Anabel Part 2

Sebelumnya anabel. Aku mengikuti anak itu dan menyambar tangan Andra agar mengikutiku, dia menarikku terus berjalan melewati beberapa rumah hingga sampailah kerumah yang berjarak 7 rumah dari rumahku. Rumah itu dalam keadaan kacau dan aku langsung menjerit kaget ketika melihat darah bersimbah dimana-mana serta dua mayat tergeletak ditanah dengan bersimbah darah tak jauh dari tempatku berdiri.

“Mamah, papah” ucap anak itu. Andra menarikku agar menjauh, dia menarikku untuk pulang dan menelepon polisi. Aku mengikuti Andra dan tak lupa membawa gadis kecil itu ikut bersamaku.Sesampainya dirumah, Andra langsung menelpon polisi dan menceritakan keadaannya, polisi berjanji menerima laporannya dan berjanji datang secepat mungkin. Sambil menunggu polisi datang aku menyiapkan mie instan untuk Andra dan gadis kecil itu setelah aku mengganti pakaian anak itu dengan pakaianku, ya meskipun kebesaran tapi lumayanlah dari pada pakaiannya yang penuh noda darah dan basah.

Andra dan anak itu sama-sama makan dengan lahap mie instan yang aku buatkan sedangkan aku hanya diam melihat mereka. Setelah makan anak itu tertidur dan Andra memindahkan anak itu untuk tidur di sofa. Aku juga ikut duduk di sofa, tanganku masih bergetar karena shock akan apa yang kulihat tadi. Ya ini kali pertama aku melihat hal-hal yang mengerikan itu didepan mataku, dan tentu saja sukses membuatku mual.

Andra mendekat kearahku tapi belum sempat dia duduk, seseorang mengetuk pintu dan ketika dibuka ternyata itu pak polisi. Pak polisi menginformasikan bahwa korban ditemukan sudah tak bernyawa, korban adalah sepasang suami istri berusia sekitar 40-45 tahunan dari TKP ditemukan jika korban memiliki anak perempuan berusia 5 tahun. Pak polisi meminta ijin untuk melihat anak itu, Andra bergeser dan mempersilahkan pak polisi berjumlah 4 orang untuk masuk.

Pak polisi melihat anak itu yang terlelap disampingku dan melirik kearahku. Pak polisi menanyai identitas kami, aku pergi kekamar mengambil KTP begitupun Andra. “Kanya Dewi berusia 20 tahun dan Andra Anggara berusia 21 tahun berstatus mahasiswa apa hubungan kalian dengan korban?” tanya salah satu polisi. Aku dan Andra saling melirik tak mengerti.

“Saudara Kanya dan Andra apa hubungan kalian dengan korban?” tanya mereka lagi.
“Kami tak mengenal mereka, kami baru pindah kerumah ini sebulan lalu jadi kami belum mengenal siapa-siapa disini” ucap Andra.

“Lalu apa hubungan kalian hingga tinggal bersama?” tanyanya lagi.
“Kami sudah menikah” ucap Andra sambil mengankat tanganku yang memakai cincin kawin yang sama.

Polisi itu menatap curiga pada kami, sepertinya mereka tak percaya akan apa yang Andra ucapkan. Akhirnya Andra menceritakan jika kami sudah menikah sejak kami lulus SMA 2 tahun lalu, kami baru pindah sebulan lalu, sebelumnya kami ngekost 2 KM dari sini. Andra juga menceritakan kronologi pertemuan kami dengan gadis kecil yang ternyata bernama Anabel itu.

Polisi masih tetap ragu mendengar penjelasan Andra tapi karena waktu masih jam 1 malam jadi mereka memutuskan untuk melanjutkan interogasi esok hari. Pak polisi juga meminta menjaga Anabel untuk sementara waktu hingga keluarga lain dari anak itu ditemukan. Malam akhirnya berlalu, pagi hari seisi kompleks heboh dengan peristiwa pembunuhan yang terjadi tadi malam.

Aku bingung kemana orang-orang semalam ketika Anabel menangis sepanjang jalan dari rumahnya menuju rumahku, aku juga heran kenapa tetangga disamping rumah Anabel tidak mendengar keributan dirumah Anabel saat pembunuhan itu terjadi. Kerumunan warga terus berdatangan untuk melihat kejadian keji itu meskipun para polisi melarang warga mendekat.

Di rumah, Anabel duduk diam memakan sarapannya, sejak dia bangun tidur dia sama sekali belum mau bicara meskipun dia merespon perintah dariku. Andra bilang mungkin dia masih trauma jadi menyuruhku untuk tidak memaksanya bicara, apalagi melihat sorot matanya yang bergerak-gerak ketakukan. Jam 8 polisi kembali mendatangi rumah kami, saat melihat mereka Anabel terlihat sangat ketakutan dan langsung bersembunyi dibelakang punggungku bahkan ketika polisi wanita membujuknya untuk mendekat dia malah menangis.

Anabel terus menangis sambil menggenggam bajuku, karena kasihan aku menariknya kepangkuanku dan dia langsung menyembunyikan wajahnya dirambutku. Sepertinya dia masih sangat trauma, beruntung polisi-polisi mau mengerti dan mengijinkan aku untuk menenangkan Anabel dikamar. Setelah sampai dikamar aku menurunkan Anabel diranjang dan berusaha menenangkannya.

Anabel masih terisak kecil dan matanya masih bergerak-gerak ketakutan. Aku memeluk tubuh kecilnya, dan mengajaknya berbicara hal-hal menyenangkan agar dia tenang. Anabel terus bersembunyi didalam pelukanku hingga entah berapa lama kemudian isakannya tak terdengar lagi. Aku melepaskan pelukanku dan melihat Anabel ternyata tertidur, ya mungkin dia lelah karena menangis atau lelah karena semalam dia baru tertidur ditengah malam. Aku meninggalkan Anabel yang tertidur untuk menemui Andra dan para polisi dibawah tapi ternyata para polisi sudah pulang. Andra duduk sambil menarik nafas berat ketika melihat kedatanganku.

loading...

“Apa yang dikatakan para polisi?” tanyaku dan duduk dihadapannya.
“Anabel tidak memiliki keluarga lain, dirumahnya belum ditemukan bukti apapun bahkan tidak ada sidik jari lain dirumah itu selain sidik jari Anabel dan kedua orang tuanya”.
“Jadi?”.

“Polisi akan mengintrogasi Anabel karena dia satu-satunya kunci pembunuhan itu karena polisi bilang semua rumah itu hancur berantakan kecuali kamar Anabel, bukannya itu sedikit aneh, seisi rumah berantakan dan keluarganya terbunuh tapi Anabel tidak tersentuh sama sekali padahal dia ada ditempat yang sama”.

“Maksudmu polisi curiga Anabel yang membunuh keluarganya?” tanyaku heran.
“Tentu saja bukan begitu, tapi polisi bilang mungkin Anabel mengenal pembunuhnya”.
“Jadi?”.
“Polisi bilang kita harus hati-hati mungkin saja pembunuhnya masih berkeliaran disekitar kita” jelasnya.

Aku hanya mengangguk-angguk mengerti, pembunuh ada disekitar kita, ya itu memang terdengar menyeramkam tapi mau bagaimana lagi semua terlanjur terjadi bukan? Melihat keadaan Anabel sekarang dialah korban dalam situasi ini dan sebagai manusia tentu saja kita harus menolongnya. Bersambung ke anabel part 3.

Adymas Art

Adymas Art

Seorang yg suka ngedit foto ,tapi sering diganggu setan ,,…….
suka nonton anime (Naruto,Boruto,Boboiboy Galaxy),suka baca/tulis cerita jangan lupa di add
Fb: Adymas Art
Instagram:@adymas_art

All post by:

Adymas Art has write 98 posts

Please vote Anabel Part 2
Anabel Part 2
Rate this post