Anak Angkat

Aku mempunyai seorang ibu angkat, karena aku hanyalah seorang anak angkat, yang di adopsi. Aku tidak pernah tahu siapa ibu yang telah melahirkanku. Aku pernah mengetahuinya sekali dulu saat dia meninggalkanku. Ketika aku masih terlalu kecil untuk mengingat, lagian aku sangat mencintai keluarga yang telah mengadopsiku. Mereka sangat baik terhadapku. Aku makan, dan tinggal ditempat yang bisa dibilang sangat harmonis dan aku pun bisa begadang sampai tengah malam.

Baiklah, aku akan menceritakan tentang keluargaku dengan sangat cepat. Pertama adalah ibu angkat. Aku tidak pernah memanggilnya ibu, mama, atau apapun. Aku hanya memanggilnya dengan nama pertamanya saja, Janice, dan dia tidak masalah dengan hal tersebut. Aku bahkan tidak pernah berpikir dia menganggap hal tersebut. Bagaimanapun juga, dia adalah ibu angkat yang sangat baik. Aku rasa dialah orang yang sangat direkomendasikan untuk mengadopsiku. Kadang-kadang aku sering merebahkan kepalaku dipangkuannya saat dia menonton televisi dan dia akan menggelitiki punggungku dengan kukunya. Dia benar-benar ibu yang sayang terhadap anak meskipun aku hanyalah seorang anak angkat.

Lalu yang kedua, adalah ayah angkatku. Nama aslinya adalah Richard, tapi dia tidak pernah begitu mencintaiku. Jadi aku mulai merayunya dengan memanggilnya ayah agar aku bisa mendapat kasih sayangya. Tetapi tampaknya hal tersebut tidak berhasil. Aku mulai berpikir, bahwa apapun yang telah aku lakukan dia tidak mungkin bisa menyayangiku seperi anaknya sendiri. Ya hal tersebut dapat aku mengerti, jadi aku tidak terlalu ada masalah dengan hal itu.

Lalu yang paling menonjol dari sifat ayah angkatku adalah pribadinya yang sangat disiplin. Dia benar-benar tidak pernah ragu untuk memukul anaknya jika berbuat salah, apalagi terhadap anak angkat sepertiku. Aku mengetahui hal tersebut saat aku tidak bisa menggunakan kamar mandi dengan baik. Ya, aku bisa menggunakannya dengan baik pada akhirnya karena metode yang diberikannya tersebut.

loading...

Dan yang terakhir adalah adik perempuanku. Si kecil Emily. Dia begitu kecil ketika aku baru diadopsi, jadi sebenarnya usia kita sama, tapi da agak lebih tua sedikit. Hanya saja aku suka menganggap dia sebagai adik. Kami sering melewati hari bersama melebihi saudara kandung sekalipun! Kami juga sering selalu begadang bersama dan mengobrol tentang segala hal. Ya, kebanyakan dia yang berbicara. Aku lebih sering mendengarkannya karena aku menyayanginya.

Itu adalah saat-saat terindah yang kami miliki bersama. Di rumah kami memiliki kamar tidur yang terbatas, jadi karena aku tidak ingin tidur diruang tamu sendirian saat kecil dulu akhirnya aku dibuatkan sebuah matras kecil didekat tempat tidur adikku. Di situlah akhirnya aku tidur. Tapi hal itu tidak menjadi masalah, karena aku sangat senang berada didekatnya. Dan seolah aku merasa kalau aku bisa selalu menjaga adik kecilku.

Tetapi semuanya berubah pada hari rabu malam yang mengerikan. Saat itu aku sedang berada didalam rumah, sedang tidur siang ketika si kecil emily membuka pintu depan. Suara dari pintu depan yang terbuka membangunkanku dan aku segera berlari kearah ruang tamu menuju pintu depan. Saat itulah aku baru menyadari kalau itu adalah hari rabu. Aku tidak pernah dapat mengingat hari dengan baik. Sebenarnya, ya aku akan mengatakan ini dengan sejujurnya. “Inderaku untuk mengingat waktu sangatlah payah! Tapi itu tidak masalah”.

Aku mengetahui bahwa saat itu adalah hari rabu karena saat itu Emily baru saja pulang dari perkumpulan gereja. Dia berjalan menuju depan pintu dan memelukku. Kemudian diikuti oleh ayah dan Janice. “Apa kau menikmati tidur siangmu?” kata Janice menggodaku sambil mengelus-elus rambutku. Kemudian aku menolehkan kepalaku dan menjilat pipinya dengan maksud hanya bercanda. “Jangan menjilati ibumu seperti itu!” bentak ayah dengan otoritasnya.

Dia menutup pintu dibelakangnya sambil menggantungkan mantelnya. “Apa-apaan orang ini. Jelas sekali aku hanya bercanda” gerutuku pelan agar dia tidak bisa mendengarnya. Ya, aku rasa dia juga tidak pernah mendengarkanku. Kemudian Emily segera menuju kedalam kamar kami berdua. Dan aku mengikutinya dibelakang. Lalu dia mulai menceritakan hari-harinya padaku. Ya kalian tahu lah, kebiasaan remaja cewek. Tetapi aku tetap mendengarkannya agar dia merasa lebih baik.

Setelah dia selesai menceritakan hari-harinya padaku, dia pergi keruang tengah dan menyalakan televisi. Kau tahu, emily tidak seperti kebanyakan remaja putri yang lain. Dia tidak menyukai film kartun maupun sinetron. Dia lebih menyukai acara edukasi yang berhubungan dengan dunia hewan. Ya, aku tidak masalah dengan hal tersebut, karena sebenarnya aku juga tertarik dengan acara itu.

Hari pun semakin larut, Janice segera mendatangi kami. “Emily, ini sudah melewati jam malam. Matikan televisi dan segera tidur. Dan kau juga tidur” katanya sambil menunjuk kearahku. Emily segera mematikan televisinya dan bergegas menuju kedalam kamarnya, aku mengikutinya dari belakang. Ketika berjalan meninggalkan ruang tengah, aku bisa merasakan kalau ada sesuatu yang tidak beres.

Kami masuk kedalam kamar dan Emily mematikan lampu. Tepat saat dia mematikan lampunya aku menangkap sebuah gerakan disudut mataku. Itu tepat berada dari arah luar jendela. Tapi setelah aku menoleh kearah gerakan tadi, aku tidak melihat ada apa-apa disana. Tapi aku masih merasa ada sesuatu yang tidak beres. Ini semua demi adik angkat tersayang.

Aku merebahkan diriku didalam gelapnya kamar dengan seberkas cahaya kecil dari lampu luar yang sedikit menerangi kamar. Lagi dan lagi aku mendengar ada suara pelan dari luar jendela, bunyi ranting, dedaunan, dan pakaian yang bergesek. Aku juga samar-samar mencium bau keringat dan darah. Mataku benar-benar tidak bisa terpejam malam itu.

Kemudian, suara-suara diluar mulai mereda. Dan bau darah pun perlahan telah hilang baunya dari hidungku. Aku mulai merasa nyaman. Dan kemudian aku menutup kedua mataku. Tidak lama kemudian aku mendengar bunyi gebrakan yang sangat keras. Aku segera terbangun dari tidurku dan berteriak. “Ada seseorang dirumah!” Aku berteriak dengan sekuat tenagaku. “Bangun!” Kataku sambil membangunkan Emily, dia terbangun dan saat aku telah melihatnya duduk, aku segera berlari menuju kamar orang tua angkatku.

Ayah telah meninggal, lehernya terkoyak terbuka dan terlihat darah mengalir keluar dari lehernya membasahi kasur dan lantai. Aku melihat pintu kamar mandi dikamar ayah tertutup dan tepat didepannya berdiri seseorang seorang pria. Ya, seorang pria, aku tidak merasa nyaman memanggil dia seperti itu. Dia sangat besar dan kasar. Dia berbalik dan menatap kearahku dan saat itu adalah kali pertama aku melihatnya secara jelas.

Aku tidak akan melupakan itu. Matanya sangat besar, seperti manik manik yang terjebak dalam kebengisan. Jenggotnya tampak berantakan dan darah tampak menetes dai jenggot kotor tersebut. Bajunya kotor dan wajahnya terlihat dingin. Saat itu aku merasakan adanya bau keringat dan darah sama seperti yang aku cium sebelumnya tapi kali ini bau tersebut lebih menyengat lagi.

Dia melihatku sambil tersenyum dengan memperlihatkan susunan giginya yang kuning dan tak rata. Senyuman itu benar-benar menakutiku. Aku berpikir aku akan mati saat itu. Kemudian dia berbalik lagi kepintu kamar mandi seolah tidak terganggu dengan kehadiranku. Aku sangat ketakutan dan tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku hanya berteriak dan menangis. Aku hanya melihatnya memasuki kamar mandi yang merupakan tempat ibu angkatku sembunyi.

Aku melihat saat dia mengangkat pisau besar yang dibawanya, dan menggunakan tidak seperti seharusnya. Aku melihat saat dia mulai merobek dan mengiris setiap bagian tubuh ibuku. Lalu aku mendengar sesuatu, hal terakhir yang ingin kudengar. Itu adalah teriakan Emily yang datang dari arah belakangku. Sosok besar menyeramkan itu menoleh dari tubuh ibuku yang terkoyak dan melihat kearah adik kecilku. Aku kebingungan.

Pria itu berdiri dan mulai berjalan cepat kearahku dan adikku. Adikku segera membalikkan badan dan berlari. Dan aku sangat terkejut ketika ternyata pria itu hanya melewatiku dan mengejar adik perempuanku tadi. Kenapa Emily masih dirumah? Kenapa dia tidak segera melarikan diri setelah melihat situasi seperti ini? Dan saat ini dia mungkin bisa kehilangan nyawanya.

Aku berlari mengejar mereka berdua. Aku mengira pria itu akan membunuh saudara angkat perempuanku seperti yang dia lakukan pada seluruh keluargaku. tapi ternyata aku salah. Pria itu mencengkeram adikku dengan lengannya dan memastikan bahwa dia telah mengambil alih. Pria itu menyeret saudara perempuanku menyusuri rumah. Aku terus berteriak sebisaku, berharap ada yang mendengar dan menolong kami dari kekejaman ini. Tidak seharusnya pria itu membawa saudara perempuanku.

Saat dia melewatiku dia menoleh kearahku dan menatapku dengan matanya yang penuh teror. “Kenapa?” dia tidak merespon pertanyaanku, dan meletakan tangannya yang bebas diatas kepalaku. Sementara Emily menjerit ditangannya yang lain dan berkata “anjing pintar”. Kemudian dia memberikanku senyuman lain, benar-benar senyuman yang aneh dan tidak lazim. Aku mengikutinya menuju pintu dimana dia menyeret adikku yang tak tertolong kedepannya. Dia membuka pintu itu dan menyeret adikku keluar. Dan kemudian dia membanting pintu.

Sekarang disinilah aku, duduk didalam rumah dengan orang tua tiriku yang telah termutilasi. Menggigil dan merintih dalam ketakutan. Pria itu ada diluar sana dengan adikku tersayang. Melakukan hal yang tidak bisa aku bayangkan, entah apa yang akan dilakukan pria itu kepada adikku, dan aku tidak bisa melakukan apa-apa.

Aku ingin menolongnya jika bisa. Aku sangat ingin bisa mengejar pria tadi dan menolong adikku. Sayang aku tidak bisa. Di sinilah aku duduk. Sambil menatap kearah pintu. Aku melihat keempat kakiku yang berbulu. Andai saja aku bisa membuka pintu itu.

loading...
Ira Sulistiowati

Ira Sulistiowati

Jalani hidup ini penuh dengan tawakal.

All post by:

Ira Sulistiowati has write 8 posts