Anabel Part 5

Sebelumnya anabel part 4. Semenjak malam itu aku berbagi kamar dengan Andra dan Anabel, hampir setiap malam aku sering mendengar suara pergerakan orang tapi anehnya saat aku keluar sudah tidak ada siapa-siapa. Keanehan terus terjadi dari mulai piring, gelas dan sendok yang hilang, makanan yang cepat sekali berkurang didalam kulkas, sampai baju asing yang tergantung dijemuran bajuku.

Awalnya Andra tak percaya tapi setelah baju asing yang kudapatkan kuperlihatkan pada Andra barulah dia curiga apa yang kurisaukan benar adanya. Aku dan Andra memeriksa seluruh ruangan tapi tak ada siapapun bahkan Andra mengganti semua kunci pintu keluar untuk memastikan tak ada lagi orang yang masuk kedalam rumah kami. Sebelum tidur Andra menyuruhku untuk membangunkannya jika mendengar suara aneh.

Malam itu saat kami terlelap tidur aku meraba kesebelah kiriku dan ternyata Anabel tidak ada. Aku langsung bangun dan membangunkan Andra juga untuk mencari Anabel, Aku menyalakan lampu semua ruangan dan menanggil-manggil nama Anabel hingga suara isak tangisnya menuntun kami menemukannya. Anabel berjongkok disamping mesin cuci dengan tangan yang berlumuran darah dan pintu keluar yang terbuka.

“Ya Tuhan Anabel apa yang terjadi?” jeritku histeris. Anabel menunduk sambil menangis, seseorang melukai pergelangan tangan kecilnya dan mengeluarkan banyak darah. Andra mengendong Anabel mengikat tangannya yang terluka untuk menghentikan pendarahan dan menyuruhku untuk menunggunya didalam mobil karena dia akan mengambil uang dan ponsel kedalam rumah.

Aku terlalu panik untuk mendengar perkataannya jadi aku hanya mengangguk saja, setelah dia pergi barulah aku sadar bagaimana jika orang yang melukai Anabel ada didalam rumah dan melukai Andra. Aku sangat panik di antara mencari Andra atau tetap di sini menunggu bersama Anabel. Suara tangisan dan rintihan Anabel perlahan menghilang dan dia menutup matanya.

“Anabel sayang bangun nak, Anabel, Anabel” teriaku frustasi melihat Anabel tak sadarkan diri. Aku berteriak memanggil Andra tak berapa lama Andra datang dan langsung tancap gas menuju rumah sakit. Sepanjang perjalanan aku berusaha untuk tenang meskipun tanganku sudah gemetaran sedangkan Andra sibuk menelepon polisi sambil menyetir dan menceritakan situasinya. Sesampainya di rumah sakit Anabel langsung ditangani dan aku hanya terduduk lemas melihat mereka membawa Anabel masuk. Andra mendekat dan menarikku agar bangun dan duduk dikursi.

“Ini sangat menakutkan” ucapku lirih.
“Tenanglah semua akan baik-baik saja” hibur Andra.

Lama kami menunggu akhirnya dokter yang merawat Anabel keluar juga dan menemui kami. Dokter bilang keadaan Anabel tidak terlalu parah, lukanya tidak memotong pembuluh darah pentingnya, lukanya akan senbuh dalam beberapa hari. Selepas kepergian dokter, polisi datang mengintrogasi kami, Andra menceritakan kronologisnya tapi polisi bilang tak ada tanda-tanda orang masuk kedalam rumah kami bahkan tak ada sidik jari orang asing dirumah kami dan tak ada barang bukti yang dipakai untuk melukai Anabel.

“Jadi maksud anda tak ada tanda-tanda orang melukai Anabel? Lalu darimana Anabel bisa mendapatkan luka dipergelangan tangannya?” tanyaku heran.
“Ya seperti kasus pembunuhan orang tuanya yang tanpa jejak, orang yang melukai Anabel pun sepertinya orang yang sama. Tapi pertanyaannya kenapa orang itu melukai Anabel sekarang padahal saat membunuh orang tuanya dia tak menyentuhnya sama sekali?” jelas pak Polisi.

Baik polisi apalagi aku dan Andra sama-sama tak mendapatkan pencerahan sedikitpun, polisi menyuruh kami tinggal di rumah sakit sementara karena sepertinya rumah kami tak aman untuk saat ini. Aku masuk kedalam ruang rawat Anabel dan melihat gadis kecil itu masih terlelap, aku duduk disampingnya dan mengelus rambutnya. Andra masuk membawa makanan dan memelukku.

“Semua sudah terkendali, dan akan baik-baik saja” bisiknya. Aku menangis mendengar ucapannya, entahlah aku merasa lelah mengikuti alur petak umpet yang dibuat si pembunuh. Aku takut pada sesuatu yang belum pernah kulihat dan terlibat pada sesuatu yang tak kuketahui namun kehadirannya terlalu nyata untuk kupungkiri. Andra masih memeluku ketika Anabel sadar dan menatap kearah kami, matanya berkaca-kaca untuk pertama kali dia bicara.

“Dia bohong” ucapnya.
“Dia? Dia siapa sayang?” tanyaku halus.

loading...

Anabel tidak bicara lagi tapi malah menangis lagi, aku mendekat dan memeluknya, menenangkannya agar berhenti menangis. Setelah dia berhenti menangis dia terus menatapku, aku tak berkata apapun dan balas menatapnya sambil tersenyum. Perlahan Anabel menyentuh tanganku dan menggenggamnya sambil berbisik.

“Dia melihat kita, selalu melihat kita” bisiknya.

Aku menatapnya tak mengerti tapi tak memaksanya untuk bicara lebih banyak.

“Tidak apa-apa sayang semua akan baik-baik saja” hiburku.

Keadaan Anabel semakin hari semakin membaik, dia mengisi waktunya dengan menggambar ketika aku dan Andra pergi kuliah dan polisi menjaganya dari luar. Aku melihat gambar-gambar hasil Anabel, di setiap gambar Anabel menggambar seseorang berbaju hitam atau tangan hitam yang mengawasi dari belakang. Aku memperlihatkan gambar Anabel pada Andra.

“Sepertinya dia yang dimaksud Anabel adalah seseorang yang dia kenal dan orang itu sepertinya tinggal dirumah kita juga saat Anabel masuk ke rumah kita” ucapku.
“Tapi polisi bilang tak ada siapapun dirumah kita, bukankah kita juga sudah memeriksanya dan tak ada siapapun dirumah selain kita”.

“Itulah keanehannya, tadi Anabel bilang dia ada dan selalu mengawasi kita dan kurasa dia tak mungkin bohong, lihatlah gambar-gambar yang dia buat juga menunjukan kalau dia sedang diintai oleh seseorang”.

Andra menatap gambar-gambar itu dengan saksama.

“Jika memang benar ada penghuni asing dirumah kita, kenapa tidak kita pancing dia keluar” gumamnya.
“Maksudnya?” tanyaku tak mengerti.

Andra tersenyum dan bangkit pamit untuk mempersiapkan segalanya meskipun aku tak tahu apa yang dia siapkan sebenarnya. Malam itu Andra tak kembali kedalam rumah sakit, aku terus meneleponnya tapi dia tidak mengangkatnya dan malah mengirim SMS agar aku jangan khawatir padanya. Semalaman aku tak tidur karena mengkhawatirkannya, entahlah aku terbiasa selalu bersamanya dan saat dia tak ada rasanya ada yang tidak beres dengan hatiku apalagi situasinya sedang tak aman sekarang.

Pagi hari Andra akhirnya datang ke rumah sakit, aku langsung memeluknya dan menghujaninya dengan pertanyaan tapi dia malah semakin mempererat pelukannya dan menggumamkan maaf berulang kali. “Kamu benar, seseorang mencuri makanan kita semalam dan dia sama sekali tidak meninggalkan sidik jari bahkan tak ada jejak kaki yang ditinggalkannya” ucapnya.

Aku memandangnya tak percaya ternyata perasaanku selama ini tak salah memang benar ada orang asing didalam rumahku. Andra menceritakan semalam dia menyimpan makanan di kulkas dan menghitungnya dulu bahkan memotretnya, tapi di pagi hari makanan itu sudah banyak berkurang tapi tak ada jejak sidik jari siapapun padahal dia sudah memasang selotip dipegangan kulkas. Di lantaipun tak ada jejak kaki lain selain jejak kakinya padahal dia sengaja mengepel lantai dengan banyak debu agar jejak kaki orang terlihat jelas.

“Jadi maksudmu ada orang asing yang tinggal dirumah kita tapi dia seperti siluman yang tak bisa terdeteksi?” tanyaku menyimpulkan. Andra mengangguk menanggapi pertanyaanku, aku menatapnya bingung dan dia pun sama bingungnya sepertiku. “Anabel, dia pasti tahu tentang orang itu, apa dia sudah bicara lagi?” tanya Andra. Aku hanya menggeleng, ya Anabel tak pernah bicara lagi setelah saat itu bahkan matanya kembali melirik ketakutan sejak dua hari lalu.

Andra mengacak rambutnya frustasi lalu mengajakku untuk sarapan karena dia lapar, ya dalam kondisi seperti ini pun dia masih memikirkan untuk mengisi perutnya. Pulang sarapan dengan Andra aku kembali kedalam ruang rawat Anabel, anak itu sedang menatap kearah luar jendela dengan sendu, aku mendekat dan mengelus kepalanya dia berbalik kearahku dengan bersimbah air mata.

“Maaf aku salah, maaf” bisiknya.
“Hai, sayang tidak apa-apa kenapa harus minta maaf?” tanyaku lembut.
“Dia, dia akan membunuh kalian” isaknya.
“Dia? Dia siapa sayang?”.
“Dia abang, abangku” jawabnya semakin terisak.
“Dia membunuh papah dan mamah sekarang dia mau bunuh kalian juga”.

Bersambung ke anabel part 6.

Adymas Art

Adymas Art

Seorang yg suka ngedit foto ,tapi sering diganggu setan ,,....... suka nonton anime (Naruto,Boruto,Boboiboy Galaxy),suka baca/tulis cerita jangan lupa di add Fb: Adymas Art Instagram:@adymas_art

All post by:

Adymas Art has write 96 posts