has write 2 articles | You are reading: Suara yang Kami Dengar Ternyata Tidak Sama! - 1506 Views

Hai para pembaca KCH! Setelah sebelumnya aku berbagi kisahku ketika mendengar suara tawa di kamar mandi, kali ini aku punya kisah mistis lainnya ketika aku kuliah di Bandung. Sebut saja aku kuliah di jurusan X, universitas Z. Ini terjadi saat kuliah tingkat akhir. Aku lebih sering menghabiskan waktu di-Lab (baca: ruang asisten laboratorium) untuk menyelesaikan skripsi.

Biasanya, setiap hari Lab sangat ramai dengan teman-teman satu jurusan dengan segala kesibukannya. Ada yang menulis skripsi, nonton film, main dota, atau mengerjakan tugas lainnya. Namun, selama ini aku tidak pernah menginap atau pulang pagi dari Lab. Hingga suatu hari aku berniat begadang sampai pagi untuk mengerjakan skripsi di-Lab (alias nginap).

Ternyata, pada hari itu semua teman-teman Lab kompak pulang cepat. Tapi itu tidak mengurungkan niatku untuk begadang di-Lab, lah *wong sudah prepare ini itu. Aku tidak seberani itu juga sih sendirian di-Lab. Akhirnya aku minta di temani oleh teman dari sub-jurusan lain. Oh iya, sebenarnya aku tahu bahwa lab jurusan X dan Y ini terkenal angker, banyak cerita macam-macam yang sudah aku dengar.

Tapi karena aku bukanlah orang yang sensitif dengan hal-hal gaib maka aku yakin tidak akan di ganggu. Walaupun tidak sepenuhnya berani, aku masih yakin bisa begadang sampai pagi asalkan ada teman. Satu hal lagi yang aku perhatikan sejak jam 9 malam, lab dari jurusan sebelah (baca: jurusan Y) mendadak sepi dan juga tidak ada satupun orang di ruang asistennya. Ruang asisten jurusan Y posisinya sama-sama di lantai 2 namun berseberangan dan di pisahkan oleh ruang terbuka (void).

Aku sempat berpikir, kok tidak seperti biasanya ya semua orang tidak ada yang begadang di-Lab. Seolah-olah semua orang sudah janjian. Apa aku pulang saja ya? Rasa ragu untuk tidak meneruskan begadang sempat terbesit tapi aku acuhkan. Sekitar pukul 2 pagi, aku mendengar ada suara langkah kaki orang yang bersepatu sedang naik tangga bunyinya “*dung, dung, dung”. Jadi, di dekat ruang asisten memang ada tangga besi melingkar yang terhubung ke lab jurusan Y. Saat mendengar itu aku *cuek saja dan tidak berpikir macam-macam.

Tidak lama dari itu aku merasa lelah dan berbaring di kasur lipat. Temanku sudah lebih dulu berbaring disitu. Meskipun lelah, keadaan yang hening membuat otak ini berpikir hal yang semestinya tidak perlu di pikirkan. Aku yakin dalam keadaan sadar dan tidak berhalusinasi bahwa tadi aku memang mendengar suara langkah kaki di tangga melingkar.

Tapi yang membuat ganjil adalah tidak ada suara langkah kaki lagi, tidak ada tanda-tanda keberadaan orang di-Lab jurusan Y. Hal ini membuatku cemas, apa iya tadi aku mendengar langkah kaki atau hanya khayalan? Lalu aku menepuk pundak temanku yang tidurnya membelakangiku seraya bertanya.

“Sudah tidur?”.
dia menyahut “belum, kenapa?”.
Kemudian aku berkata “dengar gak tadi?”.

Sontak temanku kaget dan balik badan.

“Kamu dengar juga?”.

Aku menjadi lebih panik dari sebelumnya begitu mendapati temanku sama paniknya. Kemudian dia bangun dan mengajakku keluar dari Lab. Kata dia, mending kita begadang di warung roti bakar saja dari pada disini “nanti aku ceritain” katanya. Sambil jalan menuju ke warung roti bakar yang buka 24 jam di depan kampus, aku mengulangi pertanyaan lagi “kamu dengar suara orang naik tangga?”. Dia menatapku keheranan lalu dia kembali menatap jalan ke depan masih terdiam. Aku bertanya lagi.

“Dengar gak? Jangan bikin takut *dong”.
Temanku menjawab “aku gak dengar suara orang naik tangga”.

Aku jadi ikutan bingung. Aku yakin seyakin-yakinnya bahwa aku memang mendengar.

loading...

“Lah? Terus kenapa tadi bilangnya dengar?” tanyaku.

Sejenak dia berpikir sebelum berkata.

“Aku dengar suara ketawa di kupingku pas banget sebelum kamu tanya”.

Kali ini aku yang di buatnya kaget karena aku tidak mendengar suara tawa itu. Kami terdiam dan berjalan semakin cepat. Entah karena takut atau supaya tidak kedinginan. Akhirnya kami menghabiskan sisa pagi di warung roti bakar sampai subuh. Sejak saat itu aku tidak mau lagi begadang di-Lab kalau hanya berdua.

Agen Bola SBOBET

About me :

Galadriel