Winning228
HOKI365BandarQSUHUBOLA

Haloo guys ketemu lagi dengan saya, Ahmad raihan firdaus kali ini saya akan menceritakan pengalaman nyata saya selama saya mendaki gunung ya, mari kita mulai. Pertama-tama saya akan menceritakan terlebih dahulu tentang gunung kencana.

Gunung kencana adalah gunung yang berada di sebelah barat area pariwisata puncak bogor tepatnya berseberangan dengan tempat pariwisata Rindu Alam puncak, konon katanya gunung kencana baru di buka pada tahun 2016, gunung kencana mempunyai spot yang sanggat bagus, dari atas tampak jelas sekali gunung gede pangrango dan gunung salak, tapi di balik keindahannya terdapat juga sisi mistisnya yang saya alami saat mendaki gunung kencana.

Pertama-tama saya ingin mendaki gunung kencana bersama satu orang teman saya, karena gunung kencana termasuk gunung yang relatif pendek sekitar 1800 mdpl, saya mengenal gunung kencana dari rekan saya yang baru kemarin mendaki gunung kencana, saat saya mengajak teman saya, saya memulai perjalanan dengan menggunakan motor dari arah pasar minggu jakarta selatan, setelah kira-kira saya berangkat pukul sepuluh malam, saya melewati jalur puncak melewati depok dan sampai di jalur puncak.

loading...

Setelah saya sampai di jalur puncak sekitar pukul 1 pagi, saya akhirnya berhenti di sebuah warung untuk mengisi perut sekaligus membeli perbekalan untuk mendaki, karena planing saya saya ingin menginap di puncak kencana untuk bermalam, setelah itu saya melanjutkan perjalanan untuk mencari base camp gunung kencana, setelah saya mutar-mutar dan akhirnya penuh saya pun membeli tiket simaksi sebesar 10.000 untuk dua orang, setelah itu jarum jam menunjukan pukul 01.30 setelah itu saya melanjutkan untuk menuju tempat parkir motor dan saya akan melalui jalan berbatu dan menanjak.

Setelah saya tanya dengan penjaga base camp, dia bilang bahwa jalan berbatu dan menanjak yang akan saya lalui sepanjang kurang lebih 9,5 kilo meter untuk sampai ke tempat parkir motor dan bisa melanjutkan untuk menanjak, setelah saya jalan, saya sangat ketakutan karena kondisi jalan gelap dan di kiri dan kanan banyak sekali rimbun tumbuhan teh, setelah kurang lebih 2,5 kilo meter saya mulai meresa takut karena kondisi jalan yang sangat sepi dan hanya motor saya yang berada di jalur tersebut.

Setelah itu saya mendengar banyak sekali suara keramaian dari balik bukit yang saya lewati seperti perkampungan atau semacamnya, setelah saya melewati bukit, saya kaget karena saya tidak menemukan apa-apa dan saya pun melantunkan surat-surat pendek selama perjalanan, setelah itu hal aneh terjadi lagi saya melihat buruh teh di perjalanan dan saya menegurnya, sosoknya seorang nenek kira-kira umurnya 50 tahunan sedang menggendong keranjang teh dan mamaki topi camping, setelah saya melihat perkampungan saya akhirnya berhenti untuk melanjutkan perjalanan jika matahari sudah terbit, dan saya bernenti di warung untuk meminum kopi, *ngopi lah *hehe saat saya bertanya kepada ibu warung.

Saya: bu, ibu buka warung 24 jam disini?
Ibu Warung: iya dik memang kenapa?
Saya: engga bu, saya mau tanya, tadi kok ada orang ya jam 02.15 metik teh malam-malam bu?
Ibu Warung: ah mas ada-ada saja, mana ada orang metik teh jam 2 malam mas, kalau disini tuh ya metik teh dari jam setengan 6 pagi mas sampai sore, jadi selebihnya nggak ada yang metik, apa lagi kalau jam segini.

Saya: benaran buu saya tadi lihat, dia mengarah kesini, itu tadi di tikungan depan.
Ibu Warung: sudah mas nggak baik ngomong gini malam-malam, saran saya mas, mas tunggu sini saja sampai pagi, nanti baru lanjut lagi, soalnya kalau malam memang gitu mas disini, ada yang bilang lihat orang kerdil lah ada yang bilang lihat kakek-kakek lah, macam-macam mas pokoknya.
Saya: oh ya sudah bu saya numpang tidur ya.
Ibu Warung: iya mas gak apa-apa.

Saat pagi saya terbangun untuk membeli sarapan dan melanjutkan perjalanan, saat saya melihat kiri dan kanan pemandangannya sangat bagus sekali, dari timur terlihat gunung gede dan pangrango berdiri tegap dan dari barat terlihat gunung salak yang di selimuti awan putih menggumpal. Saat saya sampai di base camp saya membayar tiket parkir sebesar 10.000 dan melanjutkan perjalanan karena sudah pukul 07.30 setelah itu saya sampai di tanjakan sambalado yang cukup menantang, setelah pos-pos kami lalui kami sampai di puncak pukul 09.10 setelah itu kami memutuskan untuk mendirikan tenda di puncak karena cukup luas untuk 10 tenda.

Setelah malam kami pun keluar untuk memasak makanan makan malam setelah itu, di luar hanya terdapat kami saja dan satu tenda lagi yang tingkah lakunya mencurigakan, ketika kami meminta minyak untuk menggoreng tempe, dia tidak mau menatap kami dan hanya menunjukan dimana minyak tersebut, setelah kami tidur karena kedinginan kami pun terbangun karena mendengar ada seperti pendaki lain yang menghampiri tenda kami. Setelah saya buka ternyata penjaga pos base camp gunung kencana beserta temannya sekitar 4 orang, setelah saya kebingungan ada apa, dia berkata.

“Dari tadi saya cari, saya kirain mas nyasar, tenyata mas di puncak, kan mas tahu di gunung kencana belum boleh ada yang menginap di atas mas, karena takut angin kencang”.
“Lagi pula juga pak, saya nggak sendiri kok disini, saya sama pendaki lain itu tendanya disamping saya”.
“Pendaki?”.

Crew pun kebingungan, pada saat saya melihat kebelakang ternyata hanya terdapat tenda saya, dan badan saya pun lemas dan keringat dingin keluar dari tubuh saya.

“Perasaan tadi isya ada mas yang disini sama saya, orang saya lihat jelas banget kok mas”.
“Nggak ada mas tadi pengunjung di bawah sudah checklist dari jam 4 makanya tinggal mas berdua, saya kira mas nyasar, makanya saya langsung kesini”.

Seketika saya langsung tidak bertenaga untuk turun bersama crew, dalam pikiran saya terbayang-bayang, siapa tadi? Kok bisa? Perasaan tadi ada deh? Sampai saat ini saya masih mempercayai bahwa setiap gunung memiliki urban legendnya masing-masing, tamat.

Agen Bola SBOBET