Kisah Sang Kyai Guru Bagian 66 - 23 Views

Sebelumnya kisah sang kyai guru bagian 65. Dalam dunia ini semua sudah digariskan, dan jodoh pertemuan itu kadangkala seseorang sudah lama bersama runtang runtung, tapi kadang antara yang satu tidak bisa mengambil manfaat dari yang lain, karena secara tertulis di lauhil mahfudz keduanya tidak dijodohnya untuk saling mengambil manfaat dari yang lain, tapi kadang juga yang baru sekali bertemu, kemudian Allah menghendaki kepada keduanya untuk saling bisa memberi manfaat, walau tak banyak pembicaraan terucap dalam pertemuan, dan tak banyak pekerjaan dijalankan bersama, itu mungkin bisa saja terjadi pada siapa saja, dan di manapun juga, tanpa harus diawali perencanaan, atau disertai suatu kisah terlebih dahulu, yang jelas segala kejadian yang telah terjadi, kejadian itu bernilai atau tidak, itu tergantung kita mampu tidak mengambil pelajaran di dalamnya, dan kejadian itu akan mendewasakan kita dalam berfikir, dan lebih bijak mengambil keputusan.

Kisah ini baru minggu kliwon kemaren, sebelum bulan puasa romadhon, sebenarnya kisah ini berawal dari seorang lelaki yang mengikuti pengajian di majelis dzikirku, sebagaimana biasa tiap yang mengikuti majelis dzikirku, kebanyakan tiap selesai dzikir, maka pada meminta amalan, dan begitu juga lelaki itu yang bernama Arifuddin, dia meminta amalan dariku lalu ku beri, sebagaimana biasa selesai meminta amalan, ku jelaskan cara menjalankan amalan dzikirnya, dan menjalankan lelakunya, entah sengaja atau tidak, pas lelaki itu meminta amalan aku mengatakan, “mungkin sebentar lagi dia akan mengalami kecelakaan, setelah mengamalkan amalan dariku, tapi insya Allah tak apa-apa.” kataku. Dan ternyata setelah menjalankan amaliyah, kejadiannya benar-benar terjadi, Arifuddin mengalami kecelakaan, pas di sebuah tikungan, sedang dia mengendarai motor, motornya ditabrak motor lain, pas di tengahnya, Arifuddin terpental ke aspal, dan anehnya dia sama sekali tak lecet sedikitpun, sedang yang menabrak sampai luka sangat parah, malah selesai kecelakaan dia datang kerumahku, untuk menceritakan pengalamannya itu.

Tentu saja kejadian itu membuat Arifudin makin yakin dengan ikut dzikir aktif di majelisku, dan bukan itu saja Ibunya yang tinggal di lain kabupaten dengan majelisku, dimintanya juga ikut pengajian dzikir di majelisku. Dan kemantapan itupun dirasakan oleh ibunya, Ibunya Arifudin juga punya anak perempuan yang tinggal di Jakarta, dan di saat-saat terakhir, dia selalu mimpi buruk, dia mimpi anak perempuannya itu diikat dengan rantai oleh seorang lelaki tua, sehingga anak perempuannya itu tak bisa apa-apa, hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, dia sangat kawatir dengan mimpinya itu, maka dia menghubungi anak perempuannya yang ada di Jakarta, jangan-jangan telah terjadi apa-apa yang tidak diinginkan.

loading...

Tapi anak perempuannya yang bernama Aisyah itu tak mau cerita tentang apa yang terjadi, sementara Aisyah sendiri sebenarnya selama setahun ini telah mengalami hal yang dia sendiri tak mengerti, dia jadi begitu malas menjalankan sholat, dia malas mengaji, dia malas menjalankan ibadah, bahkan dia merasa benci bila melihat suaminya, tapi Aisyah sendiri tak tahu kenapa dia sampai menjadi seperti itu, sampai akhir-akhir ini dia muntah darah, dan cepat-cepat dia periksakan diri ke dokter, tapi setelah diperiksa, ternyata sama sekali tak ditemukan penyakit di dalam tubuhnya, sehingga membuat Aisyah dan suaminya bingung, seharusnya kalau sampai muntah darah pastilah ada penyakit di dalam tubuhnya, tapi ternyata menurut dokter Aisyah sehat-sehat saja. Sampai ibunya menelponnya untuk mengikuti pengajian dzikir di majelisku.

“Cobalah Ais, kamu ikut pengajian di tempat yang kakakmu ikut pengajian, kakakmu saja setelah ikut pengajian di sana, kecelakaan saja dia tak lecet” kata ibunya di telpon.
“Tapi aku sibuk di Jakarta bu. Mana Pekalongan Jakarta jauh, dan aku tak bisa meninggalkan pekerjaan” jawab Aisyah.
“Ya disempatkanlah Is, ya ikut sekali atau bagaimana, kamu kan masih muda, ibu sih sudah tua, kamu masih banyak perjalanan yang harus dilewati, jadi masih butuh banyak bekal” kata Ibunya.
“Iya deh, nanti ku usahakan datang” jawab Aisyah setelah didesak ibunya.

Sementara itu, sebelum Aisyah datang ke rumahku, malamnya aku mimpi, aku melihat perempuan, ya Aisyah itu datang ke rumahku, dan ku dapati banyak jin di tubuhnya, dan jin itu dikirim oleh seorang tua yang kerjanya di sawah. Aku tak memperdulikan mimpiku itu, sampai besoknya, sore hari Aisyah datang ke rumahku untuk mengikuti pengajian rutin tiap minggu kliwon, aku heran karena Aisyah ini perempuan yang ada di dalam mimpiku, ketika bertemu denganku, Aisyah bercerita tentang muntah darahnya, dan apa yang dialami selama setahun belakangan ini. Ku pinta dia mengulurkan pergelangan tangannya, dan ku pegang, dan langsung saja dia merasa ingin muntah, pertanda interaksi jin yang ada di dalam tubuhnya kontak, cepat-cepat ku lepaskan tangannya, karena waktu sudah sore, karena ku perhitungkan tak akan banyak waktu untukku mengeluarkan jin di dalam tubuhnya.

“Sudah besok saja ku obati, sekarang dipakai istirahat saja” kataku.
“Iya” jawab Aisyah, yang kemudian pergi ke rumah kakaknya.

Malamnya Aisyah mengkuti pengajian dan dzikir bersama, tapi dia merasa lemas di tengah-tengah dzikir, dan ku biarkan saja, sampai besoknya dia datang lagi dari rumah kakaknya, dan bertemu denganku, dan minta ku obati, sekalian mau meminta amaliyah agar bisa dijalankan, lalu aku ambilkan amaliyah dasar dzikir pondasi yang biasanya ku berikan pada orang yang meminta amalan kepadaku.

Ku katakan dzikir pondasi, sebab itu bagiku adalah dzikir permulaan sebelum seseorang menjalankan dzikir tingkatan dalam thoreqoh, dzikir itu tak bedanya membangun rumah, diawali dengan pondasi, dan diusahakan pondasi itu kokoh dan kuat, makin kuat pondasi seseorang maka jika rumah itu makin tinggi dan bertingkat, maka tidak akan ada bahaya bagi orang yang menjalankan dzikir, yang sering terjadi, seseorang itu menjalankan dzikir dan wirid selalu diambil pokoknya, tanpa pondasi lebih dulu, maka makin tinggi dzikir yang dijalankan, hampir bisa dipastikan kemudian akan terjadi masalah, kalau tidak orangnya yang tak kuat, kemudian menjadi gila, ya kebanyakan kemudian dikuasai jin, dan disesatkan.
Awalnya aku juga tak berprasangka apa-apa, kertas tulisan dzikir pondasi ku serahkan kepada Aisyah, tapi setelah Aisyah itu memegang kertas dzikir, tiba-tiba tangannya bergetar tak bisa dikendalikan, kedua tangannya bergetar tak karuan, dia juga heran.

“Eh kenapa tanganku ini tak bisa ku kendalikan” jerit Aisyah.

Aku sendiri heran, kenapa kok jadi seperti itu, tiba-tiba tubuhnya terjengkang dan dia mengalami kesurupan, seketika suaranya berubah.

“Hiihiiiihihihi, kau ingin mengeluarkanku, tidak bisa, aku tak mau keluar” kata suara Aisyah yang menjadi suara nenek-nenek.

Wah dia kesurupan, pikirku. Lalu aku bertanya.

“Siapa ini?” tanyaku.
“Aku yang menghuni tubuh ini” jawab nenek tua yang ada di tubuh Aisyah.
“Lalu kamu siapa?” tanyaku lagi
“Aku jin yang ada di tubuh ini” jawabnya.
“Jin kiriman atau jin yang masuk sendiri?”.
“Aku jin kiriman”.
“Siapa yang mengirim?”.
“Mau tahu saja”.

Karena ku tanya tak mau menjawab, maka segera jin ku keluarkan, tapi baru saja jin ku keluarkan, sudah berganti dengan jin yang baru, wah banyak juga jin yang di dalam, pikirku. Maka ku keluarkan lagi jin yang kedua, dan kembali lagi, ada jin lagi yang di dalam, sampai tiga kali ku keluarkan jin yang di dalam, ku lihat Aisyah lelah, maka ku suruh saja istirahat dan mandi di rumah kakaknya dulu, tapi baru saja dia pulang mandi di rumah kakaknya, aku dipanggil kakaknya, karena lagi-lagi Aisyah kerasukan, kali ini jin yang lain lagi. Dan untuk lengkapnya pas jin ini merasuk dan saat ku keluarkan, sudah ada videonya, karena saat itu banyak yang melihat dan yang menonton, pas kebetulan ada yang bawa HP sehingga kejadian pas bisa direkam, dan untuk melihatnya bisa di buka di youtube.

Setelah jin yang di video itu mencoba menyerangku, lalu tangan Aisyah ku tempelkan ke dadaku dan kepanasan, juga ilmunya musnah, maka sampai besoknya dia tak kerasukan lagi, sampai besoknya dia datang lagi ke rumahku, ingin ku cek masih ada tidak jin di dalam tubuhnya, maka ku arahkan tapak tanganku ke arah dadanya berjarak 15 cm, dan seketika yang ada di dalam tubuhnya bereaksi. Kali ini bukan tertawa-tawa seperti suara nenek-nenek, tapi menggerung-gerung dengan suara lelaki,

“Tahu juga lu di mana aku sembunyi” kata suara Aisyah yang sudah berubah dengan suara lelaki.
“Siapa ini?” tanyaku.
“Aku yang mengirim jin-jin masuk ke tubuh perempuan ini” jawab lelaki di tubuh Aisyah.

Aku heran juga, berarti ilmu orang ini lumayan tinggi, pasti dia memakai ilmu raga sukma, tapi aku tak perlu gentar, maka ku serang dia, dan juga videonya bisa disaksikan di youtube, bagaimana lelaki yang dalam tubuh Aisyah itu menyerah dan tak sanggup melawanku, sebenarnya juga bukan aku ini orang yang sakti, tapi karena bagiku orang yang bersandar pada Allah, maka Allah itu lebih sakti dari jin manapun, dan ilmu manapun, jika kita bersandar pada Allah kurasa sejauh mana kita bersandar dan tawakal maka Allah pasti akan memberikan pertolongan.

Sampai akhirnya ilmu orang itu ku cabut, dan aku lupa, tidak berpikir, kalau ilmu orang itu ku cabut maka pasti dia akan susah keluar dari tubuh Aisyah, dan benar saja, ketika ku suruh keluar dan ku usahakan keluar aku sampai kuwalahan dan kehabisan akal, orang itu tetap tak bisa ku keluarkan, sampai dia mengatakan “ayo bantu keluarkan aku, aku tak bisa keluar, bantu aku, aku sudah tak kuat lagi, di dalam sangat panas,”

Sementara aku sendiri sudah mengarahkan segenap tenaga, tetap saja tak mampu ku keluarkan, sampai aku sendiri bingung, harus bagaimana, sampai ada bisikan di hatiku untuk meminta kekuatan semua karomah guruku, sampai bersambung kepada Nabi, lalu ku pegang tangan Aisyah, dan ku berdo’a supaya Allah membersihkan tubuhnya dari kekuatan jahat orang yang ada di tubuhnya, dan Alhamdulillah Aisyah terbebas, dan sembuh dengan total. Dua hari kemudian kembali ke Jakarta.

Kalau lagi urusannya santet dan jin, maka biasanya urusannya kembali yang datang juga seperti itu, setelah masalah Aisyah selesai, datang lagi perempuan setengah baya, dia bercerita kalau mengalami sakit sudah lama, tapi begitu juga jika diperiksakan ke dokter maka tidak ditemukan sakit sama sekali, dia bercerita kalau sudah kemana saja mencari obat, tapi tak juga ada kesembuhan didapat, namanya bu Maslahah, menurut ceritanya, di tubuhnya sering ada dirasakan sesuatu yang berjalan, tak tahu apa itu, dan sakitnya sampai ke sekujur tubuh, dari kepala, dan mata tak bisa melihat, sampai gigi juga rasanya copot semua, dan dadanya sesak katanya sulit bernafas, juga jika berdiri kemudian limbung, dan yang aneh di bagian-bagian kulitnya ada bundaran selebar gelas menghitam, dan gatalnya minta ampun.

Kucoba pegang pergelangan tangannya, dia langsung ingin muntah, wah kayaknya seperti penyakitnya Aisyah, pikirku. Tapi setelah ku coba deteksi, aneh tak ku rasakan getaran apa-apa, juga dia tidak mau muntah lagi, cuma tubuhnya merasa kepanasan, dan yang aneh setengah jam kemudian di pergelangan tanganku ada warna hitam, sebesar kelereng, aku heran, dan ku pegang rasanya nyeri.

Maslahah hanya ku beri air, dan alhamdulillah besoknya dia sms katanya penyakitnya sudah tak dirasakan lagi dan tubuhnya sudah enakan, tapi dua hari kemudian dia datang lagi, katanya penyakitnya dirasakan lagi, dan ku coba beri air lagi, belum tahu bagaimana perkembangannya selanjutnya, semoga saja dia sembuh, dan tak kambuh lagi penyakitnya.

Bersambung kisah sang kyai guru bagian 67.

Whatsapp: 0852 1406 0632

Agen Bola SBOBET