Aku dan Shyntia part 3

Sebelumnya aku dan shyntia part 2. 30 menit sudah kami berjalan mencari yang lain, tapi kami tidak menemukan sesiapa pun, sampai kami bersandar dipohon yang besar, sepertinya itu pohon beringin. Untungnya aku masih membawa banyak bekal didalam tasku. Kami berdua beristirahat sambil bercerita tentang apa yang sebenarnya terjadi, tak lama setelah istirahat, kami mendengar suara jeritan minta tolong ternyata itu suara stica. Kami pun mencari stica sambil memanggil namanya.

Tapi betapa kagetnya kami setelah melihat stica lari didepan kami, dia sudah lari dengan tangan kanan yang sudah putus, darah sudah mewarnai bajunnya. Kami berusaha mengejarnya, tapi sepertinya dia tidak melihat kami. Tiba-tiba dia langsung tertarik keatas pohon dengan leher yang terikat oleh akar pohon beringin itu, dan malangnya stica meniggal dunia dengan tubuh tergantung dipohon, darah keluar tanpa henti, membasahi tanah.

Kami hanya bisa menangis dan meratapi kematian stica, setelah itu kami berusaha mengambil tubuhnya dan menguburnya dengan layak. Kami pun terdiam dan menangisi stica yang mati secara mengenaskan. Kemudian aku menyusun rencana untuk mencari yang lainnya, singkat cerita kami menemui max dan franco yang lagi beristirahat dibawah pohon.

loading...

Lalu setelah bertemu dengan yang lainnya kami melanjutkan perjalanan, anehnya matahari tak kunjung muncul. Kami berjalan sambil berdzikir meminta perlindungan Tuhan, tiba-tiba aku tersandung jatuh karena sebuah kaki, ternyata itu kaki Shyntia. Aku yang berjalan dibelakang singgah untuk membangunkan cintaku yang lagi pingsan, 10 menit aku berusaha menyadarkannya, tapi dia tak kunjung sadar, lalu aku menggendongnya sambil berjalan mengikuti yang lainnya.

Tak terasa sudah 2 jam lebih kami mencari yang lain tapi tak ketemu juga, kami pun kembali beristirahat dibawah pohon. Aku kembali berusaha menyadarkan Shyntia. Alhamdulillah dia tersadar, tapi dengan mata yang terbelalak dan berwarna merah, nampaknya dia sangat marah akan sesuatu. Aku berusaha menenangkan dirinya yang tampaknya dia ingin menyerangku, beberapa menit dia mulai tenang dan mulai menceritakan semua yang terjadi.

Ternyata yang bermasalah disini adalah semua makhluk didaerah ini haus akan nyawa kami. Lalu segala cara kami lakukan untuk keluar dari alam gaib ini, kami pun mulai mengerahkan semua ilmu yang kami miliki dan membaca ayat suci yang kami hafal. Sejam sudah kami berusaha keluar dari alam itu, kami berhasil keluar dan anehnya kami sudah berada didepan tenda kami.

Begitu aku masuk kedalam tenda untuk beristirahat, aku terkejut melihat ben yang sudah putih jasadnya, kawanku mati lagi. Sangat sedihnya aku diliburan kali ini, setelah itu aku dengar teriakan marah dari Shyntia ternyata dia melawan kunti merah itu, sontak aku langsung membantunya, setelah beberapa menit kami berusaha melawannya dia menghilang dan meninggalkan jejak tawa yang perlahan menghilang.

Lalu terdengar suara kunti itu lagi, dia berkata dalam bahasa makassar “Tena ku pa’beang ko sulu battu rinne, ku pamantangko a’genna ancuru linoa” (saya tidak mengijinkanmu/membiarkanmu keluar dari sini, kau akan kubuat tetap tinggal disini sampai kapanpun).

Lalu aku masuk kedalam tenda yang lain tapi semua temanku meninggal, betapa sedihnya aku melihatnya, kini tinggal aku dan Shyntia yang harus bertahan dan keluar dari sini, aku pun langsung masuk kedalam mobil bersama Shyntia dan langsung tancap gas melajukan mobil. Lalu pocong hitam itu kembali menghadang jalanku, tapi aku sudah tidak berpikir lagi, aku langsung meninggikan kecepatan mobilku dan menabraknya, tapi tembus dan tidak tertabrak.

Ku dengar Shyntia membaca sesuatu yang tidak tahu apa itu, dan berteriak “keluar”. Lalu aku melihat kunti keluar menembus kaca depan mobil, dia terpental dan menghilang bagai asap, dan akhirnya aku dan Shyntia menemukan jalan beraspal, sejam lebih mengikuti jalan beraspal itu kami menemuka jalan poros dan akhirnya sampai di kota. Aku kembali mengingat apa yang telah terjadi, semua sahabatku meninggal didepan kedua mataku, sedih sekali rasanya.

Aku kembali mendengar suara tawa kunti itu tapi aku acuhkan saja, lalu suara itu hilang. Oh ya Shyntia belum menampakkan dirinya kepada keluargaku, tapi adikku pernah bermain dengannya, next story aku akan menceritakan tentang Shyntia my beauty ghost. Ok thanks guys, you have been reading “aku dan shyntia“.

Id line: khaidirferg
Facebook: Khaidir Ferg

DiRs

Just indigo guy

All post by:

DiRs has write 9 posts