Aden-Aden (Hantu Bercaping)

Gelak tawa para pria memecahkan kesunyian malam. Mereka sedang berkumpul di sebuah pos ronda tempat mereka. Mereka terdiri dari empat orang bapak-bapak, satu hansip dan satu orang pemuda, yang paling tua adalah pak hansip. Sedangkan empat orang bapak-bapak itu sebenarnya masih muda cuma sudah pada menikah dan punya anak, jadi mereka sudah resmi menjadi seorang bapak. Dan seorang pemuda dia bernama Didi.

Usia didi sudah 30 tahun belum punya istri bahkan pacar. Nampak mereka sedang duduk-duduk di pos ronda dan ada juga yang berdiri memegang senter yaitu pak hansip. Pak hansip dengan seragam lengkapnya menyorot-nyorotkan senter ke arah kebun bambu sambil berkata.

“Sunyi sekali malam ini ya?”.
“Betul pak hansip, kita harus waspada takut ada maling” jawab cepi sambil memasukan ubi rebus ke mulutnya.
“Ya sudah bagaimana kalau kita keliling?” sambung yaya.
“Ya ayo, tapi kita bagi dua kelompok. Kelompok pertama jalannya ke arah barat, kelompok kedua ke arah timur? Tapi jangan lupa masing-masing kelompok bawa pentungan?” jawab pak hansip.

Mereka semua setuju dan kelompok pun sudah di bagi. Kelompok pertama pak hansip, eco dan didi, sedangkan kelompok kedua yaya, cepi dan wawan. Akhirnya mereka berpencar untuk tugas ronda. Kelompok pertama mereka harus melewati kebun bambu dulu. Setelah mereka keluar dari kebun bambu, mereka memasuki perumahan warga lagi.

“Pak hansip, jam berapa sekarang ya?” tanya didi memulai obrolan dalam perjalanan ronda.
“Jam 12 malam pas di, kenapa?” jawab pak hansip yang kemudian balik nanya.
“Oh gak apa-apa kok pak hansip” jawab didi sambil tersenyum.
eco ikutan nimbrung dan berkata, “malam sekarang suasananya beda ya?”.
pak hansip langsung menjawab “ya betul, suasanya agak menyeramkan”.

Mendengar jawaban pak hansip didi dan eco yang ada di belakang mempercepat jalannya berniat maju paling depan. Pak hansip hanya senyum-senyum melihat kelakuan ke dua orang tersebut. Tiba-tiba pak hansip berhenti dan tangannya meraba saku celana dan baju dinasnya.

“Aduh, handphone saya ketinggalan di pos?” kata pak hansip jengkel.
“Kok bisa ketinggalan?” tanya didi sambil menatap wajah pak hansip yang sedang jengkel.
“Lagi di charge, terus lupa?” jawab pak hansip.

Mereka bertiga terdiam sejenak membayangkan keselamatan handphone pak hansip.
“Di, Co, tolong ambilkan *dong handphone saya? Takut hilang” kata pak hansip minta tolong.
Karena kasihan, didi dan eco balik lagi ke tempat pos. Ketika memasuki kebun bambu mereka berhenti dan didi bertanya.
“Co, kamu bawa senter gak?”.
“Gak bawa di? Kan dari tadi yang bawa senter pak hansip?” jawab eco sambil meyakinkan.
“Mau balik lagi ke pak hansip sudah jauh, ya sudah kita terobos saja kebun bambu ini. Pakai layar handphone saja buat penerangannya” kata didi sambil memulai melangkahkan kaki memasuki kebun bambu yang kemudian di susul eco.

loading...

Di pertengahan kebun bambu yang gelap dan sunyi, ada sesosok bayangan hitam seperti manusia memakai caping. Bayangan itu tidak jelas karena hanya di terangi layar handphone. Bersambung.
Facebook: Marwan Marley Nurrohman

KCH

Didi Wasidi

Sekedar kembali mengingatkan. “Jangan pernah baca ini sendirian” :)

All post by:

Didi Wasidi has write 2,703 posts

Please vote Aden-Aden (Hantu Bercaping)
Aden-Aden (Hantu Bercaping)
Rate this post