Angkot Hantu

Mungkin kamu tidak akan percaya dengan kejadian yang menimpaku ini, kalo bukan kamu sendiri yang mengalaminya secara langsung. Sekali lagi percaya tidak percaya terserah pada kamu yang membacanya. kejadian ini terjadi pada malam aku pulang setelah main futsal, aku sangat menyukai olah raga sepakbola. Makanya ditengah kesibukan, aku sempat menyempatkan diri untuk main futsal. Biasanya kami bermain disebuah rental penyewaan futsal didaerah antapani, namun setelah peristiwa ini terjadi 6 bulang yang lalu.

Aku tidak lagi merasa tenang ketika pulang bermain futsal, seperti biasa kami menyudahi permainan kami pukul 12 malam. Setengah jam kemudian, sekitar pukul 00:30 malam setelah selesai membersihkan diri dan mengobrol kami pun bubar. Biasanya aku selalu pulang dengan oki sahabatku, karena rumah kami memang berdekatan, tapi malam itu karena oki ada urusan lain. Aku didrop olehnya sampai simpang dago, dari situ aku akan naik angkot untuk sampai rumahku didaerah ciroyom. Kondisi simpang dago tengah malam itu cukup sepi sudah tidak banyak mobil lalu-lalang.

Aku berdiri didekat pertigaan didepan sebuah apartemen dan menunggu sebuah angkot, aku tau pasti ada angkot jurusan ciroyom yang pasti melintas. Tapi aku agak pesimis akan ada yang cepat melintas, entah berapa lama aku menunggu samar-samar waktu aku melihat ke arah sebelah kiri ada sebuah angkot berwarna hijau yang lagi ngetem (menunggu penumpang), “aneh” perasaan aku tidak melihat angkot itu dalam hatiku.

Tapi aku tidak ambil pusing, aku senang karena ternyata ada angkot yang ngetem disitu. Aku langsung mendekati angkot tersebut tanpa pikir panjang, angkot itu terlihat gelap didalamnya seperti tidak ada lampu. Kuperhatikan cat nya sudah agak pudar. Ketika sudah dekat, kulihat angkot tersebut hanya berisi 3 orang penumpang. Tak ambil pusing aku langsung naik kedalam angkot, tadinya aku pesimis kalo angkot tersebut akan langsung berjalan karena aku berpikir angkot tersebut pasti akan lama ngetem disini.

Tapi ternyata aku terkejut, diluar dugaan sopir angkot langsung menginjak gas dan angkot pun berjalan. Walaupun gelap, tapi samar-samar aku dapat melihat ketiga penumpang lain saat itu. Posisi tempat dudukku persis dibelakang sopir, sedangkan penumpang lain berada disebelah kiriku. Aku bisa mengamati mereka bertiga secara langsung dalam satu tengokan dengan bantuan cahaya dari jalanan.

Ketiga penumpang tersebut semuanya adalah pria, yang paling dekat posisi duduknya denganku masih terlihat muda sekitar 20 tahun an dan kedua orang lainnya duduk bersebarangan dipojok angkot, bisa kutebak umur mereka sekitar 40 tahun-an. Mereka hanya diam saja dan tidak bercakap-cakap, sikap mereka sangatlah janggal, posisi duduk mereka pun agak aneh.

Mereka semua duduk tegak dengan tangan mereka diatas lutut dan kepala mereka menghadap lurus kedepan. Sekelebat kulihat wajah mereka, “aneh” ekspresi mereka datar dan terlihat murung. Aku bukannya hobi mengamati orang tapi aku hanya merasa hal ini perlu dilakukan saat menaiki angkot tengah malam begini. Dikepalaku saat itu terbayang berbagai cerita temanku tentang kejahatan angkot pada malam hari yang makin sering terjadi.

Aku pun menjadi lebih sigap dan memutuskan untuk mengamati ketiga penumpang itu lagi, pandanganku buyar ketika aku merasa pemuda yang berada didekatku paham kalo aku sedang memperhatikan dia. Mata kami saling bertatapan, aku langsung membuang muka dan mengalihkan perhatianku. Kini perhatianku adalah laju angkot, ternyata angkot ini dari tadi jalannya sangat lamban, sepertinya tidak sampai 40km/jam dari tadi kami baru sampai sebelum turunan babakan siliwangi.

Seolah bisa membaca apa yang ada dipikiranku tiba-tiba sopir angkot menginjak gas dan menambah kecepatan, ia terus menambah kecepatannya sehingga kami melaju semakin kencang diturunan. Aku melihat ketiga penumpang diangkot itu, mereka sama sekali tidak menunjukan reaksi apapun masih tetap duduk tegak dengan pandangan kaku. Berbeda sekali dengan aku yang panik saat itu. Angkot melaju kencang dibabakan siliwangi yang berbelok-belok, jalanan memang terlihat kosong tapi aku sangat khawatir kalo tiba-tiba ada kendaraan yang lewat “kang, pelan-pelan kang” kataku sedikit berteriak.

Tapi sopir angkot tidak menjawab dan tidak menurunkan kecepatannya, aku mencondongkan badanku ke sopir dan kembali berkata kepadanya “kang, maaf jangan kebut kang lagi diturunan”. Angkot langsung rem mendadak, aku terdorong kedepan dan sekilas tercium bau aneh dari sopir. Sopir itu langsung menengok ke arahku dan Ya Tuhan!. Wajah sopir angkot itu hancur dan mukanya penuh dengan luka sayatan dan sisa-sisa pecahan kaca yang menempel diwajahnya. Dahinya bocor dan mengeluarkan darah keseluruh mukanya, bola mata kanan nya hilang, menyisakan lubang besar hitam disebelah kiri wajahnya.

Spontan aku lompat mundur dan jatuh ke lantai angkot, tiba-tiba ada beberapa tangan yang mencengkram pundakku dari belakang dan saat aku menengok, astaga sekarang ketiga penumpang yang lain wajahnya berubah menjadi hancur dan mereka berusaha menahanku, pemuda itu berusaha memegang tasku dengan erat, dengan kedua tangannya.

Sekarang aku melihat sopir angkot itu sedang berusaha memanjat dari kursi sopir, untuk datang kearahku. Aku langsung memberontak dengan sangat keras, kukerahkan segala tenagaku dengan menendang dan memukul secara liar sambil berteriak minta tolong “tolong.. tolong.. lepasin tolong”. Lama kelamaan cengkraman mereka pun melemah dan aku berhasil melepaskan diri dan berhasil merangkak jauh dari mereka.

Aku tidak perlu berpikir bagaimana cara keluar dari angkot ini, karena pintu keluar masuk angkot ada tepat didepan mataku. Aku lompat dari pintu keluar dan jatuh. Jatuh terjerembab kejalanan, aku mendarat diaspal dengan posisi tengkurap, jatuhku tidak terlalu keras tapi sakit. Sehingga aku bisa merasakan memar ditangan dan kakiku. Kebetulan seorang pengendara motor yang sedang lewat dari arah berlawanan melihatku terjatuh.

loading...

“Astagfirulah” teriaknya sambil menghentikan motor. seorang bapak-bapak berlari kearahku dan langsung membantuku bangun. “Pak, awas pak… itu angkotnya ada setan” kataku gelagapan karena ketakutan. “Angkot? ngga ada angkot”, aku pun menoleh dan melihat udara kosong. angkot yang beberapa detik lalu hampir membuatku celaka kini telah hilang.

“justru saya yang mau tanya? saya tadi sempat ketakutan ketika melihat dari jauh, saya melihat kamu melayang begitu aja”. hah! melayang, ucapku bingung. “iya, melayang saya takut sekali melihatnya kirain saya, kamu yang setan tapi tiba-tiba jatuh sambil teriak makanya saya tadi berhenti”. Aku makin ketakutan, aku merinding setelah aku yakin bapak itu tidak berniat jahat dan aku menenangkan diriku duduk lalu terdiam dipinggir jalan bersama bapak itu sepanjang perjalanan aku menceritakan kejadian di angkot tersebut, ia mendengarkan sambil berulang kali mengucapkan “istigfar”.

Keesokan harinya aku menceritakan kejadian ini kepada teman dekatku, mereka pun sulit untuk mencari penjelasan dari ceritaku ini. Salah seorang dari temanku berpendapat, mungkin saja itu arwah-arwah penasaran dari korban kecelakaan lalu lintas disana dan tentu saja mereka tewas karena sopir tersebut bertindak ugal-ugalan. Dari detik itu aku tidka pernah berani naik angkot jurusan itu sendirian ditengah malam, aku selalu takut kejadian itu terulang kembali.

Share This: