Kisah Sang Kyai Guru Bagian 52 - 29 Views
Raja Remi

Sebelumnya kisah sang kyai guru bagian 51. Setelah hari raya Idhul Fitri, seperti orang lain, aku juga mudik, tapi menunggu tamuku di Pekalongan sepi. Setelah sepi baru aku, istri dan anakku ke Jawa Timur. Biasa kalau di Jawa Timur, langsung biasanya akan banyak orang yang datang ke rumahku ada yang minta amalan, atau minta di obati penyakitnya. Di Tuban sendiri, karena pernah ada kebakaran, sebelum kebakaran terjadi masa sebulan sebelumnya aku memperingatkan yang punya rumah, agar hati-hati akan terjadi kebakaran sebulan lagi, hati-hati dengan api.

Tapi takdir Allah terjadi juga, dan terjadi kebakaran, walau hanya dua rumah yang terbakar dan api bisa dipadamkan, setelah kejadian itu setiap aku ke Jawa Timur, akan banyak orang datang minta amalan atau di obati penyakitnya. Juga hari itu, aku belum sampai rumah, orang-orang sudah menunggu, sehingga aku tak sempat istirahat.

Ada beberapa orang, yang datang, satu persatu ku layani setelah shalat maghrib, kursi penuh dan yang lain duduk di lantai, yang menghadapku pertama orang yang dari luar kecamatan, biar segera bisa pulang. Yang menarik perhatianku ada seorang lelaki bernama Muhadi.

“Apa pak keluhannya?” tanyaku pada Muhadi lelaki jangkung kurus berumur 50 tahunan.
“Ini Ian aku sakit di kaki” katanya menunjukkan kakinya yang dari pergelangan sampai lutut membusuk.
“Wah kok sampai begitu pak, apa ndak di bawa ke dokter?” tanyaku.
“Ya sudah ku bawa ke dokter Ian, ini sama lukanya dengan luka yang di alami istriku” katanya.
“La istrinya di mana, kok tak di bawa kesini sekalian?” tanyaku.

“Istriku sudah meninggal” katanya sedih.
“Oh maaf”.
“Ini wong lukanya tak wajar kok Ian” jelas Muhadi.
“Iya saya juga lihat tak wajar” kataku.
“Awalnya bagaimana itu pak?”.

“Ini sebenarnya awalnya adalah hal yang sepele, saya dan istri itu jual beli beras, nah ada salah seorang yang selalu ngutang beras kami, ya kami kasih, sampai banyak kami tagih hutangnya, kan wajar to nagih utang, eh dia marah, dan mengatakan jangan di kira kami tak mampu bayar utang, utang akan kami bayar, tapi setahun kemudian tak di bayar, ya kami tagih lagi utangnya, eh malah mereka marah-marah, dan mengatakan mau nyantet, dan kok malamnya rumah kami kayak di taburi pasir, lalu ada ledakan, dan besoknya istriku kakinya gatal sekali, lalu terjadi pembusukan, terus membusuk, pernah kami obatkan ke dokter juga percuma tak sembuh, juga ku obatkan ke dukun, malah dukun yang lumayan bisa datang ke rumah, dan di dalam tanah rumahku di suruh gali, ternyata di dalam tanah ada kayak bungkusan pocong kecil sepanjang 35 cm, tapi la kok aneh”.

“Anehnya bagaimana pak?”.
“Anehnya bungkusan itu hidup, jadi lari masuk di dalam tanah, bentuknya kayak pocong-pocongan gitu, maka aku di suruh menggali tanah lain, untuk menghadang arah larinya”.
“Tapi, setiap ku hadang, maka pocong-pocongan itu membelok ke arah lain, dan itu tidak lewat lubang larinya, tapi masuk dalam tanah gitu, setelah seharian usaha, pocong-pocongan dapat di tangkap semuanya ada tujuh”.
“Wah di dalamnya apa ada tikusnya? Kok bisa lari dalam tanah?” tanyaku yang terus terang merasa heran.

“Ya aku sendiri tak tahu Ian, la setiap ada yang tertangkap maka langsung dimasukan kendil tanah liat, tapi menurut penjelasan dukun, dia cuma bisa mengeluarkan yang di tanah, sementara yang di udara masih ada”.
“Ada juga yang di udara?” tanyaku.
“Iya ada”.
“Lah lalu bagaimana bisa? Kalau aku tak tahu ilmu seperti itu, ilmu kok ya aneh-aneh” kataku geleng-geleng kepala.

“Tapi dukun itu menyarankanku meminta dukun yang lain, yang bisa mengeluarkan yang di udara, aku di beri alamatnya, maka akupun segera mencari dukun itu, dan ku mintai tolong, dan dukun itu juga mau, lalu ke rumahku, dia bersemadi di tengah rumahku, sambil bakar kemenyan, dan membuat sesaji kembang tujuh rupa, dan kelapa hijau, serta kopi pahit. Lalu dukun itu selama satu jam bersemedi, kemudian berdiri dan menarik sesuatu dari tengah udara, dan yang di tarik itu kain mori orang mati, sampai pengerjaan selesai. Tapi Ian, istriku ya tetap tak sembuh, dan akhirnya meninggal dunia, sekarang aku yang terkena penyakit yang pernah di alami istriku, tiap malam di rumahku selalu ada ledakan dan kayak ada pasir atau tanah kering ditaburkan, suaranya seperti gerimis sebentar gitu, nah bagaimana Ian, aku minta kau do’akan, supaya penyakit yang ku derita ini sembuh dan aku tak kambuh lagi”.

“Ini sekarang ku kasih air saja dulu ya pak, besok ke sini sorean gitu, biar aku bikinkan pagar rumah, dari kerikil yang di tanam di pojok rumah, biar tidak kena santet lagi, kalau sekarang sudah malam”.
“Iya insya Allah aku besok akan datang lagi”.

Lalu ku berikan air untuk penyembuh dengan media do’a dan pagar badannya. Ganti seorang lagi. Menemuiku lagi seorang tua, berjalan tertatih-tatih, dengan tongkat, yang ku tahu bernama mbah Mulyono.

“Ada apa mbah?” kataku pada kakek berusia 70 tahunan itu.
“Ini Ian, kakiku sakit sekali, tak bisa di pakai shalat jama’ah di masjid, tolong kau obati” kata mbah Mulyono sambil membuka sarungnya.
“Coba tak pegangnya ya mbah! Coba di tekuk mbah, diluruskan, di tekuk” kataku berulang-ulang sambil ku salurkan tenaga prana ke sela lutut mbah Mulyono. Terdengar suara kletuk.
“Wadow enteng sekali” kata Mbah Mul.

Lalu ku lakukan pada kaki satunya, sampai terdengar suara kluthuk, pertanda pergeseran tulang telah kembali ke semula.

“Bagaimana, enakan mbah?”.
“Iya enak”.
“Coba di pakai berdiri mbah”.

Mbah Mulyono pun berdiri, awalnya takut-takut, tapi setelah merasa tidak sakit dia mulai berjalan wira wiri.

“Aku pulang dulu ya Ian, terima kasih”.
“Iya mbah silahkan, la ini tongkatnya tak di bawa mbah?”.
“Sudah tak usah, untukmu saja” kata Mbah Mulyono.
“Hehehe makasih mbah, jangan lupa rajin jama’ahnya” kataku mengantar kepergian mbah Mulyono.

Seorang lagi masuk, dia ku tau bernama kang Darwis. Dia orang terkaya di kampungnya yang aku tahu, dulu waktu aku kecil sering dibelikan layangan sama dia.

“Ada apa pak Darwis?” tanyaku.
“Ya seperti yang lain Ian, mau minta tolong padamu”.
“Apa masalahnya pak?”.
“Nanti dulu Ian”.
“Kenapa pak?”.

“Aku hanya ingin menatapmu lama-lama”.
“Memangnya kenapa pak?”.
“Aku hanya ingat di waktu kecilmu, dulu aku sudah mengira kamu ini akan menjadi orang linuwih, malah aku bilang ke ibumu, tapi ibumu mana mau percaya”.
“Ah biasa saja to pak”.
“Ah tidak kau waktu kecil itu aneh”.
“Aneh bagaimana pak?” tanyaku heran.

“Lo apa ibumu tak cerita soal masa kecilmu”.
“Ndak itu pak, la masa kecilku bagaimana?”.
“Kamu tahu? Dulu masa kecilmu, kamu kan di asuh Sarminten yang gila itu”.
“Walah masa bisa begitu pak, kalau itu bukan suatu prestasi lah, namanya aib”.
“Eh nanti dulu, Sarminten itu pasti jadi orang waras kalau sudah momong kamu, di ajak jalan kesana kemari, kalau sudah gendong kamu, pasti jadi waras edannya, apa ndak aneh, makanya ibumu tak keberatan kamu di urus Sarminten”.

“Memang ada cerita seperti itu?”.
“Ya kamu kan bisa tanya ke orang tua-tua”.
“Terus semua orang gila desa kita ini, setiap hari bergantian ngisi kolah kamar mandimu, anehnya mereka semua gantian mengisi kamar mandimu, jadi harinya kayak terjadwal, padahal kan rumah mereka berjauhan, apa itu tak aneh?”.
“Ya itu kan masa lalu to pak Darwis, masalahe panjenengan nopo?” tanyaku, karena masih ada beberapa orang yang menunggu ku selesaikan masalahnya, walau tubuh penat, dan sudah ngantuk, tetap saja hati harus legowo menerima siapa saja, menjadi orang yang dijadikan pengaduan masyarakat, dan kita di minta mengadukan kepada Allah itu kudu lebih beberapa kali sabar, tapi aku juga sama sekali tak mempermasalahkan pak Darwis yang maunya mengenang masa lalu.

“Ian kamu tahu tidak kalau aku sekarang ini sudah miskin, dan sudah tak punya apa-apa, semua harta kekayaanku ludes, tak tahu ini karmaku atau bagaimana”.
“Masa kekayaan panjenengan yang sebegitu banyaknya bisa ludes, belum lagi burung walet yang menghasilkan jutaan tiap bulan itu semua ludes?”.
“Iya, semua ludes”.
“La masalahnya apa? Apa panjenengan punya hutang sama bank?” tanyaku.
“Bukan, bukan masalah itu”.
“Lalu masalah apa?”.

“Awalnya, kamu ingat dengan Laila anak perempuanku?” tanya pak Darwis.
“Ya ingat”.
“Laila itu pernah di minta oleh pak Rudin”.
“Maksudnya pak Rudin yang jadi dukun itu?” tanyaku.

“Iya yang sudah tua itu, awalnya Laila di kasih ini itu, tiap di jalan di beri ini itu, lalu sama pak Rudin yang sudah umur 50 an itu, ternyata mau di nikahi, ya aku sendiri saja lebih tua pak Rudin, ya ngiranya Laila, dia di beri apa-apa, pak Rudin tak punya maksud apa-apa, jadi di terima, ternyata malah mau menikahi Lalila, ya Laila gilo, jeleh (bahasa Pekalongan), ya aku sendiri jelas menolak, la karena ku tolak itu kok malah dia mengancam akan menghancurkanku. Ya perkirakanku maksudnya menghancurkan, menghancurkan apa, la kok ternyata semua bisnisku hancur, semua ayam mati, semua usahaku macet, dan aku bangkrut, bahkan waletku pada kabur.

Hanya dalam dua bulan setelah aku di ancam, setelah itu semuanya ludes. Memang tetangga sering melihat pak Rudin mengitari rumahku di malam hari, menyebarkan beras kuning dan kembang, dan aku di lapori tetangga, tapi tak ku perduli, tapi sekarang pun aku sudah berusaha bangkit, tapi sampai setelah semua habis, sampai saat ini semua order kontraktor semua belum ada yang berhasil, sampai-sampai temanku mengajak memakai dukun untuk melancarkan bisnis kami, bahkan aku pernah di ajak temanku mencari dukun terkenal di daerah Batang, dekat Pekalongan itu, aku dan temanku di beri syarat untuk bertapa semalam di tepi air tempuran, kata dukunnya jangan sampai gagal, kalau ada gangguan apapun kok gagal, maka usahanya tak akan berhasil, la kebetulan temanku itu pemberani, dia bertapa di tepi sungai tempuran (pertemuan empat jalur sungai), mungkin di sengaja, sengaja tempat yang di pakai temanku di olesi trasi, agar datang para biawak, tapi temanku itu pemberani walau di kepung biawak, sampai pagi temanku itu kuat”.

“Lalu apa berhasil cara itu?” tanyaku.
“Sama sekali tidak” jawab Darwis.
“Pak sebenarnya bisnis apa saja, jika di sertai masuk toreqoh, insya Allah akan lancar, karena antara lahir dan batin saling melengkapi” jelasku.
“Ya nanti itu mudah masuk toreqoh, tapi mbok sekarang aku kamu do’akan agar bisnisku gol” aku sekarang lagi tawar menawar harga soal menguruk sepanjang rel kereta api dari Babat sampai Bojonegoro, di uruk pakai batu koral, nah itu kamu do’akan berhasil, nanti kamu tak kasih komisi”.

“Heheh komisinya untuk panjenengan, panjenengan kan yang lebih membutuhkan” kataku.
“Insya Allah saya do’akan”.
“Oh ya kalau kamu ngasih amalan biar temanku saja yang mengamalkan, temanku ini sudah pakarnya menjalankan puasa, mau puasa mutih, ngebleng, bahkan pernah seminggu tidur miring di makamnya sunan Bonang”.
“Walah tidur miring, apa maksudnya?” tanyaku heran.
“Ya tidur miring, menjalankan lelaku” jawab Darwis.
“Walah kok sampai gitu, la aku saja belum pernah, ya tentu dia lebih sakti, aku jadi malu kalau ngasih amalan dia”.

“Ya bukan begitu, walau dia sudah menjalankan amalan macam-macam, juga pernah dalail selama tiga tahun setengah, tapi tak ada yang nempel ilmunya, jadi semua amalannya tak mangsah apa-apa” jelas Darwis.
“Ya kalau ngasih amalan sih aku senang saja” jelasku.
“Man, Wagiman sini!” panggil pak Darwis, kepada salah seorang pemuda kurus, di antara tamu yang sedang ngobrol di kursi tamu. Yang di panggil Wagiman pun mendekat.
“Ini Man mau di beri amalan” kata pak Darwis.

Aku masuk sebentar untuk mengambil lembaran amalan, dan ku serahkan pada Wagiman.

“Itu amalannya cara mengamalkannya sudah tertulis. Tapi akan ku jelaskan” kataku pada Wagiman yang sedang memegangi catatan amalan puasa dariku.
“Nggak usah diterangkan, saya sudah paham, puasanya juga hanya puasa biasa, pasti saya amalkan” kata Wagiman seperti meremehkan amalan yang ku beri. Mungkin tak seberat amalan dia yang ngebleng (puasa sehari semalam).
“Ini juga puasanya ringan, saya akan jalankan” kata Wagiman.

Lalu pak Darwis dan Wagiman minta diri.

Setelah hari itu aku tak bertemu lagi dengan pak Darwis, cuma dia pernah nelepon setelah beberapa bulan, mengatakan kalau ordernya menguruk rel sedang di jalani, dan aku bertanya soal Wagiman, apa amalanku sudah dijalankan.

loading...

“Wagiman waktu itu besoknya langsung puasa, tapi langsung pingsan, dan lumpuh sampai sekarang, ku suruh meminta obat pada mas Ian, tapi dia malu, jadi sampai sekarang masih lumpuh” cerita pak Darwis.

Aku hanya menarik nafas gegetun, amalan yang ikhlas karena Allah, dengan amalan yang karena jin, tentu beda, dan yang ikhlas biarpun kelihatannya sepele, sebenarnya lebih berat, karena berkaitan dengan kebersihan hati.

Bersambung kisah sang kyai guru bagian 53.

Whatsapp: 0852 1406 0632

Agen Bola SBOBET