Aku Kira Ibuku

Hai nama saya Irul, tempat tinggal saya di Dukuh Soka Clering yang masih kental dengan mitos dan misterinya, saya disini akan berbagi kisah nyata dan bukan rekayasa yang di alami teman saya yang bernama Sharul. Waktu itu pukul 10:00 ibu pergi ke ladang untuk memanen kacang panjang, jarak dari ladang lumayan jauh. Saat itu saya tidak mempunyai firasat apapun tentang apa yang akan terjadi nanti.

loading...

Siang itu saya bermaksud untuk menyusul ibu saya yang ada di ladang, sambil berjalan saya mencari rumput untuk pakan sapi, tidak terasa karung sudah penuh dan waktu menjelang sore dan saya mulai bergegas untuk menjemput ibu saya yang ada di ladang. Saya tinggalkan rumput itu di bawah pohon mangga yang umurnya sudah ratusan tahun, saya berlari dan tidak sengaja melihat ular yang melintas tepat di bawah kaki saya, dan saat itu juga pikiran saya sudah yang aneh-aneh.

Tapi saya berusaha tidak panik dan tetap melanjutkan perjalanan, saya berdo’a agar tidak terjadi apa-apa. Waktu itu menjelang maghrib saya melihat ibu sedang jongkok di pinggir gubuk. Saya coba mendekati dan memanggil dan saya ajak pulang “mak ayo mulih wes sore iki lo” atau dalam bahasa indonesianya (bu ayo pulang sudah sore), tapi anehnya disitu ibu hanya diam seakan tidak mendengar ucapanku tadi, dan saya coba mengajaknya pulang lagi tapi kali ini saya bentak.

Saat ibu saya berdiri, saya coba gandeng dan saat jalan posisi ibu ada di belakang, saya coba bicara *bla, bla, bla, tapi ibu hanya diam dan wajahnya pucat. Saya tanya “sak benere ono opo to mak?” atau (sebetulnya ada apa bu?), tapi ibu masih diam dan tidak menggubris apa yang saya katakan. Saya coba ngomong baik dan coba minta maaf kalau ada salah.

Setelah adzan berkumandang saya mempercepat langkah saya, karena mitosnya kalau maghrib orang yang bekerja di ladang harus cepat pulang, saya gandeng ibu saya. Sesampainya di belakang rumah saya terkejut melihat selendang punya ibu sudah ada di rumah. Saat itu saya masih belum melihat ke belakang karena ibu masih saya pegang, kemudian perlahan tangan yang saya genggam berubah menjadi dingin.

Saat saya buka pintu, saya bertabrakan dengan seseorang yang mirip ibu. Saya seketika itu juga panik dan ibu berkata “katanya mau jemput ibu?”, saya kaget “loh kamu siapa” saya ibu kamu lah, jawab ibu dengan keadaan marah “lah yang saya gandeng dari tadi siapa?”.

Kemudian saya pingsan dan terbangun saat semua warga berkumpul ke rumah saya, pak RT bilang kalau yang kamu gandeng tadi jin penunggu pohon mangga yang ada di pinggir sungai. Berarti pohon mangga yang aku buat naruh rumput tadi? Sekian maaf kalau kurang seram.

KCH

Irul

Sekedar kembali mengingatkan. "Jangan pernah baca ini sendirian" :)

All post by:

Irul has write 2.657 posts