Aku Gak Bohong

“Aku gak bohong. Sumpah. Demi apapun, please ginong, percayalah”. Itu yang dikatakan Ami kepadaku. Hai, aku Sezgina F. Sam Fradah atau Gina atau kalau yang sudah akrab saja ya, boleh panggil aku Ginong atau Olin. Pasti kalian sudah gak asing lagi sama aku. Ami, umurnya sama denganku 22 tahun. Ami ini tetanggaku sekaligus temanku dan aku sering banget hangout sama nih anak. Saat itu, malam minggu. Biasa, anak muda, kalau sudah hari sabtu malam minggu, harus gaya dan pergi belanja untuk menghibur jiwa yang lara disetiap harinya.

Karena kalau hari biasa, kami sibuk belajar dan belajar. Apalagi aku. Papaku yang orangnya disiplin menurunkan sifatnya ini kepada anak-anaknya, agar selalu disiplin sama apapun, apalagi waktu. Kalau hari senin sampai jumat, adalah waktu kami untuk botak (*haha, belajar. Buat kepala jadi botak) dan hari sabtu/minggu waktu kami untuk menghabiskan waktu atau duit (family time, atau my time), *haha. Aturan papa begitu. Semua harus menurut. Ini demi masa depan yang cerah.

Ok, lanjut. Jadi saat aku lagi memilih baju kesukaan, si Ami datang kerumah dan nyelonong masuk kekamarku. Itu sudah biasa. Kami menganggap Ami sudah seperti keluarga. Setelah memilih baju, memakai baju dan berdandan sedikit “sudah yok nong (Ginong), kita capcus/berangkat” kata Ami. “Ayok” jawabku. Kami berangkat. “Ma. Gina pinjam mobil, ya” kataku berteriak. Karena mama entah dimana, sudah aku cari gak ketemu-ketemu.

“Iya, pakai saja. Mobilnya dibawa saja” kemudian aku tanya “Ma, kalau pulangnya malam-malam, gak apa-apa kan?” terus “iya, gak apa-apa. Mau pulang subuh juga gak papa” *hehe. “Gila loe nong. Kebiasaan loe. Loe tanya sendiri jawab sendiri. Kasihan nyokap/mama loe. Sinting nih anak” itulah yang dikatakan Ami. *Haha, memang kebiasaanku begitu. Kalau gak ada mama, aku tanya sendiri jawab sendiri saja, seolah-olah mama yang jawab. Aku langsung ambil kunci mobil yang diatas meja hias dikamar mama. Biarkan. Marah-marahlah situ.

Aku sudah kebal dimarahi mama. Mamaku itu, ce-re-wet. *Ssttt! Jangan bilang-bilang ya, nanti aku kena jewer. Ok, kami pun langsung *cuz ke sebuah Mall dan Cafe. Setelah perut kenyang hati pun senang, kami kemudian pergi kesebuah taman. Di sana Ami bisa sekalian cuci-cuci mata, karena banyak cowok-cowok ganteng, sedangkan aku gak tertarik sama sekali. (Ya iyalah. Gak ada yang tarik aku. Jadi aku gak ketarik-tarik). Ok. Cuci tangan, sudah (belanja di mall), cuci mulut, sudah (makan di cafe), cuci mata, sudah (lihat cowok ganteng ditaman) sekarang “Mi. tinggal otak loe yang belum dicuci. Ayo buruan pulang” *haha.

loading...

Ami malah agak ogahan pulang dan bilang “nong, belikan dulu kenapa?” aku jawab dengan nada malas “apaan?” dijawabnya “itu tuh. Bakso bakar yang diujung jalan sana” aku kemudian berdiri dan langsung bilang “dasar perut bernard” *haha, dia paling anti kalau dibilang perut mirip kartun bernard bear. Aku langsung lari karena aku melihat dia berniat mau melemparkan sepatunya kearahku “kurang ajar loe” katanya. “awas! Bernard Bear ngamuk” teriakku sambil berlari.

Aku kemudian membeli bakso bakar. Dan saat inilah kejadian aneh terjadi. Saat selesai membeli bakso, aku tak melihat si Ami. Lah. Kemana anak ini? Apa hilang dimakan setan. Mana ada setan yang suka makan bernard, *haha. Aku pun mencari Ami dan ternyata Ami berada disebuah tempat yang cukup gelap dan aku lihat banyak pohon. Aku pun mendekati si Ami alias bernard “woi, (ngejutin Ami). Ngapain kesini?” Ami kaget “loh. Eh, loe sudah siap buang air kecilnya?” aku bingung. Kapan aku? “Kapan aku buang air kecil? Ngaco loe ya?”

“Waduh. Eh nong. Loe itu tadi minta antarin aku buang air kecil. Loe bilang kalau aku suruh nunggui loe disini. Loe tadi kearah pojokan pohon sana, tuh”. Aku pun menjawab sambil tunjukan bakso bakar pesanan Ami “lihat nih. Apa?” Ami jawab dengan heran “bakso bakar?” aku jawab “ya sudah kan. Ini pesanan loe. Bak-so ba-kar. Understand?” Ami semakin bingung dan berusaha menjelaskan ke aku “ta, tapi nong. Loe tadi bilang gak jadi beli bakso bakar, karena loe kebelet. Terus loe minta tolong antarin sama aku. Disini. Dan loe jalan kepojokan sana. Loe bilang suruh tungguin. Ya, aku tungguin. Eh tahu-tahu, loe?”

Aku bilang sama Ami “loe bohong. Buktinya nih bakso jadi saksi bisu. Imajinasi loe ngeri banget. Sudah tingkat mbah dukun” terus Ami jawab dengan nada menyakinkan “aku gak bohong. Sumpah. Demi apapun. Please, percayalah ginong” Ami sampai sumpah segala. Dengan tenangnya aku bilang “sudah. Kita pulang saja. Lupakan”. Aku percaya sama Ami, karena aku melihat aku dipojokan. Ya, aku. Dia, yang menyamar menjadi aku. Sekian.

Fiolin Fradah

Sezgina F.S Fradah

Thank you for reading my stories. Thank you for liking my stories Thank you so much... Terimakasih,Thank you,Arigato gozaimasu, kamsahamnida,Xie-xie,Merci bien,Dankejewel,Matur nuwun,Tarimo kasih,Hatur nuhun,Bujur...

All post by:

Sezgina F.S Fradah has write 94 posts