Aku Sungguh Sangat Takut

Hai sobat setia KCH, masih dengan Gina disini. Ini adalah ceritaku yang ke-4. Pengalaman supranaturalku akan aku bagikan pada kalian semua lewat kisah-kisah nyataku. Aku mulai saja ceritanya. Menjadi seorang anak indigo tidak mudah bagiku, karena bila batin kita belum siap menerima kelebihan yang aneh ini, maka kita bisa mengalami ketakutan yang luar biasa bahkan bisa sampai sakit. Itulah awal mula yang aku rasakan setelah mendapat hadiah istimewa dari (alm) kakekku.

Aku mencoba untuk melupakan hal-hal ganjil itu, mungkin papa hanya berpura-pura tentang yang di katakannya waktu itu. Ini bukanlah hadiah, tapi petaka. Aku benci pada semua ini. Aku rasanya ingin mati saja, dari pada aku harus mengalami semua ini. Itulah ocehanku yang tidak jelas di saat jam istirahat di sekolah. Teman-temanku yang tidak aku sadari sedari tadi memperhatikanku ngoceh sendiri malah tertawa dan bilang “belum minum obat ya gin? Pantasan kumat,*haha”. Ah! Di sangka aku penghuni RSJ (Rumah Sakit Jiwa) apa!

Aku hanya diam saja dan gak berapa lama bel masuk berbunyi, pelajaran pun di mulai kembali. Tidak terasa bel pulang akhirnya berbunyi, happy banget rasanya bisa cepatan pulang di antar Vino (cowokku). Sesampai di rumah aku langsung istirahat merebahkan diri di sofa. *Krek, krek, ah suara apaan tuh. Jangan-jangan, aku mulai curiga dan aku selidiki asal suara itu takutnya hantu, setan, demit atau apalah itu tapi syukurnya itu hanya mama. Mama sedang mengemas baju. Ah baju?

A: aku
M: mama

A: ma, mau kemana? Apa mama kemas-kemas baju karena kita mau nginap ya? Menginap dimana kita, ma? (karena biasanya kalau mau menginap memang macam mau pindahan. Itulah jalan-jalan ala keluarga Fradah).
M: iya, memang mau nginap. Tapi bukan kita.
A: kalau bukan kita, jadi siapa?

M: mama dan papa. Mama sama papa mau menginap ke rumah oma kamu yang sedang sakit.
A: berapa hari ma?
M: gak banyak. Cuma 3 hari. Karena papamu ambil cuti cuma beberapa hari saja.
A: apa ma? 3 hari di bilang sedikit. Jadi yang di rumah siapa? Gina gak mau sendirian ya ma (ngambek).
M: tenang nak. Herin sama Al kan ada disini. Mereka gak ikut kok.

Alhamdulillah. Masih ada harapan, *hehe. Keesokan harinya mama dan papa pun terbang menuju ke Malaysia karena oma memang lahir dan tinggal disana. Setelah mengantar mama dan papa di bandara Kualanamu, aku, kak Al dan Herin langsung pulang. Karena hari ini aku, kak Al dan Herin tidak sekolah dan kuliah hanya untuk mengantar papa dan mama. Sesampai di rumah, aku langsung membereskan rumah menyapu, ngepel, nyuci baju, setrika baju adalah yang aku lakukan ketika mama gak ada di rumah karena kami tidak mengambil ART (asisten rumah tangga). Kalau ada mama paling tugasku hanya menyapu dan ngepel.

Di saat aku sedang menyuci baju, hal aneh terjadi lagi. Ketika itu kak Al main ke rumah ceweknya, walau pun aku sudah marah sampai ke urat-urat, tapi dia memang kepala batu. Dia pergi kayak jelangkung, tiba-tiba orang sama kendaraannya sudah gak ada. Nanti kalau pulang tuh kayak jelangkung juga. Tiba-tiba orangnya dah, nongol (kelihatan).

Ah, kak Al pergi, di rumah tinggal aku sama Herin yang masih kecil berumur 6 tahun. Kalau ada apa-apa, mana mungkin Herin bisa nolongin aku, paling dia tuh mau gak mau yang aku tolongi. Aku yang nyuci baju mendengar suara “hallo. Hallo, nama saya Nana, hallo, hallo”. Itu adalah suara mainannya Herin. Karena bising, asik bunyi terus mainannya itu, akhirnya aku samperin asal suara itu dan aku tidak melihat ada Herin disitu yang aku lihat hanya mainannya saja yang bergerak.

Kemudian aku mencari Herin dan dimana-mana dia gak di temukan, semua sudut rumah sudah ku cari gak ada dianya. Aku mengira dia mau main petak umpet sama aku ternyata setelah aku cari dan jumpain Herin dia berada di rumah tetangga dan main sama anak ibu Yosh. Ya ampun, jangan-jangan. Aku gak mau kalau sampai ini terjadi lagi. Malam harinya aku dan Herin menonton televisi, sedang kak Al belum juga pulang.

Saat asik menonton, tiba-tiba Herin bilang “kak tadi disana kok vas bunganya bergerak ya?”. Ah? Mendengar itu aku mulai takut dan langsung aku mengajak Herin untuk tidur di kamarku karena kamarku dan Herin terpisah. Sewaktu di kamar aku sungguh tidak bisa tidur, apalagi kak Al belum pulang-pulang.

Rumah ini rasanya semakin mencekam, dan aku lihat Herin sudah tidur pulas. Ah, ada Herin tapi serasa sendiri aku di rumah ini. Agar aku tidak semakin ketakutan, aku kemudian main game saja di laptop. Saat sedang asik main game, tiba-tiba “*tap, tap, tap”. Ceritaku bersambung ke aku sungguh sangat takut part 2.

loading...
Fiolin Fradah

Sezgina Fradah

Thank you for reading my stories.
Thank you for liking my stories
Thank you so much…
Terimakasih,Thank you,Arigato gozaimasu, kamsahamnida,Xie-xie,Merci bien,Dankejewel,Matur nuwun,Tarimo kasih,Hatur nuhun,Bujur…

All post by:

Sezgina Fradah has write 94 posts

Please vote Aku Sungguh Sangat Takut
Aku Sungguh Sangat Takut
Rate this post