Pedang Tujuh Naga Bagian 3: Chapter 2

Sebelumnya pedang tujuh naga bagian 3: chapter 1.

Chapter 2: Tewasnya Iblis Merah

Ling pun berjalan meninggalkan hutan bersama Ayu wanita desa, menyusuri sungai dan juga semak-semak belukar. Desa Mayit serasa begitu sepi dan para penduduknya amat jarang sekali terlihat, padahal desa Mayit desa yang sangat subur dan makmur berbagai macam tumbuhan hidup di desa tersebut. Sesampainya di kediaman Ayu wanita desa, kedua mata Ling terlihat sibuk memperhatikan sekelilingnya. Ling memang sedari kecil belum pernah keluar dari dalam goa, saat berada di desa mayit Ling merasa keheranan dengan dunia luar.

“Silahkan masuk pendekar Ling” ucap Ayu sembari membuka pintu kayunya yang tidak di palang.
“Terima kasih, mengapa desa ini terlihat sepi sekali?” tanya Ling kepada Ayu.
“Mereka sangat jarang ke ladang untuk bercocok tanam pendekar Ling, sebagian para penduduk disini mengabdi dengan iblis merah di kaki gunung merah sana pendekar Ling, kegiatan mereka lebih senang di kaki gunung merah itu untuk memperoleh harta secara cepat” jelas Ayu.
“Astaga! Begitu rupanya” ucap Ling.
“Bicaranya nanti saja silahkan pendekar Ling di minum airnya, aku mau bakar ikan untuk kita makan bersama” ucap Ayu.

Menunggu Ayu menyiapkan hidangan, lalu Ling keluar dan duduk di bale-bale bambu. Saat terik matahari kedua orang tua Ayu pulang dari ladang dengan keringat yang mengucur membasahi tubuhnya.

“Siapa orang asing di pondok kita itu romo?” ucap biyung Tari istri romo Suryo.
“Mungkin orang lewat sekedar meneduh biyung!” jawab romo Suryo kepada istrinya.
“Ndhuk apa kau sudah pulang?” ucap biyung Tari kepada anak gadisnya.
“Iya biyung sebentar” jawab Ayu dari dalam.

loading...

“Siapa kau cah Ayu?” tanya romo Suryo kepada Ling.
“Aku hanya seorang pengembara yang menumpang berteduh paman” balas Ling.
“Eh, romo sama biyung sudah pulang” ucap Ayu.
“Apa wanita ini sahabatmu ndhuk?” tanya biyung Tari.

“Iya benar biyung itu pendekar Ling, dia yang menolong aku saat mau mencari kayu di hutan, aku mau di perkosa b*jingan-b*jingan keparat di dalam hutan biyung, aku tidak tahu andai pendekar Ling tidak menolong aku saat itu” jelas Ayu kepada biyungnya.
“Astaga! Kau tidak apa-apa ndhuk?” ucap biyung Tari.

“Tidak apa-apa biyung” balas Ayu.
“Kami ucapkan terima kasih pendekar Ling, telah menolong putriku, cepat ndhuk hidangkan makanan untuk pendekar Ling” ucap romo Suryo kepada Ayu.
“Iya, romo, biyung ini hidangannya aku sudah siapkan” ucap Ayu.

Siang itu Ling dan Keluarga Ayu makan bersama-sama, setelah beristirahat sebentar, Ling pun pamit kepada Ayu dan kedua orang tuanya.

“Paman, bibi aku mohon pamit untuk meneruskan perjalananku” ucap Ling.
“Hendak kemana kau pendekar Ling, lebih baik kau tinggal disini bersama kami” balas romo Suryo.
“Benar pendekar Ling, kau tinggal saja bersama kami” sahut biyung Tari.
“Iya bibi terima kasih, aku sebentar di sini merasakan kalau aku seperti ditengah-tengah keluargaku sendiri, aku tidak ingin lebih lama lagi disini, aku takut kalian akan mendapati masalah” ucap Ling.

“Baiklah pendekar Ling, aku junjung tinggi budi baikmu karena telah menolong aku di hutan, sekiranya kau menginap malam ini dan esok paginya kau boleh melanjutkan perjalananmu pendekar Ling” pinta Ayu kepada pendekar Ling.
“*Hmm, baiklah kalau begitu” balas Ling.

Saat malam hari Ling dan Ayu saling bercerita, yang di temani penerangan lampu sumbu lalu Ling pun menanyakan kepada Ayu siapakah Iblis Merah.

“Iblis Merah itu gerombolan perampok di desa-desa, siapa yang melawan saat di mintai upeti maka istri dan anak gadisnya akan di perkosa pendekar Ling” terang Ayu.
“Bi*dab sekali mereka bertindak semena-mena, benar-benar binatang terkutuk” ucapan Ling menggetarkan pedang tujuh naga yang tergeletak.

Saat Ayu Lestari belum selesai bercerita, tiba-tiba leher Ayu terkena sumpit beracun dari arah luar.

“*Argh, pendekar Ling rupanya ada yang mendengar pembicaraan kita dari luar, mungkin kedua lelaki di hutan itu pengikut Iblis Merah dan para kawannya kesini untuk membalas dendam” ucap Ayu kesakitan di lehernya yang terkena sumpit beracun.

“Jangan bergerak biar aku sedot bisa racunnya” ucap ling.
“Ada apa ndhuk, kau kenapa?” ucap romo Suryo.
“Kenapa kau ndhuk” ucap biyung Tari menghampiri putrinya.
“Tenang paman, bibi aku sudah menghentikan racunnya, jaga Ayu dan kalian jangan keluar dari pondok! Aku ingin tahu siapa penyusup yang melukai Ayu” tegas Ling.

Ling pun membuka pintu dan loncat keluar mencari penyusup yang melukai Ayu.

“Keluar kau binatang-binatang terkutuk! aku tahu kalian bersembunyi, jangan sampai aku seret paksa kalian keluar semua” ucap Ling.

Gertakan Ling terdengar pelan, namun sangat berpengaruh bagi mereka. Tak berapa lama keluarlah lima belas orang penyusup dari persembunyian mereka.

“Serahkan pedang yang kau miliki itu gadis cantik” ucap salah satu pemimpin gerombolan Iblis Merah.
“Ambillah jika kalian mampu” balas Ling.

Selanjutnya pedang tujuh naga bagian 3: chapter 3.

Salim

Salim

"Aku menuliskan kisah tanpa pena serta tanpa lampu. Hal yang aku senangi ialah tertawa, juga menghindar dari keramaian. Aku begitu bahagia bersembunyi di tempatku yang gelap, karena tak ada yang dapat melihatku, dan aku begitu mudah melihatmu"

All post by:

Salim has write: 39 posts

Please vote Pedang Tujuh Naga Bagian 3: Chapter 2
Pedang Tujuh Naga Bagian 3: Chapter 2
1.5 (30%) 2 votes