Adikku Tersayang

Sebelum aku cerita aku ingin memperkenalkan namaku ega, aku berumur 20 tahun yang harus bekerja demi adikku untuk bisa sekolah, adikku bernama nattasha umurnya baru 15 tahun. Kami kehilangan orang tua kami sejak 8 tahun yang lalu, aku harus banting tulang, kerja sana sini supaya aku bisa mencukupi hidupku.

loading...

Ada sesuatu hal yang aneh disetiap malam. Ya, aku selalu bermimpi dikejar oleh hantu, dan disaat bersamaan aku melihat adikku melambaikan tangannya kepadaku, kulihat adikku tergeletak bersimbah darah seperti habis ditabrak. Namun dikala aku terbangun di pagi hari, apa yang aku mimpikan tidak pernah aku ceritakan kepada adikku, karena kini dirumah hanya tinggal kami berdua. Pagi ini aku pergi kesebuah toko untuk membeli lauk buat aku makan bersama dengan adikku.

“Bu beli telurnya satu bu” ucapku.
“Ini dik telurnya” ucap ibu pemilik toko.

Aku pun pulang menggoreng telur yang aku beli tadi, aku melihat adikku sudah menggunakan seragam sekolah. Adikku sudah siap untuk pergi ke sekolah, lalu aku menyuruhnya untuk sarapan pagi dulu. Kami pun makan bersama dengan obrolan pagi kami, aku pun mengantarkan adikku ke sekolah, sesampainya di sekolah aku mengusap kepalanya dan berkata.

“Sekolah yang pintar ya dik supaya bisa menggapai cita-citamu setinggi langit” adikku hanya terseyum dan mulai memasuki pintu gerbang sekolah. Aku pun pergi bekerja disebuah pabrik dengan gaji hanya 1,5 juta setiap bulan saja, itupun selalu kurang cukup bagiku karena belum biaya untuk adikku sekolah dan makan sehari-hari kami. Belum membeli buku untuk keperluan adikku sekolah.

Sungguh sulit hidup ini tanpa orang tua, aku hanya bisa ikhlas menerimanya. Sorepun tiba, aku pun pulang dari kerjaku menaiki sepeda yang selalu aku bawa. Sesampainya dirumah, adikku menyambutku dengan senyum hangatnya, rumah kelihatan bersih dan rapi. Makanan sudah siap diatas meja, aku pun segera mandi, setelah mandi kami pun shalat bersama dan berdoa kepada Tuhan, setelah itu kami pun makan bersama.

“Kak ega boleh minta sesuatu tidak kak?” tanya adikku.
“Boleh kamu mau minta apa dik?” ucapku lembut.
“Gini kak, teman-temanku semua punya ponsel, boleh tidak aku minta ponsel kak? Kalau tidak boleh tidak apa-apa kok kak” ucap adikku.
“Nanti kakak pikir-pikir dulu ya dik” ucapku.
“Makasih ya kak”.
“Iya”.

Haripun semakin larut, aku menonton televisi untuk menghibur diriku setelah seharian kerja, adikku sibuk membuat tulisan cerita pendek. Dia suka sekali membuat cerita pendek kadang aku membacanya. Ceritanya cukup bagus, aku pun masuk kedalam kamarku dan tidur dikasur sambil memandang langit-langit. Aku berpikir untuk melihat tabunganku didalam lemari yang selama ini aku tabung. Aku pun membuka tabunganku dan aku hitung uangnya, ternyata hanya 500 ribu, cukup buat membeli hp adikku. Malamnya aku memimpikan hal yang sama, dikejar hantu dan mimpi adikku. Pagi harinya aku sudah mempersiapkan sarapan untuk adikku, tapi aku tidak melihat adikku keluar dari kamar, aku pun mengetuk pintunya.

“Adik kamu tidak sekolah?”ucapku diluar pintu.
“Kayaknya aku tidak sekolah kak” ucap adikku kelihatan badannya lemas.
“Kamu kenapa? Apa kambuh lagi?” ucapku yang khawatir karena adikku sejak kecil punya penyakit jantung lemah.
“Gak apa-apa kok kak, gak enak badan saja kak” ucap adikku yang lesu.

“Kamu lemas banget deh obat kamu habis? Ya ampun bentar kakak belikan buat kamu ya” ucapku yang sangat khawatir.
“Iya kak”.
“Ayo kita sarapan dulu biar kamu ada tenaga sedikit dik” ucapku yang langsung menggendong adikku ke meja makan.

Aku pun mengambilkan nasi dan lauk, lalu menyuapinya dengan pelan. Aku hari ini akan izin dulu tidak kerja agar bisa menemani adikku dirumah, karena aku tidak tega meninggalkannya sendiri sedang sakit begini, apalagi dirumah tidak ada siapapun, setelah makan aku pun membawa adikku ke dokter untuk diperiksa.

Kami pun menunggu diruang tunggu, lama sekali. Adikku hanya tertidur dipundakku dengan wajah yang pucat lemas, aku hanya bisa menangis dan berdoa semoga adikku bisa sehat kembali, tidak lama kemudian kami dipanggil masuk, adikkupun diperiksa oleh dokter dan beberapa menit kemudian.

“Bagaimana dok adik saya? Apa baik-baik saja” ucapku.
“Adik mas jangan sering kecapekan dan banyak pikiran ya, tidak baik buat jantungnya mas, suruh dia tidur di jam 9 malam ya, ini resepnya mas bisa bayar dikasir ” ucap dokter.
“Makasih dok”.

Aku pun menggendong adikku keruang apotik untuk mengambil obat dan membayarnya, cukup mahal harga obat yang harus aku tebus untuk adikku. Sekitar 200 ribu, tapi uang bisa dicari lagi, yang penting adikku bisa sembuh, dan kami pun pulang sambil menaiki sepeda.

“Kak maafin aku ya, aku ngeropotin kak ega. Aku seharusnya jaga kesehatan” ucap adikku sambil menangis.
“Sudahlah, gak apa-apa kok tanggung jawab kakak memang begini, menjaga adik yang tersayang” ucapku memandang wajahnya yang dibasahi oleh air mata.
“Aku sayang kak ega, makasih ya kak atas semua perjuangan kak ega. Suatu saat aku akan membalas kebaikan kakak” ucap adikku yang penuh dengan keyakinan.

Selanjutnya adikku tersayang part 2.

Gugun

Gugun

nama:gugun tinggi:165cm berat:50kg hoby:membaca,dan menulis karanganjangan lupa baca ceritaku ya hanya di kch jangan pernah baca ini sendirianaku suka buat cerita horor yg sedikit di bumbui pertemana dan horor yg sadis seperti mutilasiok salam knl semuafacebook: Nak gugun email:[email protected]

All post by:

Gugun has write 39 posts