Aku Cinta Kamu “Saranghae”

Hai, di cerita kali ini aku mau nyeritain tentang kisah yang muncul di otak waktu lagi dengar lagu galau. Malam ini bulan sangat indah dengan bentuk bulat penuh dan ditaburkan bintang-bintang disekitarnya. Tidak seperti ABG lain nya yang kalau malam minggu itu pacaran, aku malah berdiam diri di balkon kamar. Aku tidak tertarik untuk berpacaran, alasan nya hanya satu.

Karna bagiku semua pria itu sama saja. Aku menghela nafas panjang, sulit untuk melepaskan kegalauan ini. Entah sudah minggu yang keberapa aku duduk di tempat yang sama, sampai aku bisa berhalusinasi melihat pria tampan sedang berdiri tegap di sampingku. Tapi entah kenapa dia seperti nyata, ah. Apa aku yang sudah gila? Kuputuskan untuk mendekatinya dan menyapanya untuk memastikan kalau aku tidaklah berhalusinasi.

“Hai, kau siapa?” tanyaku. Dia menengok kan wajah pucat namun tampan nya padaku dan tersenyum. Entah kenapa aku merasa senyuman nya sangat lembut, serasi dengan wajahnya yang tenang. “hai juga, kau tidak takut padaku?” tanyanya. Oh, bahkan suaranya pun sangat lembut membuatku sedikit merinding. “memangnya kenapa? Kau bukan hantu atau sejenisnya kan? Kenapa kau bisa ada disini?” cerocosku bertubi tubi. Dia hanya tersenyum, dengan tiba tiba tangan dinginnya menggenggam tangan ku lalu menuntun nya untuk duduk di kursi balkon yang tadi aku duduki.

Dia mulai bercerita tentang masa lalunya, membuatku terkejut karna ternyata dia adalah makhluk gaib. Menurut yang dia katakan dia adalah pemuda asal korea yang ikut mamanya ke indonesia, namun terbunuh karna pembunuhan berantai yang pernah terjadi di masa lalu. Dia juga bilang sebenarnya dia adalah penghuni balkon depan rumahku yang memang rumah kosong, namun dia memberanikan diri muncul di depanku untuk berkenalan.

“Jadi, sekarang ini aku sedang duduk dengan hantu?” batinku. Hatiku terenyuh saat tiba-tiba pandangan nya jadi sayu, ada apa dengan nya? “aku benci mengakuinya, tapi aku memang hantu” jelasnya membuatku terkejut. Dia tahu isi fikiranku? “ya, aku bisa membaca fikiran manusia” ujarnya lagi. Kali ini aku terdiam, kami sama-sama terdiam sampai aku merasa mengantuk.

“Tidurlah di pangkuanku, aku akan menjagamu” katanya membuatku mau tak mau menurutinya. Mungkin karna hawa dingin yang mendukung, aku jadi tidur lebih cepat saat sudah menutup mata. Esoknya, aku menemukan diriku tengah tertidur di kasur. Lho, bukan nya aku tidur di balkon dengan “dia?”. Aku menggelengkan kepalaku agar tak perlu memikirkan nya lalu beranjak untuk mandi karna sudah berjanji dengan temanku untuk olahraga bersama.

loading...

Malam telah tiba, “dia” pun muncul lagi di tengah tengah kesepianku. “Dia” menemaniku dengan obrolan seru sampai aku mengantuk dan tidur di pangkuan nya. Lagi dan lagi, esok dan seterusnya pun terjadi lagi membuatku merasa nyaman di dekatnya. Kini dia selalu menjadi teman dalam bosanku, teman yang bahkan ingin sekali kuanggap lebih dari sekedar teman. Tapi aku masih sadar bahwa dunia kami berbeda, kami tak akan bisa bersatu. Sampai pada suatu minggu, seperti biasa aku sudah terbangun di kasurku.

Terdengar pengantar koran sudah memberikan koran terbarunya ke rumahku. Aku tak menghiraukan nya dan beranjak mandi, kali ini sembari berharap bahwa waktu akan berjalan cepat agar aku bisa bertemu “dia” malam nanti. Tapi ternyata aku harus menelan kekecewaan saat tahu “dia” tak datang malam ini. Aku memutuskan untuk kembali tertidur di balkon, namun kali ini tanpa ada pemilik kaki yang selalu menjadi bantal ku tidur.

Mataku terbuka lagi saat berjam-jam lamanya tertidur, ternyata baru jam 2 malam. Aku melihat sebuket bunga mawar merah di sebelahku membuat air mataku terjatuh dengan sendirinya. “Ternyata aku memang mencintai dia” batinku menangis. “Kalau aku, sudah mencintaimu dari dulu” kata suara yang sangat familiar membuatku melihat ke sekeliling. Lagi-lagi disebelahku sudah ada “dia” tengah merentangkan tangan nya, mengundangku untuk segera memeluknya.

Dengan kesenangan yang tiada tara aku langsung memeluknya, merasakan sensasi dingin yang tak ingin aku lepaskan. Tapi kurasakan sesuatu menusuk punggungku, membuat pandanganku mengabur. Kulihat kini ditangan nya penuh darah, mungkin darah ku. Aku tersenyum lemah, kata terakhir yang kudengar darinya “maaf, tapi aku mencintaimu. Saranghae”.

Share This: