Angsa Putih Taman Lansia

Sebenarnya agak takut sih kalau lewat taman lansia pada saat malam hari. Bukan cuma takut geng motor, tapi takut ada penampakan hantu. Kalau bukan karena cari duit tambahan, mana mau aku lewat jalan itu. Mending muter, tapi selain karena kerjaan, jalan lewat taman lansia lebih cepat. Jadi ceritanya sudah beberapa bulan ini aku magang kerja di sebuah restoran di jalan riau. Disitu aku magang sebagai supervisor. Yang mengharuskan aku pulang malam, mengontrol restoran hingga tutup.

Setiap hari aku bisa pulang jam 2 atau jam 3 pagi, cape dan kurang istirahat. Membuat aku sering melamun. Subuh itu sekitar pukul 2 pagi, aku berpamitan pulang pada semua karyawan. Tapi ketika aku sedang menghidupkan mobil di parkir restoran, aku merasa ada sesuatu yang mengganjal perasaan yang sangat tidak enak. Seperti ada sesuatu yang tertinggal.

Aku merogoh tasku, handphone ada, dompet sudah, buku-buku juga sudah. Aku melamun mengingat semua apa yang aku kerjakan tadi. Gak ada yang lupa, atau cuma perasaan aku aja ya dan dalam keanehan itu, tiba-tiba saja sebuah tangan dingin menepuk punggung. Aku terkejut karena tepukan itu cukup membuyarkan lamunanku.

Aku memalingkan muka ke belakang, dan astaga pegawaiku menawarkanku untuk pulang bersama, aku hanya tersenyum dan berkata tidak usah. Karena arah dia pulang berlawanan denganku. Hal itu kan cukup merepotkan. Akhirnya ia pun pamit pulang. Aku masih berdiri di dekat mobilku, sambil menatap pegawaiku yang meninggalkanku sendirian di parkiran. Udara dingin bandung menusuk kulit, dan tiba tiba entah kenapa bulu kuduk berdiri.

Aku segera masuk kedalam mobil lalu keluar dari parkiran yang sudah sangat sepi. Biar tidak ngantuk di jalan aku menyalakan lagu di mobilku, sambil bersenandung aku melewati jalan riau yang sangat sepi. Di persimpangan istiqomah aku membelokan mobilku ke arah cimanuk dan taman lansia. Dan ketika aku berbelok dekat dengan sebuah hotel. Astaga entah dari mana munculnya, tiba-tiba saja di tengah jalan di belakang gedung sate yang sepi itu, seekor binatang menyebrang melintasi jalan.

Binatang itu hampir tertabrak olehku, tapii kenapa binatang itu malah diam di tengah jalan. Aku mengklaksonnya berkali kali. Binatang itu tidak bergeming sedikitpun, binatang itu seperti angsa, berbulu putih dengan moncong hitam dan mata binatang itu merah menyala, bukan seperti mata binatang biasanya. Aku terus membunyikan klakson, binatang itu masih diam. Dia sesekali mengepakan sayapnya.

Karena kesal binatang itu tidak juga menyingkir, aku turun dari mobilku dan mengusir binatang itu pergi dari depan mobilku. Angsa itu melihat kearahku, gerakan tubuhnya seperti mau menyerangku, dia berjalan mendekatiku. Aku perlahan mundur dan entah bagaimana angsa itu berubah menjadi besar, dan bentuknya berubah menjadi wanita berambut panjang dengan kain putih.

Astaga, makhluk apa itu. Tertawanya menyeringai, matanya besar dan merah dan dari situ aku yakin kalau dia bukan manusia. Dia terus mendekatiku dengan badannya yang kaku dan wajahnya yang menyeramkan serta bibirnya besar, lidahnya yang panjang menjulur. Dia mendekatiku, aku menutup mataku dan berteriak teriak tidak jelas.

Tidak lama kemudian aku merasa badanku ada yang mengguncang guncang. Sampai terdengar suara “Neng kenapa neng? Istigfar neng, istigfar” seorang pria tua mengguncang guncangkan badanku. Aku mulai membuka tangan yang menutupi wajahku. Aku menangis dan bapak itu memapahku, ia membawaku kesebuah kios di pinggir taman lansia itu.

loading...

Aku diberi segelas air minum oleh seorang perempuan yang terbangun di dalam kios itu. Setelah agak tenang, pria tua yang berbaju security yang membawaku tadi menanyakan hal yang terjadi. Aku menjawab dengan terbata-bata dan bapak itu hanya terdiam sambil mengatakan kalau hal tersebut biasa terjadi di daerah taman lansia ini.

Perempuan yang menjelma menjadi angsa itu, dikenal oleh orang-orang dan para pedagang taman lansia dengan sebutan neng siti. Yang konon perempuan itu telah tinggal puluhan tahun di taman lansia. dulu neng siti gantung diri di taman itu dan sampai sekarang arwahnya gentayangan. Neng siti adalah pembantu orang belanda yang di tinggal kekasihnya. Dia tidak kuat menahan kesedihan, akhirnya ia gantung diri.

Saksi hidupnya masih ada sampai sekarang, rumah majikannya pun masih ada. Majikannya juga masih hidup. Neng siti yang bergentayangan sering menampakan diri, biasanya sebagai angsa putih yang melintasi taman lansia. Berjam-jam sudah aku duduk di warung itu. Sampai tak terasa subuh pun tiba. Aku sudah cukup tenang, aku menghampiri mobil dan rasa kantuk serta capek pun mulai menyerang. Aku pamit dan mengucapkan terimakasih pada bapak security dan ibu kios itu.

Aku membuka mobil dan langsung duduk di kursi depan, sambil menghela nafas. Aku menyalakan mesin mobil dan membenamkan wajahku di stir dan menghembuskan nafas, mengatur nafasku dan “Tolong antarkan saya kerumah majikan saya, saya mau minta maaf”. Astaga sebuah suara datang dari kursi belakang. Perlahan aku melihat ke arah kursi mobil belakang dan ya tuhan itu perempuan yang tadi kulihat itu arwah pembantu yang meninggal bunuh diri.

Dia duduk dengan baju putih dan rambutnya yang acak acakan menutupi mukanya dan seutas tambang yang masih terikat di lehernya, itu neng siti. Cerita neng siti ini juga pernah dialami hampir oleh setiap orang yang melintasi taman lansia. Aku hanya berpesan, jika kamu lewat taman lansia dan mau bertemu dengan neng siti cobalah untuk berdiam di tengah jembatan di taman lansia. Di jembatan itulah biasanya neng siti berada.

Share This: