Aku Ada Dibelakangmu

Hai aku Amanda, ini cerita kedua yang aku post. Okey langsung aja ya! Malam ini aku dan teman-temanku datang ke sebuah gubuk reot yang tak jauh dari rumahku, konon katanya disitu sangat dilarang untuk berkata “Aku ada dibelakangmu” sebanyak (3 kali) entah mengapa alasannya. Hal itu yang membuat aku dan teman-temanku penasaran. Mungkin gubuk reot ini sudah puluhan tahun ditinggal oleh pemiliknya, karna nampak bangunan itu sudah sangat tak terawat.

loading...

Aku, dina, mela, dan anggi berniat untuk membuktikan sendiri bahwa pantangan berucap “Aku ada dibelakangmu” sebanyak (3 kali) itu hanya mitos. Akhirnya kami sepakat untuk masuk kedalam gubuk dan aku yang sedari tadi sangat penasaran langsung berucap “Aku ada dibelakangmu, aku ada dibelakangmu, aku ada dibelakangmu” dengan suara yang agak keras.

Awalnya biasa saja, namun lama kelamaan suasana mendadak mencekam, angin terasa menyeruak masuk kedalam pori-pori kulit. Tiba-tiba saja suasana menjadi gelap gulita, kami semua yang panik ketakutan, segera berhambur keluar dan berlari menuju rumahku. Sampainya dirumah aku dan teman-temanku langsung rebahan di sofa.

“wah, ternyata ngeri juga ya” temanku dina berkata dengan nafas yang sedikit tersenggal-senggal, “Iya, gila sumpah! Kirain ngga bakal begini” anggi mengiyakan ucapan Dina. Seketika suasana hening, dari arah belakang terdengar “Aku ada dibelakangmu” suara itu nampak menakutkan sekali, kami semua tak ada yang berani menoleh kebelakang. Lampu didalam rumah mati dan suasana makin mencekam terdengar lagi suara seperti nenek tua “Aku ada dibelakangmu nak, hihihi…” leherku seperti tercekik seolah-olah tak bisa bernafas.

Dengan sekuat tenaga aku berdoa meminta pertolongan dari-Nya, akhirnya aku lolos, namun sayang teman-temanku entah kemana. Aku segera berlari keluar rumah dengan niatan ingin meminta pertolongan kepada ustad hari yang kebetulan rumahnya tak jauh dari rumahku.

“Ustad, ustad! Cepat buka pintunya” aku sedikit mendobrak-dobrak pintunya. Ustad hari segera keluar dan aku menjelaskan apa yang terjadi “cepat! Kita harus segera bertindak!” ustad hari menyelakan motornya dan memboncengku. Tepat dihalaman rumah terdengar teriakan dari teman-temanku.

Aku dan ustad segera memasuki rumah, dengan cekatan ustad hari membacakan beberapa surat dan do’a. Perlahan tapi pasti, nenek tua dengan muka yang tampak keriput dan mata yang hampir menjulur keluar itupun hilang. Akhirnya teman-temanku selamat. Ustad menyarankan agar kami semua tak berani lagi main digubuk tua itu.

Katanya, dulu ada nenek tua yang terbunuh dan sebelum ajal menjemput ia sempat berkata “Aku ada dibelakangmu”. Inilah cerita dari saya, hati-hati bisa saja “dia” ada dibelakangmu, mengintaimu. Hihihi… Jangan pernah baca ini sendirian.

Share This: