Angkat Telepon

Hai KCH, selamat malam dan selalu saya ingatkan kembali untuk “Jangan Pernah Baca Ini Sendirian“. Kali ini jika ada sebuah telepon yang berbunyi dari handphone kamu jangan sampai terlambat untuk segera mengangkatnya, karena bisa saja keluarga kamu atau seorang teman kamu butuh bantuan secepatnya dan mungkin juga telepon itu sangat penting. Satu detik saja kamu tidak segera mengangkatnya, nasib akan berubah. Seperti kisah nyata yang dialami oleh orang ini, penasaran dengan kisahnya? silahkan membacanya dan pastikan kamu tidak sendirian ketika membaca cerita ini.

Namaku Cahya, sebuah pengalamanku yang bertahun-tahun lalu akan aku bagi malam ini. Singkat cerita, setelah lulus kuliah keperawatan aku mencoba kerja di salah satu rumah sakit di kota Bandung. Aku bukan bekerja sebagai perawat, namun aku bekerja sebagai kasir pembayaran dan kadang juga berada di unit pelayanan. Malam itu aku kebagian jadwal malam, hampir sedikit kemungkinan ada pasien yang masuk ketika jam malam.

Tapi itu hanya menurutku saja, nyatanya masih banyak juga yang berkunjung ketika tengah malam. Kejadian ini aku alami, ketika aku bekerja jaga malam untuk pertama kalinya. Aku biasa menangani UGD terutama di bagian pelayanan, biasanya jika ada telepon meminta aku mengirimkan ambulans karena kecelakaan atau apalah, aku langsung kirim ambulans kesana.

Sampailah pada malam hari itu, aku benar-benar lelah. Aku duduk dimeja ku lalu bersandar, mencari posisi yang enak untuk mendudukan badanku. Kulihat jam menunjukan pukul jam 12:15 suasana yang sepi membuatku akhirnya tertidur. Dalam tidurku, aku mendengar sebuah suara telepon. Telepon yang terus berdering, dan ketika aku sadar sebuah telepon masuk ke mejaku. Aku langsung mengangkatnya, suara laki-laki yang menelponku marah-marah.

Dia bilang ada kecelakaan, aku pun segera mengirimkan ambulans kesana. Laki-laki itu sempat komplain karena aku mengangkat telepon cukup lama, aku pun menjawab sedikit berbohong “tadi sedang banyak pasien” dan kulihat jam sudah menunjukan pukul 1 malam, ternyata tidurku cukup lama. Beberapa menit kemudian, sebuah mobil ambulans datang membawa korban laki-laki yang sekilas aku lihat rupanya dia korban kecelakaan bermotor.

Sayangnya, nyawanya tidak terselamatkan dan korban yang lain kulihat anak kecil sedang berbaring dengan bantuan alat pernafasan. Dan kakinya terlihat bengkok, ternyata kakinya patah. Karena tidak kuat melihat itu, aku langsung ke kamar mandi. Jujur untuk melihat darah, aku

sering tidak kuat dan karena hal itu menjadi salah satu alasanku untuk tidak bisa menjadi dokter. Aku pun kembali ke mejaku, sangat sepi malam itu. Tapi aku harus standby di meja kerjaku karena mungkin ada keluarga korban untuk melakukan registrasi dan semacamnya. Aku pun berdiri sejenak mengangkat badanku, dan terdengar telepon berdering lalu aku segera mengangkat telepon nya. “Ya hallo selamat malam, hallo?” karena tidak ada suaranya, aku pun menutupnya.

Dan tidak lama, sebuah telepon berbunyi kembali. Kali ini bukan teleponku, suara telepon itu menggema di ruangan ini. Aku berjalan mencari suara telepon yang berdering itu, sampai aku melihat sebuah cahaya merah dari arah ruang security yang sudah tutup. Aku pun kesana lalu mengangkatnya, “ya hallo selamat malam?” telepon itu tidak bersuara apa-apa, hening. Aku pun segera menutup telepon nya dan terdengar kembali suara telepon. Lalu aku angkat lagi telepon nya, namun tetap tidak ada suaranya.

Aku kembali menutup telepon nya, lalu kali ini telepon di mejaku yang berbunyi. Aku pun berjalan cepat ke mejaku, ketika aku berjalan menuju mejaku. Aku mendengar ada seseorang yang berlari, aku juga merasa ada yang mondar-mandir melewatiku dan samar-samar terdengar suara tertawa anak kecil. Aku pun semakin mempercepat langkahku, dan begitu aku belok menuju mejaku.

Aku dikagetkan oleh seorang laki-laki yang sudah duduk tegak di depan mejaku. “Maaf pak menunggu, saya tadi dari belakang” namun laki-laki itu hanya diam. Aku pun bertanya padanya “Maaf bisa saya minta surat dari UGD nya? maaf pak,” Laki-laki itu nampak terdiam, dia hanya menatapku dan teleponku berbunyi lagi, aku pun mengangkatnya lalu.

“Angkat telepon nya”… “Angkat telepon nya”… “Angkat telepon nya”…

loading...

Suara menyeramkan seorang laki-laki terdengar dari telepon itu. Aku langsung menutupnya dan astaga ketika aku lihat, sosok laki-laki yang ada didepanku kini wajahnya sudah berlumuran darah dengan penuh luka. Dia menatap marah kepadaku dan tiba-tiba dia membentak kepadaku sambil berkata.

“Angkat telepon nya”… “Angkat telepon nya”… “Angkat telepon nya”…

Aku hanya bisa terdiam sambil menutup mataku, aku sudah tidak bisa lagi beranjak karena kaki lemas. Ketika aku membuka mataku lagi, sosok itu sudah tidak ada. Segera aku keluar dan langsung berlari ke ruang UGD, aku ingin meyakinkan dan saat aku lihat sosok itu sama seperti yang tadi aku lihat duduk di depan mejaku. Ketika aku bertanya, kenapa dia meninggal. Salah satu petugas dari UGD itu berkata, Laki-laki tadi mengalami kecelakaan dan dia meninggal selama perjalanan menuju kemari.

Seandainya tadi dia menghubungi pihak rumah sakit lebih cepat, pasti nyawanya akan terselamatkan. Begitu jelasnya salah satu petugas UGD yang berkata kepadaku. Bulu kuduk ku langsung berdiri, dan apakah mungkin telepon tadi ketika aku tertidur itu adalah telepon untuk menjemput laki-laki ini.

Share This: