Aku dan Shyntia Part 2

So whats’up guys, nah kali ini aku bakal lanjutkan cerita aku dan shyntia. Nah di cerita kemarin aku lupa kenalkan nama sahabatku, diparagraph 2 ku kenalkan. Oh ya Shyntia yang sekarang sudah berbeda dengan yang dulu sekarang dia lebih asyik dan ramah dengan manusia, walaupun berbeda bangsa, tapi sekarang dia lebih sering menunjukkan dirinya kepada para sahabatku, dia sangat ramah dan hangat sekarang, tapi tetap profilnya sebagai manusia misterius. Oh ya semua sahabatku ini juga bisa melihat mereka, ada 2 yang aku bukakan indranya, sisanya dapat dari lahir.

loading...

So lets read. 30 menit sudah kami beristirahat didalam tenda, kami terbangun karena dikejutkan oleh suara klakson mobil yang sangat keras dan juga lampu mobil yang terang, ternyata semua *doi kami mengikuti kami sejak tadi, mereka tahu karena Max dilacak lewat GPS-nya (*Doi-nya max sainganku dulu dikelas computer). Dan oh ya sekalian aku perkenalkan nama-nama sahabatku dan pasangannya. Franco dan miya, Kemal dan misca, Max dan Audrey, Ben dan stica, Bruno dan natali, and me? Sure, Shyntia.

Dan kami pun senang bukan main, tapi aku kaget karena Shyntia ada juga disitu dan bisa dilihat oleh semuanya, dia menjadi sosok manusia dengan style yang shaggy dengan jeans sampai paha, dan sweater bulu yang cocok dipakainya, dengan kupluk diatas kepalanya. Karena rasa kantuk kami hilang, jadinya kami berpesta api unggun, semua duduk dengan pasangannya, asyik dengan pasangan masing-masing. Aku pun ngobrol dengan Shyntia lewat i6 ku (indera ke-6).

“why you join with them?” kataku.
“Karena mau ka juga bergaul dan berbaur sama teman ta” kata shyntia
“Tapi harus ada batas, jangan terlalu dekat, nanti ketahuan”.
“Tidak akan lah, keep calm honey” katanya sambil berlalu membuat secangkir minuman kafein untukku.

30 menit berpesta, api pun dipadamkan dan kami masuk kedalam tenda masing-masing. Kami terbangun pukul 9 pagi, padahal dalam rencana kami akan melihat sunrise, mungkin karena kecapekan. Setelah bersih-bersih kami pun mengexplore spot eksotis ini, kami membawa bekal secukupnya sambil berjalan, tak lupa kami memberi tanda dijalanan yang kami lalui, setelah sampai dipinggir pantainya, sungguh indah nan eksotis.

Singkat cerita, kami pulang ke tenda, waktu menunjukan pukul 5 sore, sebentar lagi gelap, kami menyusuri hutan liar dengan tanda disetiap pohon yang tadi dilalui, anehnya saat 2 jam kami berjalan belum sampai juga ditempat kami berkemah. Kami pun bersandar dipepohonan rindang, waktu menunjukan pukul 7 malam. Kami mulai mengkonsumsi bekal masing-masing dan pastinya kami berenam sudah banyak melihat mereka berlalu lalang.

Tapi kami cukup diam saja dan tidak memberitahukan kepada pasangan kami, takut mereka panik dan menjerit, kami pun sepakat untuk istirahat disitu dan melanjutkan perjalanan esok pagi. Sudah tentu aku dan sahabatku tidak tertidur untuk mengantisipasi adanya makhluk jahil yang mengganggu.

Kami pun berembuk untuk mencari solusi, aku tahu kalau Shyntia dari tadi pura-pura tidur dan ingin menyampaikan sesuatu kepadaku. Franco satu-satunya sahabatku yang tahu kalau Shyntia itu bukan manusia, terus dia menguasai pembicaraan agar aku bisa ngobrol dengan Shyntia, lalu kami pergi kesuatu pohon yang letaknya 1 meter dari tempat istirahat kami.

Lalu Shyntia menyampaikan kalau kita dikerjain oleh makhluk sini, sebenarnya aku curiga akan hal itu, kami berdua melihat banyak sekali yang menertawakan kami diatas pohon. Aku mendengar mereka juga berbicara dengan bahasa daerah situ yang aku cukup mengerti apa artinya. Ketika sedang asyik dengan Shyntia, aku pun tidak sadar kalau semuanya tidak ada ditempat tadi.

Aku dan Shyntia juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, setelah itu terdengar suara tawa yang sangat dikenal oleh orang Indonesia. Kuntilanak itu memakai baju merah dengan muka yang hancur, sontak aku kaget dan terdiam kaku, sementara Shyntia sudah tidak bersamaku lagi, dia menghilang entah kemana. Aku pun berusaha melawan dan bergerak sekuat tenaga, tapi kunti itu terlalu kuat, aku tidak cukup kuat untuk melawannya.

Leherku kemudian terasa tercekik sangat kuat, wajahku memerah. Untung lah aku cepat membaca ayat-ayat suci untuk mengusir makhluk itu. Setelah bebas, aku pun lari tanpa arah sambil memanggil Shyntia. Aku tidak tahu dimana aku sekarang, tak lama setelah itu pandanganku menjadi sangat gelap, suasana mejadi sangat mencekam dan dingin ditambah lagi dengan gelapnya malam dan suara itu muncul kembali, suara tawa itu lagi. Terkejutnya diriku melihat ada pocong berkain hitam pekat tepat berdiri didepanku, dengan muka yang kasar yang berdarah, matanya yang merah dan juga bau busuk yang sangat menusuk.

Lalu aku terpental sangat jauh, sampai tubuhku menabrak pohon besar, aku pingsan dan tidak sadarkan diri, aku terbangun dimalam yang sunyi, aku mendengar suara tangisan yang sangat sedih, kemudian aku mencari sumber suara itu, ternyata itu misca. Dia menangisi pacarnya yang terdiam kaku, Kemal mati karena berusaha melawan makhluk disini yang berusaha membawa mereka kealamnya, lalu kami berdua mencari yang lainnya. To be continued aku dan shyntia part 3.

DiRs

Just indigo guy

All post by:

DiRs has write 9 posts