Angkernya Daerahku

Ini cerita pertamaku, perkenalkan namaku fidia, aku akan menceritakan pengalamanku. Waktu itu umurku 12 tahun (maaf jika kapan waktunya terjadi tidak tertulis). Waktu itu lebaran tiba, suara takbir mengumandangkan. Aku sangat gembira pada saat itu, siang hari aku jalan-jalan mengitari tempat dimana aku tinggal. Aku tinggal di daerah terpencil di (surabaya).

loading...

Sebuah suara memanggil namaku membuat perjalananku terhenti. Kak maya sahabat kakakku memangil namaku untuk datang kerumah nya. Singkat cerita, aku mendengar kabar bahwa ia telah tiada, ia mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri. Semenjak saat itu di daerahku selalu diganggu. Setelah kematian kak maya, daerahku menjadi angker terutama rumah nya kak maya.

Ditempat kuburan dimana kak maya dikebumikan menjadi tempat yang paling mengerikan. Pada malam jumat kliwon aku lewat di kuburan tersebut (boleh dikatakan aku bukan penakut). Ketika sampai di persimpangan mataku sempat melihat kuburan nya kak maya. Tersontak hatiku melihat seorang wanita berambut panjang sedang menangis diatas kuburan kak maya.

Pikiranku menyimpulkan itu kak maya. Kemudian aku berhenti untuk membuktikan nya. Ternyata benar, wajahnya yang pucat dan lehernya yang merah membuat aku ngeri. Dia berdiri di atas batu nisan nya tetapi kakinya tidak menginjak tanah sambil menangis. Tak sadar aku telah menitikan air mata, lalu aku pun berlalu. Kak maya selalu datang dalam mimpiku, didalam mimpiku kak maya memanggil namaku untuk datang ke tempatnya, sontak aku terbangun.

Apakah ini dinamakan dihantui? Aku selalu mendengar suara dia yang terus memanggilku. Hidupku terasa penuh oleh penyesalan. Sejak saat itu aku baru sadar apa itu penyesalan, bahkan sampai saat ini aku menulis ada tangan memegang kepalaku. Ya, kak maya yang memegang ku, sesekali aku merasa takut akan kehadiran nya, tetapi aku terbiasa sekarang. Aku tahu ia marah, aku menceritakan ini pada semuanya, bahwa mengakhiri hidup itu mudah tetapi akan membawa penyesalan selamanya. Baik sendiri maupun sekitar, sekian ceritaku.

Share This: