Hantu di Depan Cermin - 25 Views

Cerita ini terjadi pada tahun 1963 dan yang mengalaminya yaitu ibu dan bibiku. Penasaran? Begini ceritanya, saat itu ibuku masih berusia 8 tahun. Setiap malam ibu, bibi dan uwakku selalu belajar di meja makan yang bentuknya memanjang. Tak terasa, jam tua telah berbunyi yang menandakan waktu tepat pukul 10 malam. Ibu dan bibiku menyudahi pelajarannya untuk bergegas tidur, sedangkan uwakku selalu masih belum beranjak dari tempat duduknya untuk bergegas tidur.

“Aa (panggilan ibu kepada uwakku), neng sudah ngantuk nih! Ayo kita tidur” ajakan ibu kepada uwakku.
“Ya sudah neng tidur duluan saja, aa masih harus belajar karena besok ada ulangan” sahut uwakku.

Kemudian ibu dan bibiku pergi ke kamar mandi untuk sikat gigi, cuci tangan dan kaki terus melangkah ke kamar tidur. Setelah semuanya siap, lalu ibu dan bibiku berbagi selimut karena suhu saat itu sangat dingin. Setelah berbagi selimut, keduanya pun tidur. Tapi tak berselang lama, ibuku kembali terjaga karena ada seseorang duduk di ujung ranjang.

Sebagai informasi di kamar ibuku ini, diujung ranjangnya itu ada sebuah lemari baju yang di bagian pintu luarnya terdapat cermin dan Jarak antara ujung ranjang itu menyisakan celah kira-kira setengah meter. Celah itu berfungsi untuk posisi duduk di ranjang saat bercermin di lemari itu. Ibuku mencoba membuka matanya pelan-pelan, dan dugaan beliau tepat! Ada yang duduk di ranjang itu sambil bercermin dan dandan. “Itu siapa?! Dari mana dia masuk?!” batin ibuku bertanya.

Karena merasa ada yang memperhatikan, sosok itu kemudian melihat ibu! Ibuku terkejut setengah mati! Dengan mata melotot menatap ibu serta dandanan yang belum selesai, sosok itu berdiri. Ibuku yang ketakutan, menarik selimut hingga menutupi wajahnya dan mengintip dibalik celah-celah selimut memperhatikan kemana sosok itu melangkah. Ternyata, sosok asing tersebut melayang dan menembus dinding kamar ibuku!.

Sementara itu, uwakku masih tetap belajar dan tidak bergeming dari tempat duduknya di meja makan itu di temani secangkir teh manis dan lampu temaram. Tak berselang lama, uwakku merasa pegal. Kemudian beliau mencoba merenggangkan otot-otot yang kaku karena belajar. Sambil merenggangkan otot-otot, uwak melihat seseorang sedang duduk di kursi sambil menyisir rambutnya.

Karena ingin belajar lagi, uwak kembali berkosentrasi pada pelajaran yang akan di ulangkan esok hari. Tiba-tiba uwak memutuskan berhenti belajarnya, pikirannya kemudian bertanya. Siapa sosok tadi? Apakah ambu (ibu dari uwak, ibu dan bibiku)? Tapi buat apa ambu sisiran malam-malam?

Kemudian uwak coba memberanikan diri melihat lagi sosok itu, dan ternyata sosok itu telah hilang! Alangkah terkejutnya uwak dan di lemparkannya buku yang beliau pegang, sambil berteriak “ada hantu”. Teriakan itu sontak membuat abah, ambu, ibu dan bibiku terjaga dari tidurnya dan mendekati meja makan tempat uwak belajar.

“Ada apa nak?” tanya abah.
“Itu bah, tadi ada hantu disitu (sambil menunjuk kursi yang di duduki hantu tersebut)” jawab uwak.
“Sudah-sudah, mana ada hantu disini? Sudah sekarang semua tidur. Besok kan sekolah” kata abah.

loading...

Setelah di tenangkan abah, uwak memilih untuk tidak melanjutkan belajarnya dan bergegas tidur, begitupun dengan ibu dan bibiku yang kembali ke kamarnya dan tidur tanpa cerita ke siapa-siapa tentang hantu yang bercermin di kamarnya.

Agen Bola SBOBET