengan temanku si Munif yang telah lebih dahulu menghadap Allah karena kecelakaan di perjalanan kerjanya, semoga amal ibadahnya di terima di sisi-Nya.

Bersambung kisah sang kyai guru bagian 41.

Whatsapp: 0852 1406 0632

Agen Bola SBOBET

About me :

kebahagiaan akan terasa lebih indah bila kita raih bersama-sama.