Assalamu’alaikum

Kisah ini saya ambil dari kisah nyata, dari narasumber dwy dwi dandwi. Terjadi 2 tahun silam, ketika keluarga kecilku menempati hunian baru. Ya, kami membangun istana kecil dekat rumah nenek yang dahulunya adalah pekarangan kosong.

Dahulu, area pekarangan ini banyak penghuni gaibnya. Konon katanya, ada bekas sumur (belik) yang menewaskan 2 bocah/anak kecil. Dan area ini juga, konon adalah rawa yang berpenghuni makhluk kebo nderum (kerbau berendam, dalam kubangan lumpur).

Namun bentuknya bukan seperti hewan kerbau pada umumnya. Bagi yang sanggup melihat penampakan, wujudnya seperti manusia tapi berkepala kerbau, dengan tanduk yang besar. Sebelum kami membangun rumah di lahan ini, kami bertanya pada seorang kiyai yang mempunyai ilmu agama dan supranatural.

Read Another Story:

Setelah bertanya, kamipun terkejut dengan apa yang di ceritakan oleh pak yai itu. Yang konon katanya bukan cuma makhluk itu saja, tapi masih ada miss kunti, poci dan lain-lain. Dan yang paling susah bernegosiasi/susah di usir adalah si kebo nderum. Karena rumahnya memang di situ sejak lama, sebelum zaman kompeni dan para transmigran datang ke Lampung tengah.

Untuk itu, kami di wajibkan melakukan ritual. Untuk memperkuat pertahanan, pak yai meminta kami beserta keluarga besar dari nenek (yang punya pekarangan) untuk ikut serta. Namun karena saat itu saya masih punya baby, jadi tidak bisa ikut. Alhasil, kedua orang tuaku dan kakak adik dari ibu yang datang ke rumah nenek.

Mereka berkumpul di waktu yang di tentukan. Dan acara ritual berdzikir bersama di laksanakan di dalam rumah nenek, di pandu oleh pak kyai. Setelah selesai, mereka mengelilingi semua area pekarangan yang sudah di batasi oleh pekarangan tetangga. Dan pak yai menyuruh suamiku untuk mengadzani setiap 4 penjuru/sudut perbatasan pekarangan.

Namun dia gak sanggup, dan di gantikan oleh ayah kandungku. Hingga proses selesai jam 10 malam.
Kata mbah yai, ia tidak bisa mengusir mereka, jadi mereka hanya di geser ke pekarangan lain. Itulah hasil cerita dari suamiku ketika pulang dari ritual.

Dan seminggu kemudian, kami membangun hunian di area situ. Karena pekarangan milik bersama dan sudah ada jatah dari nenek. Singkat cerita, kami boyong (pindah rumah). Kami sengaja pindah pas malam takbir, atau malam lebaran Idul fitri. Sibuk, ya tentu saja sibuk, hingga tidak pernah berkunjung di KCH. Bahkan banyak yang bertanya kemana miss demit, kemana bang jhon? Ah, ku bilang saja sedang “semedi”.

Lanjut cerita, hari ke-4 hari raya. Setelah selesai membalas pertanyaan para penghuni KCH, saya sibukkan diri ke dapur untuk membuat menu makan malam nanti. Sekitar jam 4 sore. Suasana di luar rumah masih ramai suara anak-anak tetangga yang sejak saya pindah selalu datang kerumah.

Mereka sedang asyik bermain dan berlarian bersama putri kecilku. Tak ku hiraukan suara itu sampai pada akhirnya ada suara laki-laki yang bernada besar. “Assalamu’alaikum”. Sontak saya reflek menjawab “wa’alaikumsalam”.

Ku tengok kanan dan kiri, ke arah depan ruang tamu. Tidak ada orang masuk atau bahkan seorang tamu. Padahal ku pikir itu ada tamu, karena masih lebaran. Ku tanya pada rumput bergoyangpun mereka tidak tahu. Ah, nihil. Akhirnya ku positif tinky saja, dari pada pusing masakanku gak kelar.

Selama empunya suara itu tidak nampakkan diri. Pas malam tiba, suamiku bercerita tentang horor sejak di rumah ini. Tentu saja saya marah, kenapa? Karena saya tidak terima ada isu horor di hunian baru, yang pastinya akan di tempati selamanya, bahkan mungkin seumur hidup, jadi saya tidak rela ada hal-hal mistis dan lain-lain yang mungkin akan mengganggu pikiran kita.

Setelah marah, saya ceritakan saja suara “Assalam’ualaikum” pada suamiku biar dia diam tidak mengungkit tentang cerita horor lagi. Dan apa tanggapannya? Dia terkejut, dia tidak percaya dan ah kacau pikirannya. Namun dia berkata, selama tidak mengganggu kita, tidak masalah berkunjung.

Dan hari esok,setelah suamiku pulang kerja. Dia berkata “bun, kata teman ayah gak apa-apa, itu dah terbiasa kalau ada rumah baru, dia mau ikut nempatin, tapi dia ucap salam kan bun?”. Saya hanya jawab dengan anggukkan.

“Nah kalau ada kata salam, berarti dia baik bun, dan insha Allah bisa jagain, kan banyak tuh jin yang datang di rumah orang tanpa salam, jadi gapapu bun, biarkan saja” ucap suamiku panjang lebar. Saya yang sekarang heran, padahal dia tidak suka hal mistis dan hampir tidak percaya adanya bahkan kemarin malam sempat adu argumen, sekarang dia sendiri yang meyakinkan saya. Sekian.

Share This Story On:
TwitterFacebookWhatsapp