Aku dan Sebuah Cincin yang Hilang

Salam KCH, terima kasih bang Jhon sudah publish cerita saya. Salam author-author KCH. Salam juga buat sahabat-sahabat KCH. Ini kisah waktu usiaku 8 tahun, aku mau berbagi ceritaku untuk sahabat-sahabat KCH disini, ada seorang tetanggaku yang bernama Ibu Lia, ceritanya ibu Lia kehilangan cincin emasnya lalu untuk mengetahui siapa pencuri cincin miliknya, pergilah ibu Lia ke seorang dukun disebuah desa.

Sesampai dirumah dukun tersebut, ibu Lia menjelaskan keluhannya kepada sang dukun, bahwa cincin emasnya telah hilang, lalu sang dukun memberi penjelasan kepada ibu Lia, saat itu.

“Ibu silahkan kembali pulang, dan bawa kesini seorang anak perempuan bernama (Nurul) dia tinggal dekat rumah ibu, tanpa anak itu kita gak akan tahu siapa pencuri cincin ibu”.
“Apa Nurul, Mbah? Baik-baik Mbah saya coba cari anak itu”.

(Kok dukun malah gak tahu pencuri cincinku, malah anak kecil disuruh mencari cincin). Setelah pulang dari rumah sang dukun, lalu Ibu Lia mencari aku, didapatinya aku sedang asyik bermain dengan anak-anak lainnya, ibu Lia segera menghampiri aku, dan membujuk aku untuk ikut bersamanya kerumah dukun tersebut, aku pun diberi uang 5 ribu rupiah oleh ibu Lia, aku senang banget diberi uang 5 ribu rupiah *hehe, namanya juga anak kecil, diberi uang 5 ribu senangnya bukan main *hehe lucu, jadi ingat masa kecilku *huhu.

Sampailah aku dan Ibu Lia di rumah dukun tersebut, sang dukun menyuruh aku memegang telur ayam kampung, lalu kuku jariku dioleskan dandang gosong yang hitam oleh dukun itu. Aku di suruh duduk diam, sambil memejamkan mata, gak berapa lama kelihatan di jari kuku aku, seseorang perempuan yang mencuri cincin ibu Lia itu, lalu aku bicara apa yang aku lihat, ternyata cincin Ibu Lia di curi sama keponakannya sendiri. Masalah ibu Lia pun terjawab sudah.

loading...

Sejak kejadian cincin ibu Lia yang hilang, namaku mulai tersohor, setiap ada warga desa yang mendapat masalah akulah yang dicari terlebih dahulu. Ibuku keberatan kalau aku jadi rujukan masalah-masalah warga desa. Ibu marah besar dan melarang aku, untuk tidak melayani orang-orang yang mencari aku untuk kepentingan mereka, apalagi yang berbau mistis, akupun patuh apa yang dikatakan ibu saat itu. Tamat.

Salim

Salim

Kasih sayang terhadap sesama, walau pun kita berbeda agama dan ras. Kita berbeda-berbeda bahasa namun tetap satu tujuan (Bhineka Tunggal Ika).

All post by:

Salim has write 16 posts

loading...