has write 3 articles | You are reading: Kampungku di Teror Pocong - 3285 Views

Assalamu’alaikum schobat KCH, ini cerita kedua saya, cerita pertama saya yang berjudul “rumah itu di kutuk” ada setitik pelajaran bahwa kita selaku manusia untuk menjaga ucapan, berhati hati dalam bersumpah dan berdo’a, karena sumpah yang buruk akan di dengar oleh iblis. Balik ke cerita, kejadian ini sekitar tahun 1998 bulannya saya lupa, tapi saya ingat persis waktu itu di kampung saya di desa Cibanteng, Ciampea, Bogor, pernah di gegerkan oleh pocong yang bergentayangan setiap malam.

Ceritanya bermula saat salah satu keluarga di kampung kami punya kerabat dari Jakarta dan meninggal, usut punya usut ternyata kerabatnya tersebut adalah seorang preman, tukang mabuk, dan semacamnya, mungkin karena biaya pemakaman di Jakarta yang mahal pada saat itu, akhirnya yang bersangkutan di makamkan di TPU kampung saya dengan dalih masih keluarga salah satu pribumi, sehingga di ijinkan oleh pengurus TPU.

Berdasarkan adat keluarga mayit mungkin adat Jakarta (entahlah), rupanya setelah acara pemakaman selesai tikar bekas mayit di tinggalkan di kuburan, dan melepas seekor ayam jantan di kuburan, setelah selesai prosesi pemakaman bekas tikarnya di ambil oleh kerabat mayit yang tinggal di kampung saya, dan ayam jagonya di bawa oleh pengurus TPU.

loading...

Tepat tiga hari berselang, mulailah teror tersebut muncul, yang pertama di datangi pocong adalah kerabatnya di kampung saya, pada malam hari terdengar suara seperti benda berjatuhan di dapur, tapi setelah di periksa tidak ada satupun yang jatuh, sungguh aneh, setelah kembali ke ruang tamu kembali ada suara benda jatuh dari dapur dan kali ini alangkah kagetnya ketika yang punya rumah melihat sesosok pocong sedang berdiri di dapur rumahnya, sontak saja dia kaget bukan kepalang, dengan kain kafan yang lusuh dan kotor, sambil berkata.

“Kembalikan tikar saya”.

Rupanya si empunya rumah punya sedikit keberanian untuk menjawab si pocong, dan mengatakan.

“Iya, besok saya kembalikan”.

Dan besoknya tikar tersebut langsung di kembalikan, namun teror masih saja berlanjut malamnya pintu rumahnya di ketuk alangkah kagetnya ketika di buka ada pocong yang sedang berbaring sambil berkata “tolong, tolong” dan si empunya rumah langsung saja berkata.

“Nyingkah sia kaditu (pergi kamu dari sini)”.

Rupanya bukan cuma kerabatnya saja yang di teror, pengurus makam yang sempat membawa ayam jago itu pun tak luput dari teror si pocong, mulanya pengurus makam yang punya peliharaan kambing risih dengan suara kambingnya yang terus berteriak, dia langsung pergi sambil membawa golok, takutnya ada maling, dan setelah di lihat ke kandang kambing, kaget bukan kepalang di sangka maling ternyata pocong yang berdiri di samping kandang kambing, sambil berkata.

“Kembalikan ayam saya”.

Rupanya penjaga makam tidak gentar dengan penampilan pocongnya, ya namanya juga pengurus makam (kuncen) masa iya takut *hehe, langsung bilang.

“Iya besok saya kembalikan ayam kamu, untung belum saya potong, sudah pergi sana kamu”.

Bukan cuma dua orang tersebut saja yang kena teror pocong preman tersebut, rupanya hampir satu kampung pernah di ketuk pintu rumahnya, ketika di buka pocong yang sedang terbaring sambil berkata “tolong, tolong”. Kejadian tersebut sempat membuat kampung saya syok pada saat itu, masyarakat tidak ada yang berani keluar sehabis maghrib, dan setiap siang selalu bergunjing tentang pocong gentayangan.

Rupanya kabar tersebut sampai ke telinga si kerabat pocong. suatu hari kerabat tersebut datang ke rumah saya dan meminta bantuan kepada bapak saya untuk menghentikan teror pocong tersebut, karena dia sendiri merasa malu pada orang-orang yang membicarakannya.

K: (kerabat mayit)
B: (bapak saya)

K: assalamu’alaikum kang.
B: alaikum salam, ada perlu apa ya pak?
K: gini kang, saya sama istri mau minta tolong, akang juga pasti dengAr tentang pocong yang mengetuk setiap pintu rumah, dan mereka bilang bahwa itu adalah sodara saya yang meninggal tempo hari lalu yang dari Jakarta, jadi saya minta tolong agar supaya pocong tersebut tidak lagi gentayangan menghantui warga, saya risih kang dengan ocehan warga, katanya gara-gara saya, jadi orang-orang gak ada yang berani keluar malam.

(Bapak saya hanya tersenyum, sambil berkata).

B: ya bagus pak, habis maghrib orang-orang pada pulang ke rumahnya, gak ada yang keluyuran.
K: iya sih pak, tapi saya dan keluarga jadi malu rasanya.
B: insya Allah pak, saya coba berusaha.
K: terima kasih banyak kang.
B: sama-sama.

Meraka pun langsung pamit meninggalkan rumah saya, tepat pada sore harinya mungkin kira-kira sepuluh menit sebelum adzan maghrib beliau bapak saya pergi ke kuburan, anehnya pada saat itu tidak ada satupun burung yang muncul, tapi saat bapak saya sudah dekat dengan kuburan tersebut, burung-burung langsung berdatangan dan semua burung pada bersiul, ya meskipun bapak saya suka urusin hal tersebut, tetap saja beliau juga ada rasa merinding, suasana semakin mencekam tatkala beliau bapak saya duduk di kuburan.

Sambil membawa air putih dari botol dan menancapkannya kira-kira tepat di pusar kuburan sambil membaca ayat Qur’an surat an-nasr sampai selesai selama tiga kali. Beliau pun langsug bergegas pulang, untuk menunaikan ibadah shalat maghrib. Alhamdulillah setelah itu tidak lagi ada warga yang di ketuk pintu rumahnya oleh pocong tersebut, artinya teror pocong sudah menghilang di kampungku, suasana kembali kondusif. Esoknya saya bertanya kepada bapak saya.

N: saya
B: bapak saya

N: pak, kenapa sih orang bisa jadi pocong?
B: karena kelakuannya, rohnya yang asli itu sudah kembali ke pemiliknya, nah yang suka gentayangan itu adalah wujud dari sifat masa hidupnya, manusia lahir dalam keadaan bersih, dan kembali pun harus dalam keadaan bersih, cuman karena ada alam dunia yang kita lewati sedikit demi sedikit hidup kita bergelimang dosa, kita terlalu banyak mengerjakan amalan setan, seperti mencuri, mabuk, memeras, itu semua amalan setan, makanya pada saat kita mati, itu semua di tinggal di dunia dan jin berkuasa menjelma menjadi diri kita yang sudah mati, karena kita semasa hidup selalu mengikuti amalannya. itulah yang di namakan roh jadi-jadian.

N: oh, jadi roh dia yang sebenarnya mah sudah kembali kesana?
B: iya, dan sudah gak bisa kembali ke dunia, karena ada dinding pembatas antara alam ruh dan alam manusia, satu-satunya cara agar orang yang sudah mati bertemu yang masih hidup adalah melalui mimpi, karena mimpi itu alam ruh.

Cukup sekian cerita kali ini shobat KCH, semoaga ada hikmahnya di balik setiap cerita.

Agen Bola SBOBET