has write 52 articles | You are reading: Kisah Sang Kyai Guru Bagian 46 - 127 Views

Sebelumnya kisah sang kyai guru bagian 45.

“Aneh kang!” kata Yatno.
“Aneh kenapa?” tanyaku heran.
“Kok dekat sampean badanku tak panas lagi” katanya.
“Kamu yang tak kepanasan, aku yang megap-megap pening membaui keringatmu yang bau bawang bombai di remas”.
“Ah masa sih kang” kata Yatno membaui ketiaknya.
“Ya iyalah, masa aku bohong”.
“Coba kamu keluar kamarku” kataku pada Yatno.
“Untuk apa?” tanya Yatno heran.
“Ya coba saja” kataku.

Yatno pun keluar kamar, dan kemudian dia menjerit.

“Aduh kang panas!” jeritnya.

Aku segera membuka pintu dan menyuruhnya masuk,

“Kenapa kok aku di luar kepanasan?” tanya Yatno.
“Rupanya kekuatan yang di kirimkan padamu hilang kekuatannya jika kamu dekat denganku, jadi ketika mendekatiku kekuatan itu luntur, aku juga tak tahu kenapa, aku hanya mengira-ngira saja, tadi kamu di luar kok kepanasan lalu masuk kamarku kok tak kepanasan lagi, jadi aku ngira pasti ada yang tak beres, ternyata kekuatan yang di kirimkan seseorang kepadamu hilang dayanya ketika dekat denganku” jelasku

“Wah lalu bagaimana kang? Aku tidur di kamarmu ya!” kata Yatno.
“Ya ndak apa-apa kalau mau tidur di bawah, ranjangku juga cuma satu, dan kecil tak muat untuk dua orang”.
“Tak apa-apa kang yang penting aku ndak kepanasan”.
“Ya sudah kalau begitu”.
“Lalu bagaimana kelanjutannya kang?”.
“Sudah tidur dulu, ini sudah malam banget, besok aku harus kerja”.

Dan kami pun tidur, entah berapa kali, ledakan di kamar terjadi, dari santet yang di kirim padaku. Tak ku perdulikan ledakan kadang di tembok, kadang di kamar di atasku berjarak satu meter, aku tidur saja, pikirku kalau nanti menyannya habis paling juga berhenti sendiri, aku belum ada maksud mengembalikannya. Pagi-pagi subuh Yatno ku bangunkan.

“Ayo bangun shalat subuh” kataku sambil ku tendang kakinya.
“Ah masih ngantuk kang!” jawab Yatno malas.
“Masih ngantuk juga tetep harus shalat, kalau tidur di kamarku, kalau tak mau bangun ya besok jangan tidur di sini lagi” kataku.

Akhirnya Yatno mau juga bangun menjalankan shalat subuh berjama’ah. Masuk kerjaku jam 7 pagi, biasa kalau pagi buka-buka laptop, dan makan sarapan seadanya, aku suka masak teri, kalau di Indonesia mungkin teri tak ada enak-enaknya, tapi di Arab makanan yang remeh kelihatannya di Indonesia, di Arab jadi nikmat sekali, teri di goreng agak kering, lalu di irisi cabe, bawang merah, bawang putih dan tomat, sudah nikmat sekali.

“Kang sebenarnya aku juga pernah belajar toreqoh” kata Yatno yang juga ikut sarapan denganku.
“Toreqoh apa?” tanyaku.
“Ndak tahu kang toreqohnya apa, aku sendiri lupa” jawab Yatno.
“Nama toreqoh kok lupa, zaman sekarang ini toreqoh itu banyak, dan banyak juga yang sesat” kataku.
“Lho jadi ada juga yang sesat kang? La kan juga yang di ajarkan membaca Qur’an dan juga latihan tenaga dalam”.

“Ya banyak yang sesat, di mana letak kesesatannya? Letaknya karena toreqoh itu tidak menyambung sanad kepada Nabi, namanya kan membuat acara sendiri, yang tukang bakso membuat toreqoh Baksoniyah, yang tukang becak membuat toreqoh Becakiyah, yang orang Tuban membuat toreqoh Tubaniyah, yang orang Mesir membuat toreqoh Misriyah, jadi membuat toreqoh kayak membuat nama jajanan, dengan logo dan maksud tujuan orang yang membuat, agar mendapat pengikut, dengan membuat aturan di dalamnya yang menguntungkan bagi pembuatnya”.

“Iya tuh kang, guru toreqohku pernah bilang kalau ingin tahu asal toreqoh yang ku ikuti itu tak akan di tunjukkan”.
“Nah kan makin aneh saja” kataku.

“Sebaiknya di zaman akhir itu seseorang hati-hati, jangan asal ikut ini, ikut itu, kalau bisa di teliti dulu, jangan sampai sudah terlanjur di bai’at eh ternyata malah toreqoh sesat, ya jadinya akan kesusahan sendiri, namanya juga sesat jadi tak akan ada manfaat yang di ambil, contoh saja kamu, la di santet saja sudah pontang-panting gitu”.

“Tapi dulu saya di ajari jurus, dan ilmu membangkitkan tenaga dalam kang”.
“Ya walau di ajari membangkitkan ilmu tenaga dalam sekalipun, apa gunanya kalau tidak bisa menyelesaikan masalah sepelemu itu” tekanku.
“Apa ilmu tenaga dalamku masih ada ya kang?” tanya Yatno.
“Ya aku tak tahu, la aku sendiri tak pernah belajar ilmu begituan, tenaga dalam juga tak pernah” kataku sambil memencet-mencet keyboard laptop.

“Kalau kita coba bagaimana kang?” tanya Yatno.
“Maksudnya nyoba bagaimana?” tanyaku tak mengerti.
“Ya kita adu jurus”.
“Wah aku sendiri tak mengerti jurus, gini saja kamu yang menyerangku, dengan segala jurusmu bagaimana?” tanyaku.
“Ya boleh kang, sampean ndak berdiri saja kang?” tanya Yatno, karena melihatku duduk di karpet sambil mainkan laptop.
“Sudah serang saja diriku” kataku.

Yatno mulai memainkan jurusnya, mengitariku, lalu menyerangku tubuhnya melompat menghantamkan pukulan tangan kosong, tapi sampai di jarak satu meter dari tubuhku, tubuhnya seperti menghantam benteng baja, aku masih mainkan laptop, menjawab pesan yang ada di facebook. Yatno membuat ancang-ancang lagi menyerang dari belakangku, dan sama saja tubuhnya yang melenting menendang kepalaku, lagi-lagi seperti menabrak benteng baja, dan dia bergulingan, berguling-guling menabrak-nabrak tembok kamar.

“Ampun kang, tolong kang aku tak kuat!” kata Yatno merintih-rintih.

Aku bangkit dan mendekatinya, lalu ku usap dadanya.

“Bagaimana sudah enakan?” tanyaku.
“Wah khodammu besar sekali kang, pelindungmu tak bisa ku tembus, aku sampai sakit semua” kata Yatno.
“Ah aku tak punya kelebihan apa-apa” kataku.
“Untung sampean tak membalas pukulanku, kalau membalas aku bisa rontok dadaku” kata Yatno.
“Ah ada-ada saja, ini aku mau mulai berangkat kerja, kamu di kamarmu saja ya!” kataku.
“Iya kang, makasih atas bantuannya” jawab Yatno.

Masih banyak waktu, aku jalan kaki menuju tempat time card, memasukkan kartu absen dan memasukkan pin dan cap jari, memang pabrik di buat ketat dalam soal absensi sebab dulu cuma di buat memasukkan absen kartu, jadi banyak orang yang titip temannya untuk team card kan, jadi team card di tambahi cap jari, jadi jari orang tak bisa di palsu orang lain, orangnya harus tetap datang untuk melakukan cap jari.

loading...

Habis team card aku biasa duduk-duduk di depan kantin untuk sekedar ngobrol dan merokok bersama teman-teman. Suasananya sangat ramai, karena semua orang harus team card kecuali yang sudah kepala bagian atau insinyur atau manager. Yono menyapaku dengan senyum ramahnya, Yono kerja di Saudi sudah tujuh tahun, dia orang Tangerang.

“Mas, sebenarnya aku pingin main ke kamar mas, tapi takutnya orangnya sibuk” katanya.
“Ah gak sibuk, banyak kok yang main, datang saja ke kamar” kataku.
“Iya ada perlu sedikit dengan istri dan anakku” katanya.
“Main saja, ntar malam saja ku tunggu” kataku.
“Hei mas” kata Umam orang dari Tulungagung.
“Hai juga mas” balas sapaku.

Begitulah pagi, kami saling sapa, karena pekerjaan masing-masing, jarang kami bisa ketemu, saat pagi itu saat kesempatan kami bisa saling sapa. Masuk ke ruang kerjaku, tak ada yang di kerjakan, paling duduk dan mengeluarkan rokok, menyalakannya, lalu menyalakan internet dan menyapa sahabat internetku. Seorang berwarga negara Mesir masuk ke ruanganku,

“Mas ini yang ahli lukis?” tanya lelaki Mesir itu dengan logat Arab yang cepat.
“Iya” jawabku singkat.
“Ada apa?” aku balik tanya.
“Mau tidak nanti ke rumahku, mau ku pinta melukis di rumahku” katanya.
“Hm, bagaimana ya, aku tak biasa melukis di rumah seseorang selama di Arab ini, manager saja yang memintaku melukis di rumahnya ku tolak” jelasku.

Orang Mesir itu mendekat denganku.

“Maaf mas, ini permintaan dari istriku yang mengandung tua, jadi dia minta mas untuk melukis di rumahku, jadi bukan kemauanku sendiri” kata orang Mesir itu.
“Dari mana istrimu kenal dan tahu diriku?” tanyaku heran.
“Dia tahu dari mimpinya mas, pokoknya mas ini saya mohon dengan sangat supaya datang ke rumah, nanti habis kerja biar ku jemput” kata orang Mesir itu.
“Ya tak apa-apa kalau begitu”.

Jam 4 sore pulang kerja orang Mesir bernama Musadad itu telah menjemputku, setelah mandi aku berangkat ke rumahnya, naik mobilnya, ku bawa perlengkapan cat dan kuas, sampai di rumahnya aku di ajak makan dulu, sambil membicarakan mana yang harus ku lukis, aku hanya melukis pintu, setelah makan ku lukis dengan cepat pintunya. Sebentar baru melukis Musadad mengeluarkan minuman.

“Wah sebentar sudah jadi bagus” katanya di sela aku melukis.
“Oh ya mas ini di Indonesia seorang ustadz ya?”.
“Kata siapa?” tanyaku.
“Banyak kok yang membicarakan, bahkan di sini juga banyak yang telah minta di do’akan” kata Musadad.
“Ah tidak juga, aku hanya seorang murid toreqoh, cuma mungkin guruku orang yang banyak kelebihannya” jelasku.
“Kekasih Allah ya gurunya, waliyulloh gitu?” tanya Musadad.
“Tak tahu juga, sebab guruku tak pernah sekalipun mengaku sebagai wali, jadi aku juga tak tahu, apalagi la ya’riful wali ilal wali, tak akan tahu wali kecuali wali” jelasku.

“Mari mas di minum jus nyam” kata Musadad mempersilahkanku minum.
“Aku banyak membaca di banyak kitab, para guru toreqoh itu orang-orang yang selalu di ijabah do’anya” kata Musadad. “Misal seperti Syaikh Abdul Qodir Aljailani, Syaikh Junaid Albagdadi, Ibrohim Alkhowas, Syaikh Abu Khasan Assadzili, semua ulama’ besar adalah orang-orang toreqoh”.
“Ya” jawabku singkat.
“Mungkin dalam umum orang meminta hujan dengan shalat istisqo’, tapi orang toreqoh tidak, jika meminta hujan, ya meminta saja, sebab jiwa, raga, roh dan hatinya adalah do’a” kataku.

Tiba-tiba hujan deras sekali turun.

“Wah mas bicara hujan, langsung hujan turun deras, boleh saya di jadikan murid” kata Musadad.
“Menjadi murid toreqoh itu berat, dan harus tunduk pada guru, bukan soal gurunya itu siapa, tapi karena ilmu yang dari Nabi yang di titipkan kepada guru, jadi ketundukan pada guru itu seringkali bertentangan dengan ego diri”.
“Saya siap guru, saya siap tunduk pada guru, guru memerintahkan apapun saya siap, sebab guru adalah pembimbing saya” kata Musadad serius.
“Sudah-sudah saya selesaikan lukisan, nanti jam enam sebelum maghrib saya harus segera kembali ke kamar, soalnya ada janji sama orang Indonesia” kataku.
“Siap guru” kata Musadad.

Setelah jam enam, aku di antar pulang ke barrak,

“Jika guru mau kemana saja, saya siap mengantar, jadi guru telepon saja saya” kata Musadad yang seorang insinyur komputer.
“Ya nanti kalau mau ke kota aku akan telepon” kataku sambil keluar dari mobilnya Musadad.

Sampai di kamar pas maghrib. Yatno sudah menunggu di depan kamar.

“Ada apa lagi?” tanyaku sambil membuka pintu kamar.
“Badan saya panas lagi kang” kata Yatno.
“Mari shalat maghrib dulu, nanti habis shalat ku buatkan air isian, untuk pagar badanmu” kataku, yang langsung mengambil air wudhu.

Dan kami shalat berjama’ah, selesai shalat ku buatkan air isian untuk pagar Yatno.

“Ini di pakai mandi, jangan di handuki, biarkan kering, air itu pakai di guyuran terakhir, ingat biarkan kering sendiri” kataku.

Dan Yatno pun mandi, aku nyalakan laptop, enaknya kalau internetan tak bayar, mau internetan sepuasnya juga tak masalah, dan Alhamdulillah kisah Sang Kyai Guru ini semuanya ku tulis dengan internet gratis. Anehnya setelah aku meninggalkan Saudi internet tak gratis lagi. Yatno telah selesai mandi.

“Bagaimana No, sudah enakan?” tanyaku.
“Iya Alhamdulillah sudah enakan kang, badan tak panas lagi”.
“Ya moga-moga tak panas lagi” kataku.

Pintu kamar di ketuk.

“Masuk tidak dikunci.” kataku.

Masuk Yono sama Muhsin. Dan seperti biasa Muhsin membawa makanan, kali ini soto babat.

“Wah aku masih kenyang, tadi habis makan di rumah Musadad orang Mesir” kataku.
“Wah kok ke tempat Musadad segala?” tanya Yono.
“Iya tadi di suruh melukis”.
“Biasanya Musadad itu orangnya kikir, kok sampai mau ngasih makan?” tanya Muhsin.
“Gak juga, orangnya baik kok” kataku.
“Syukur kalau sama mas orangnya baik” kata Muhsin.

Ponselku bunyi, dan ku angkat, suara Musadad.

“Ini guru ada makanan dari istriku, guru keluar sebentar, saya tak bisa masuk”.

Aku keluar dari barak, dan Musadad menunggu di mobil, dan memberikan senampan makanan.

“Wah repot-repot banget” kataku.
“Ini permintaan istriku guru, doakan anakku lahir dengan selamat, dan bisa menjadi manusia seperti guru, soalnya ini mau ke rumah sakit membawa istriku, doakan ya guru, supaya kelahirannya lancar”.
“Insya Allah lahirnya lancar” kataku.

Aku pun masuk ke dalam.

“Makanan dari siapa mas?” tanya Muhsin.
“Dari Musadad, dia minta di do’akan supaya kelahiran anaknya lancar, dan selamat” jawabku.
“Hehehe, orang pintar di mana-mana banyak yang bawain makanan” gurau Yono.
“Sudah ayo di makan bareng-bareng” kataku.
“Wah ini yang mana dulu?” tanya Yono.
“Yang mana sajalah, aku cicipi soto babatnya dulu” kataku mengawali, dan kami ramai-ramai makan.

Kebersamaan yang kadang sekejap itu kadang yang paling berkesan, dan menjadi kenangan sederhana yang sulit di lupakan. Dan menjadi pengikat persaudaraan tanpa ada syak wasangka. Keikhlasan itu tak harus di pikirkan tapi di jalani dengan apa adanya.

“Saya mau curhat mas” kata Yono selesai makan.
“Wah di mana-mana aku kok tempat curhatan orang to, heheheh, curhat apa itu?” tanyaku.
“Soal rumah mas”.
“Kenapa dengan rumahnya?”.
“Ya beberapa hari yang lalu, istri pernah mengalami hal yang aneh”.
“Hal aneh apa itu?”.
“Ya seperti melihat orang masuk rumah, tapi setelah di cari tak ada”.
“Jam berapa?”.

“Ya sekitar habis maghrib gitu, la ini kok istri, anak saya yang kecil kalau malam nangis terus, lalu badannya sekarang panas, sudah di bawa ke rumah sakit, tapi panasnya tak juga turun-turun”.
“Hm maaf, ada tetangga yang suka pakai peci ada hiasannya, dan pernah punya masalah dengan orang itu ya?” tanyaku.
“Iya mas, kok mas tahu?” tanya Yono.
“Ya pas kebetulan saja pas” jawabku.
“Lalu apa hubungannya dengan orang itu?” tanya Yono.
“Orang itu pernah menanam tulang anjing di depan rumah, di kali kecil kering di bawah pohon bambu” kataku.

“Oh di situ, di depan rumahku memang ada pohon bambu” jawab Yono.
“Lalu bagaimana solusinya mas?” tanya Yono.
“Sediakan saja air, istri suruh sedia air di rumah, biar saya transfer obat ke air itu, nanti di minumkan untuk anaknya setutup botol aqua saja, dan untuk minum istrimu suruh minum satu gelas” kataku.
“Ya biar saya telepon istri saya mas” kata Yono.
“Saya sebentar lagi mau cuti mas, apa mas ndak nitip apa-apa dari Indo?” tanya Muhsin.
“Ya nitip rokok saja” kataku.
“Rokoknya apa mas?”.
“Sampoerna mild saja, biar ndak berat”.
“Baik nanti saya bawakan” kata Muhsin.
“Oh ya saya sudah puasa mas, kok sering mengalami hal aneh” kata Muhsin.
“Hal aneh apa?” tanyaku.

Bersambung kisah sang kyai guru bagian 47.

Whatsapp: 0852 1406 0632

Agen Bola SBOBET

About me :

kebahagiaan akan terasa lebih indah bila kita raih bersama-sama.