Alunan Melody Piano Sedih

Aku baru saja pindah kerumah baruku, sebuah rumah yang terletak di perkebunan besar daerah lembang sebelah utara kota bandung. Rumah ini adalah rumah yang dicita-citakan oleh ayah sejak dulu walaupun aku dan ibuku kurang suka, tapi setelah ditinggali semuanya terasa menyenangkan. Rumah ini bergelar arsitektur ala belanda dengan atap yang tinggi dan ruang-ruang yang besar, satu hal lagi yang membuat aku suka dengan rumah ini adalah lantainya.

Lantai rumah ini terdiri dari papan-papan kayu jati yang terjejer, hingga aku berjalan diatasnya aku bisa mendengar genderang dari bawah kakiku. Selain itu banyaknya ruangan-ruangan tersebut membuat rumah ini jadi asing untuk ditelusuri. Pengalamanku ini bermula ketika tukang-tukang barang memasukan barang kekamarku dan membuatku tak bisa masuk kekamarku. Saat itulah aku menemukan ruangan disebelah kamarku, aku kira pintu ruangan itu adalah pintu lemari, tapi ketika aku buka.

Astaga, kulihat ada tangga kayu yang mengarah ke atas loteng. Jujur aku belum pernah punya loteng, pasti didalam loteng itu penuh dengan barang-barang tua. Aku langsung berkhayal kalo aku nanti akan menemukan barang antik, yang nantinya bisa aku jual dengan harga mahal. Tanpa pikir panjang aku langsung naik ke loteng itu, ruang loteng itu tidak terlalu besar. Tercium bau pengap yang sangat menusuk hidung.

Belum sempat aku mencari tau barang apa saja yang ada didalamnya, ayahku memanggilku dari belakang. Saat aku menoleh ke belakang, aku melihat ayah tersenyum padaku kemudian menyuruhku untuk minggir sebentar. Setelah itu ayah melangkah kedepan lalu tangannya menarik sebuah rantai yang terjuntai dari langit-langit dan sebuah lampu menyala dari sana. Aku terdiam memandangi sekitarku sekilas, cuma ada ruangan yang panjang dan cukup rendah.

Aku mengetesnya dengan menjulurkan tanganku dan aku bisa menyentuh langit-langit. Tiba-tiba pandanganku tertuju pada ujung dinding, dengan cepat aku mendekatinya. Ayahku mengikutiku dari belakang, lantai kayu itu pun berderak-derak terinjak oleh kaki kami. Kulihat ada kayu kelabu yang menutupi sesuatu berukuran besar, ayahku lalu membuka kayu itu dan sungguh terkejutnya aku, ternyata sebuah piano besar tersembunyi diloteng yang pengap dan sempit.

loading...

Tak terpikirkan oleh kami, bagaimana pemilik sebelumnya meninggalkan piano besar dan mungkin sangat berharga bila dijual. Warna hitam yang mengkilap, kutekan not nya dan kedengarnya masih bagus. Dan ayahpun sama penasarannya denganku, ayah bilang “piano itu masih bagus” lalu ayah mengelap beberapa ujungnya dan kami pun meninggalkan piano itu. Aku pun terus berpikir kenapa piano itu bisa berada diloteng itu.

Singkat cerita hari berganti hari, aku sangat senang dengan rumah baruku itu, sesekali aku memainkan piano itu. Ayah pernah bilang akan menurunkannya tapi karena dia sibuk, piano itupun masih berada disitu. Hingga suatu malam, aku sedang berada ditempat tidur kesayanganku dan mulai mengantuk akan tetapi ketika mataku mulai terpejam.

“Suara sebuah piano”

Awalnya kukira suara itu berasal dari luar, tetapi baru aku sadar ternyata suara itu berasal dari atas loteng. Aku bangun dan duduk mendengarkan, suara itu tepat berada diatas kepalaku. Mengalun sedih dan menyeramkan, kutendang selimut dan bangkit dari tempat tidur “siapa sih yang main piano diloteng tengah malam begini”.

Aku berdiri sambil suara musik itu terdengar terus tapi pelan, suara itu masih terdengar jelas setiap nadanya. Aku berjalan pelan dan hati-hati, aku melangkah keluar pelan-pelan dan berjalan ke lorong. Papan kayu itu berderak-derak lagi terinjak kakiku yang tak beralas dan lantai terasa dingin, kubuka perlahan pintu loteng dan mengintip kedalam.

Suara musik itu, terdengar sayup-sayup nadanya sedih sangat pelan, sangat lembut. “siapa disitu?” aku bertanya sambil sedikit tergagap. Namun tidak ada jawaban, aku mulai menaiki tangga. Tangganya berderak-derak keras terinjak kakiku yang tak beralas itu. Tak lama aku sampai diloteng, udara sangat panas dan pengap ketika aku sampai diatas tangga dan memasuki loteng yang gelap. Suara dentingan piano itu semakin kencang terdengar. “siapa itu?” aku bertanya kembali.

Jujur aku semakin ketakutan, “siapa sih disana?” Tiba-tiba ada sesuatu menyentuh wajahku dan astaga. Aku terdiam, memaku, aku mengangkat tanganku mencari benda barusan yang mengenai wajahku, dan hah! Itu cuma rantai yang menjuntai, disertai suara musik piano itu berhenti. Aku menyipitkan mata menatap piano diujung dinding sudut loteng itu, tidak ada orang sama sekali.

Tidak ada orang yang sedang main piano, yang terdengar cuma lantai kayu berderak-derak terinjak kakiku ketika aku berjalan mendekati piano. Kupandangi piano itu, kulihat setiap sudut piano itu kemudian aku duduk dibangkunya dan terasa hangat. Seperti ada seseorang yang baru saja mendudukinya, tanpa terasa tanganku sudah berada diatas not hitam piano itu. Ketika baru saja aku menyentuh, aku melihat. Astaga, sudut mataku menangkap sebuah pemandangan yang menyeramkan.

Diatas not piano itu selain ada tanganku, ada dua tangan lain yang sedang memainkan piano, tangan itu terbungkus kulit keriput putih dan pucat. Kukunya hitam dan panjang, berdecit ketika kuku itu menyentuh not piano dan nada-nada itu mulai keluar dari piano. Pandanganku menyusuri tangan menyeramkan itu, dan terlihat kain putih panjang yang menutupi bagian tangan lainnya.

Lalu rambut hitam dan ujungnya yang kering, kemudian leher yang seperti. Astaga, leher berwarna pucat dengan luka merah memar seperti jeratan tali. Badanku terpaku membeku, keringat dingin mengucur, sepertinya aku tak sanggup lagi melanjutkan rasa penasaranku. Aku tertunduk mencoba berdiri perlahan dari bangku piano itu, setengah berdiri aku mencoba membuka mata dan Ya Tuhan.

Dihadapanku sesosok muka menyeramkan muncul. Jaraknya hanya beberapa centi meter, mukanya biru dan banyak sayatannya, matanya putih dan dia masih duduk dengan posisi muka didepanku. Badannya membungkuk tapi mukanya itu. Tengah berada didepanku, mulutnya menyeringai menatapku. Aku berteriak sekencang-kencangnya berharap ayah dan ibu mendengarku, tidak lama aku mendengar bunyi lantai dari arah bawah.

Bunyinya berderak-derak cepat, aku terduduk dipojok sambil menutup mataku dan lutut yang terus menempel di dada. Aku menangis dan ayahku datang lalu memelukku, dia menggendongku sambil bertanya terus menerus kenapa aku berada diatas. Singkat cerita malam lain kudengar suara piano itu lagi, jelas bukan suara angin. Aku mengenali alunan melody piano sedih seperti kemarin, kudengar beberapa saat dan suaranya tepat dari atas kamarku.

Aku terbangun dari tempat tidur sambil terus teringat wanita menyeramkan itu, jadi kutarik saja selimut sampai menutup kepala untuk meredam suara piano lalu segera terlelap. Suara piano itu masih sering kudengar dan pada akhirnya aku sampai terbiasa, terbiasa mendengar lantunan lagu sedih dari piano tersebut.

Walau sekarang aku sudah bekerja dan tidak tinggal lagi dirumah orangtuaku, tapi kadang jika liburan aku menginap disitu. Suara piano itu masih terdengar dan ditambah suara cekikikan dari atas kamarku, hingga suatu hari ayah yang tidak pernah mempercayai cerita tentang piano itu memindahkannya kebawah. Setiap aku sedang berada dirumah orangtuaku, akhirnya aku bisa melihat dengan jelas sosok perempuan yang memainkan alunan melody piano sedih itu.

Share This: