Sosok yang Tak di Kenal - 5 Views

Hai, nama saya Mahardika, disini saya akan membagi cerita saya tentang sosok yang tak di kenal yang saya alami ketika masih duduk di bangku sekolah dasar. Sekitar pertengahan tahun 2009 ketika saya duduk di bangku kelas 6 SD, untuk kesekian kalinya saya menginap di rumah nenek saya, yang tidak terlalu jauh dengan rumah saya, namun saya tetap menginap karena sepupu saya, Giland datang dari malang, dan pindah sekolah disini, Jember.

loading...

Tentu hal tersebut yang membuat saya sangat untuk menginap di rumah nenek saya, dimana Giland sendiri memang tinggal disitu, di tambah memang hanya Giland seusia saya yang kini tinggal di Jember. Sebenarnya sebelum ada Gilandpun, saya sudah berkali-kali tidur di rumah nenek saya, namun tidak pernah ada hal yang janggal.

Di samping saya masih kelas 6 SD saat itu, tapi *toh saya juga sudah mengerti antara hal yang wajar dan tidak wajar sehingga dalam benak saya, saya yakin bahwa memang tidak ada hal aneh disana. Memang ibu saya pernah bercerita melihat paman saya, om dodik yang juga tinggal disitu tiba-tiba ada dua, dan banyak cerita-cerita (nyeleneh) lainnya disana.

Rumah nenek saya memang di tinggali beberapa keluarga yang semuanya berasal dari kakek dan nenek saya, sehingga banyak saudara-saudara saya yang tinggal disana bercerita tentang kejanggalan di rumah tersebut, namun saya bersyukur tidak pernah mengalami hal yang janggal disana. Hingga suatu malam ketika saya tidur bersama nenek dan sepupu saya Giland yang saya ceritakan tadi, akhirnya saya mengalami hal yang pertama kali saya alami.

Saat itu saya tidur berdua dengan Giland di atas kasur, sedangkan nenek saya tidur di kasur juga namun sebelah kasur saya, jadi berbeda kasur dengan saya dan Giland. Kamar nenek saya pintunya bersebelahan dengan jendela-jendela yang berukuran se-pintu tersebut, jendela itu ada hingga ujung sisi tembok. Posisi tidur saya tegak lurus dengan tembok tersebut, jadi bila saya membuka mata, saya bisa melihat luar kamar saya.

Di depan kamar saya terdapat lorong biasa di pakai untuk tempat makan, dan lurus di salah 1 sisi lorong, lurus dengan kamar, terdapat jendela-jendela lagi yang berbatasan dengan ruang tamu, sehingga sayapun bisa melihat ruang tamu melalui 2 sisi jendela-jendela tersebut dari kamar nenek saya.

Waktu menunjukkan pukul sebelas lewat. Saudara-saudara saya yang lain sudah tidur, seluruh lampu telah di matikan, kecuali lampu teras depan. Ada sebuah ventilasi pada tembok pembatas antara ruang tamu dengan teras, sehingga cahaya dari lampu teras bisa masuk ke ruang tamu dan saya bisa melihat ruang tamu tersebut. Saat itu saya tidak bisa tidur, entah. Biasanya pukul setengah sebelaspun saya sudah tertidur.

Namun mungkin karena hawa di kamar tersebut tiba-tiba sedikit gerah, jadi saya tidak terbiasa dan sulit untuk tidur. Ketika saya sedang melihat ruang tamu yang sudah kosong tadi, tiba-tiba ada sesosok yang entah apa itu, dengan postur yang tingginya sama dengan jendela, sedangkan jendela sendiri bagian atasnya setinggi 2 meter lebih. Jadi saya yakin makhluk itupun tingginya mencapai 2 meter lebih.

Saya tidak mengetahui persis bagaimana posisi makhluk tersebut, namun sepertinya kepalanya berada di dadanya, atau mungkin makhluk itu membungkuk jadi kepalanya hampir lurus horizontal dengan dadanya, warnanya coklat, dan ada seperti kain yang terjuntai di depan kepalanya. Saya sempat mengira bahwa itu adalah pocong, karena konon tinggi dari pocong sendiri mencapai 2 sampai 2,5 meter, namun makhluk ini berwarna coklat meskipun tangannya pun sama seperti pocong yang terlipat di depan perutnya.

Makhluk itu muncul dari sisi sebelah kiri tembok pembatas antara lorong depan kamar dengan ruang tamu, melewati jendela-jendela yang lurus dengan kamar tempat saya tidur, dan menghilang karena tertutup tembok di sisi kanan. Pertama kemunculannya hanya membuat saya berpikir mungkin itu paman saya, namun anehnya kemunculan yang kedua dan ketiga sama-sama muncul dari sisi kiri tembok lagi.

Keringat saya mulai bercucuran, saya berusaha memanggil sepupu saya, Giland dan nenek saya, tapi seolah mulut saya ini tidak bisa di gerakan, di tambah lagi makhluk itu tiba-tiba muncul dari sisi kanan tembok lalu berhenti di tengah-tengah barisan jendela, lurus dengan arah pandangan saya. Makhluk itu menengok ke kanan dan ke kiri seolah mencari sesuatu, dan ketika melihat ke arah saya, saya melihat matanya bulat seperti tidak ada kelopak matanya, dan warna agak kecoklatan seperti membusuk.

Ketika menghadap ke arah saya makhluk itu manggut-manggut cukup lama dan tiba-tiba dia melompat-lompat dan menghilang tertutup tembok di sisi kiri saya. Ketika makhluk itu menghilang, entah mengapa tiba-tiba saya mengantuk meskipun keringat masih berucucuran, lalu entah bagaimana kemudian saya tertidur dan terbangun paginya sekitar pukul 5 pagi.

Saya langsung memanggil nenek saya ketika terbangun, nenek saya terbangun dan saya menceritakan apa yang terjadi semalam kemudian saya memaksa untuk di antarkan pulang saat itu juga. Sejak peristiwa itu, saya tidak berani lagi untuk tidur di rumah nenek saya, meskipun beberapa bulan setelahnya semuanya pindah ke rumah yang baru, namun saya bersikukuh untuk tidak menginap di rumah nenek saya lagi.

Sampai saat ini saya terkadang memikirkan tentang makhluk apa yang saya lihat beberapa tahun yang lalu itu, mungkin genderuwo, mungkin pocong, mungkin juga makhluk lain yang entah itu apa, karena saya sendiri awam tentang hal tersebut dan itu pengalaman pertama saya, meskipun begitu memang sudah dari kecil saya di ajarkan untuk percaya bahwa makhluk dimensi lain itu ada, tapi memang saya tidak berharap untuk bertemu baik secara kasat mata, ataupun sekedar suara-suara belaka.

Sekian cerita dari saya, mohon maaf bila mungkin ceritanya kurang seram atau bahkan tidak seram, karena saya sendiripun tidak bisa mendefinisikan secara pasti tentang makhluk yang saya lihat dan ini pertama kalinya saya bercerita disini, biasanya saya menceritakannya secara langsung. Untuk yang telah membaca, saya ucapkan terima kasih.

Agen Bola SBOBET