Adzan Subuh

Hello hello reader KCH. Apa ada yang rindu dengan dwi? Iya dwi, yang bawel dan amit-amit itu. Assalamualaikum semua dan selamat sore malam dan pagi buat non muslim tergantung bacanya. Dan salam buatmu yang suka dengan cerita dari dwy dwi dandwi. Terima kasih atas respon baiknya beserta kak john admin yang paling ganteng, *hehe (maaf ya salamnya lebay, maklum sudah berapa hari kagak nongol markir disini).

loading...

Hari ini dwi akan menulis cerita ke 73 yang bertepatan dibulan Ramadhan entah tahun kapan itu, dwi lupa. Bulan yang indah bukan, bagi kaum muslim yang suka dengan namanya ibadah, (yang kagak suka jangan kesinggung ya, hehe). Waktu itu dwi masih SMP kalau gak salah. Rutinitas selesai sahur adalah menunggu adzan subuh. Maklumlah waktu usia itu sedang rajin-rajinnya ibadah dibulan Ramadhan.

Selain banyak teman dan suasana hati sedang indah-indahnya, eh salah, sedang senang-senangnya maksudnya. Tapi bukan senang karena jatuh cinta ya, tapi senang karena bulan Ramadhan penuh berkah. (Karena dwi belum pernah jatuh cinta, *hehe).

“Imsyak, imsyak, imsyak!” suara keras bersahutan dari speaker masjid dan mushola masing-masing desa.
“Alhamdulillah” pikirku.
“Berarti sudah harus siap-siap berangkat menuju masjid dan berkumpul sama teman-teman, dan marathon bareng” gumamku.

Pernah tahu gak kalian jika dibulan Ramadhan setan dan iblis itu dikurung? Saya pernah dengar, tapi tidak tahu kepastiannya. Karena ketika dwi akan pergi ke masjid,dan akan keluar dari gang rumah menuju jalan lintas aspal. Di perempatan jalan ini ada rumah yang mempunyai 2 lantai diatas ruang bagasi mobil. Ya posisi rumah ini pojok rumahku dan yang belakangnya ada lapangan voli.

Rumah mewah yang baru dibangun dan ditempati ini kosong, karena pemiliknya ribut sehingga rumahnya dikosongkan. Nah banyak rumor sejak kosongnya rumah ini. Ada yang melihat seorang wanita bergaun putih, berhenti dan turun dari naik ojek didepan rumah ini. Padahal sudah 1 tahun rumah ini tak berpenghuni. Dan sebelum rumah ini dibangun juga, sebenarnya sudah angker sejak dulu karena masih pekarangan kosong.

Dan banyak hal-hal mistis sebelum rumah ini dibangun. Sejak ada rumah ini, memang nuansa angker masih ada. Bahkan penghuninya pun ribut (ah entahlah). Ok lanjut sewaktu dwi mau lewat, tepat adzan subuh. Hari itu ada si gembong (anjing yang berkeliaran menjaga pemilik rumah, tapi malah menjaga kampung, jadi terkenal deh si nama gembong ini).

Sudah beberapa hari gembong ini tidur diteras rumah kosong itu, bak menunggu rumah majikan. Entah itu gembong lupa rumah dan majikan asli kali ya, *hehe. Tapi kali ini gembong bersikap lain, bahkan membuat bulu kuduk berdiri yang melihat dan mendengarnya. Tepat saat adzan subuh berkumandang, ia ikut adzan *cuy. *Wew, sangat aneh kan? Biasanya nih anjing pintar selalu santai diteras, tapi kali ini dia berdiri laksana sedang memanggil sesuatu.

Dia melolong sangat keras berbarengan suara adzan. Tapi lolongannya itu tidak seperti biasanya, dia melolong seperti serigala. Wih suasana hari itu sudah seperti dihutan saja reader. Aku yang mau lewat pun terganggu karena tingkahnya, hingga yang mau melintaspun juga terheran-heran sambil bertanya denganku.

“Itu kenapa sih, si gembong kok aneh suara lolongannya” kata ibu-ibu yang akan ke masjid juga.
“Entah bude, aku saja terkejut” jawabku.
“Ih bikin merinding saja” katanya lagi.

Sampai adzan subuh berhenti barulah si gembong berhenti melolong juga. Tapi hingga sekarang aku tidak tahu apa maksud si gembong melolong aneh begitu. Hingga entah sekarang dia dimana rimbanya, dan rumah kosong ini ditempati oleh pak mantri (kesehatan) dan masih pengantin baru secara cuma-cuma alias tidak bayar kontrak (enak kan). Supaya rumah itu terawat dan tentunya biar tidak seram lagi. Sekian.

loading...