Anak Ambar

Ada yang tau anak ambar itu apa? Aku si kurang begitu paham. Tapi ini cerita aku dapat dari almarhumah tanteku. Aku manggilnya Lek (panggilan tante bahasa Jawa). Dia tinggal di Balaraja, Tangerang, mungkin kak John tahu daerah itu atau ada yang tahu kalau daerah itu agak mistis? Tapi aku jarang kesana sekarang karena om ku sudah menikah lagi *kasihan sepupuku. Oke tinggalkan itu.

Lanjut kecerita lek ku. Waktu anaknya SD namanya Nopi mereka berdua main ketetangganya masih daerah Balaraja juga. Dan tetangganya itu punya rumah-rumahan (kayak rumah berbie gitu). Di tanyalah sama lek ku “itu rumah-rumahan mainan anaknya Bu?” Tapi tetangganya bilang “bukan. Itu rumah anak saya”.

What’s? Rumah anak kok kecil? Kayak (maaf) keong yang punya rumah-rumahan? Terus si lek tanya lagi “memang muat bu?”. Lalu ibu itu menjawab “muat mbak. Ini buat anak ambar saya”. Terus disaat yang sama sepupuku Nopi bicara dekat rumah-rumahan itu sambil senyum-senyum. Saat ditanya mamanya dia bilang lagi main sama Putri. Terus tetangga itu nyeletuk “lagi main sama anak ambar saya. Namanya putri”.

Iya ternyata itu si putri mainnya sama Nopi dari saat datang kesana. Sampai pulang kerumah kata lek ku. Saat dirumah ditanya “Nopi kenapa ngomong sendiri?”. Kata Nopi “lagi main sama putri. Tuh putri lagi didekat pintu”. Lek ku gak percaya masa Putri main sampai rumahnya. Akhirnya lek ku percaya setelah lihat pegangan pintu mengayun naik turun sendiri dan terbuka.

Ada anak kecil cantik didepan pintu. Saat didekatin anak itu hilang. Sampai banjir besar tahun 2002 pun dia ikut kesini kerumah mbah. Aku iseng tanyain sepupuku yang masih SD itu. Aku sudah SMP kelas 1 waktu itu. “Nop, kata mama kamu, kamu main sama putri ya?” tanyaku. “Iya, nih dia ikut kok. Tuh didepan” katanya. Tapi aku gak lihat siapa-siapa. “Gak ada” jawabku singkat. “Mbak Pipit gak lihat si” kata dia lagi. Memang aku gak lihat (gumamku dalam hati). “Ya sudah tapi jangan ganggu ya dia” pesanku sama Nopi untuk disampaikan ke Putri. “Iya” kata Nopi yang langsung main keluar. Mungkin sama Putri. *Hmm.

loading...

Saat besokannya banjir gede itu pun datang. Jakarta dikepung banjir. Waktu banjir masih sebetis aku, kita pada main digudang tempat sesajen yang aku pernah cerita di “sesajen” ada tempat tidur besi zaman dulu. Kita naik kesana biar gak main dibanjir-banjiran mulu. Tiba-tiba Nopi menunjuk kearah pintu.

“Mbak. Itu ada putri aku main dulu kesana ya”. Sontak aku tahan dia. “Banjir Nopi. Nanti basah. Itu entar ada cacing”. Tapi dasar bocah dia langsung loncat. Keluar. Gak berapa lama dia masuk. “Putrinya sudah pulang” katanya terus dia murung. Entah kenapa. Dan besok-besoknya kata lek ku dia sudah jarang main sama putri dan lama-lama dia sudah gak lihat putri sampai sekarang. Kemana ya si Putri?

KCH

fitri de-ye

Sekedar kembali mengingatkan. "Jangan pernah baca ini sendirian" :)

All post by:

fitri de-ye has write 2.657 posts