Akibat Mantra Sihir

“Aku sangat suka sekali dengan hal yang berhubungan dengan sihir” kata Misa, sambil membetulkan letak kacamatanya yang sedikit bergeser, lalu mengerut-ngerutkan hidung, dengan wajah kemerahan dan pipinya yang menggembung dia terlihat seperti Boo, boneka kelinci miliknya.

“Kau tahu aku sudah membaca puluhan buku tentang sihir, aku juga punya buku tentang mantra-mantra sihir” lanjutnya sambil mengkuncir rambut pirangnya.

“Ya kuharap kau tidak menyihirku menjadi monster, karena aku bisa saja menjadi monster yang sangat gila karena mendengar celotehan-celotehanmu itu misa” jawab Kurt sambil mengambil sepotong roti yang berada dimeja dan melahapnya sekaligus.

“Hei kau memakan jatah kue milikku” teriak misa ketus sambil memicingkan matanya.
“Kukira kau tak mau memakannnya karena sibuk dengan celotehanmu yang tak berguna itu” jawab kurt sambil mengambil remote televisi dan memindahkan acara televisinya.

“Hei! Kenapa kau ganti? Aku ingin melihat aksi selanjutnya dari David Copperfield” teriak Misa dengan nada yang cukup tinggi sambil bertolak pinggang.

“Dia hanya orang bodoh yang berusaha menipumu, kau tahu semua pesulap itu hanyalah orang bodoh, dan sihir ataupun mantra-mantra ajaibnya itu hanyalah takhayul, kau hanya dibodohi” jelas Kurt sambil terus memperhatikan televisi yang sekarang sedang memutar acara film kartun kesukaannya.
“Kau adalah kakak yang sangat menyebalkan kurt!” kata misa sambil mengerutu.

Kedua kakak beradik itu terus berdebat, hingga memanaskan siang hari itu diruang tamu.

“Misa! Emily mencarimu!” teriak Ibu.
“Baik bu aku segera datang suruh tunggu sebentar!” teriak Misa yang cepat-cepat menghampiri Emily yang sudah berada didepan pintu rumahnya.

Emily datang dengan menggunakan baju kodok selutut bewarna cream serta memakai sepatu kets putih dengan rambut hitam pendeknya, Emily terlihat seperti gadis yang sangat lucu. Ketika misa membuka pintu depan rumahnya Emily menyambutnya dengan senyum lucunya.

“Misa aku punya berita gembira!” teriak Emily dengan penuh semangat sambil menebar senyum lucunya.
“Kabar gembira apa?” tanya Misa terheran sambil membetulkan kembali letak kacamatanya.

“Kau tahu rumah kosong bekas toko kaset itu? Sekarang rumah tersebut dijadikan sebuah toko mainan, aku ingin mengajakmu kesana, karena kudengar barang yang dijual disana bagus-bagus” jelas Emily penuh percaya diri.
“Baiklah ayo kita kesana, tapi tunggu sebentar” jelas misa.

Selang beberapa saat misa kembali lagi dengan memakai helm sepeda yang menutupi rambut panjang bewarna pirangnya tersebut dan membawa sebuah boneka kelinci bewarna abu-abu yang dia beri nama Boo, Misa kali ini menggunakan T-shirt hitam bergambar Nirvana dan celana jeans bearna putih serta sepatu kets merahnya. Tapi ketika Misa dan Emily ingin pergi, datanglah kurt lalu berkata.

“Hei mau kemana kau Misa?”.
“Ini bukan urusanmu kurt!” bentak Misa.
“*Haha, oke aku tak akan ikut campur” jawab Kurt.
“Dan, wah hai Emily kau terlihat lebih cantik” kata kurt sambil mengedipkan satu matanya kearah Emily.

Emily yang masih polos hanya melontarkan senyumnya.

“Kurt hentikan! Kembalilah kedalam!” teriak Misa dengan nada tinggi.
“Ayo Emily kita secepatnya pergi tak usah pedulikan kurt” jelas Misa sambil mengambil sepeda bewarna pink itu dan pergi meninggalkan kurt yang masih berdiri didepan pintu.

Setelah beberapa menit perjalanan sampailah mereka berdua disebuah toko tua, toko yang menjual mainan, toko mainan yang dituju oleh Misa dan Emily berada disebuah bangunan kayu yang sudah bertahun-tahun tidak dicat, dikaca jendela yang berdebu terpampang sebuah tulisan tangan “Wagner serba-serbi mainan”. Di toko yang baru 2 hari buka itu, tidak kelihatan satu mainan pun dietalasenya. Misa dan Emily menyandarkan sepedanya didepan toko.

loading...

“Aku dengar yang punya toko suka gampang marah” jelas Emily sambil memasukan kedua tangannya disaku celana kodoknya.
“Ya, kalau kita tak membuat masalah kita tak akan dimarahi” kataku kembali sambil membuka pintu toko.

Ruang toko itu sangat sempit, rendah, dan gelap. Perlu beberapa saat sebelum mata Misa terbiasa dengan cahaya redup didalam toko tersebut. Toko ini lebih tepat disebut sebagai sebuah gudang, dikiri kanan ruangan berdiri rak-rak setinggi langit-langit, penuh sesak dengan kotak mainan sebuah meja pajangan berdiri memanjang ditengah ruangan gang antara meja pajangan dengan rak dikiri kanannya sempit sekali.

Misa yang badannya kurus pun harus memiringkan badannnya agar bisa lewat, dibagian depan toko, dibelakang meja kasir duduk seorang berparas galak, dengan kepala botak dan kumis putih panjang yang terkulai lemas, membuatnya terlihat masam.

“Hai” tegur Emily takut-takut sambil melambaikan tangannya sedikit. Pria itu hanya menjawab dengan geramannya dan kembali melanjutkan membaca surat kabar ditangannya, Misa dan Emily kembali berjalan menyusuri sudut-sudut toko tersebut. Bersambung ke akibat mantra sihir part 2.
Facebook: Adymas Art

Adymas Art

Adymas Art

Seorang yg suka ngedit foto ,tapi sering diganggu setan ,,....... suka nonton anime (Naruto,Boruto,Boboiboy Galaxy),suka baca/tulis cerita Fb: Adymas Art Instagram:@adymas_art

All post by:

Adymas Art has write 78 posts