Anjing

Aku dan suamiku tinggal didesa disebuah rumah yang kumuh. Beratap dari alang yang rapuh dan berdinding tepas yang tua. Rumah ini sudah kami tempati selama kurang lebih 12 tahun lamanya. Kami hanya tinggal berdua, tak ada anak. Kami tak diijinkan yang Maha Kuasa untuk memiliki anak. Suamiku kerja sebagai petani diladang. Ladang milik juragan besar didesa sedangkan aku hanya menjadi ibu rumah tangga yang setiap harinya menunggu suami pulang dan mempersiapkan makanan untuknya. Malam itu.

Istri: pak. Kenapa pulangnya terlambat?
Suami: tak apa.
Istri: aku mau ke hutan dulu. Jagalah rumah pak. Aku mau ambil kayu bakar dan mencari sesuatu untuk menu nanti.
Suami: kau belum memasak untukku?
Istri: maafkan aku. Aku menunggumu, agar ada yang menjaga rumah.
Suami: ya sudah, cepat. Aku sudah sangat kelaparan.

Aku pergi meninggalkan suamiku, hendak mencari kayu bakar untuk memasak. Saat aku mencari kayu ditengah hutan, aku melihat seekor anjing yang berada dibawah pohon, sendirian. Anjing itu melihatku. Ia mendatangiku. Aku membelainya. Dia ramah. Saat aku selesai mencari kayu, dia mengikutiku pulang kerumah.

Suami: anjing siapa itu?
Istri: aku tak tahu. Dia dihutan sendirian. Apa dia kesasar?
Suami: sepertinya dia tak ada pemiliknya. Aku sudah sangat kelaparan, bagaimana kalau kita makan saja anjing ini.
Istri: kau tega? Kasihan dia. Mana tahu dia punya majikan? Kita harus kembalikan anjing ini.
Suami: aku lapar!
Istri: aku segera memasak untukmu.

Saat aku sedang memasak, suamiku berteriak memanggilku.
Suami: lihat!
Istri: ayam?
Suami: siapa yang membawa ayam?

Aku melihat kesekeliling dan aku lihat anjing tadi, terdapat darah segar dimulut anjing tadi, aku rasa.

loading...

Istri: anjing itu yang membawanya.
Suami: tidak mungkin!
Istri: aku rasa, ini adalah ucapan terima kasihnya atas kebaikan kita menolongnya, membawanya pulang.
Suami: …?
Istri: kau tak lihat? Darah segar itu!

Aku dan suamiku pun memakan ayam buruan anjing itu, karena memang kami sudah sangat lapar. Aku hanya tinggal memasak ayam itu saja. Keesokan harinya, suamiku bekerja seperti biasa, aku kebingungan, beras sudah tidak ada. Apapun sudah habis. Aku juga tak melihat anjing itu. Saat aku hendak masuk kerumah, anjing itu datang membawa seekor babi hutan kecil. Sorenya, suamiku pulang. Suamiku terkejut, kali ini aku memasak enak.

Suami: dari mana kau mendapat babi ini?
Istri: dari anjing itu.

Suamiku terdiam sejenak dan kemudian tertawa.

Suami: *haha, haha, kita tak perlu bersusah-susah mencari apapun lagi. Suruh saja dia yang berburu.
Istri: maka jangan kau memakannya. Dia mengerti akan kesusahan kita.
Suami: besok kau suruh dia berburu lagi.

Keesokan harinya, suamiku pergi bekerja seperti biasanya lagi dan aku berada dirumah. Aku tak melihat anjing itu. Aku sudah tahu, kalau dia pergi berburu. Ternyata benar. Dia membawa buruannya berupa seekor kelinci. Di hari ini juga seperti biasa, aku tak melihat anjing itu. Aku semakin tahu, dia pergi untuk apa. Tapi dari situ, aku semakin bingung dengan anjing ini. Dia mencari buruan untuk kami? Sedangkan dia tak memakan apapun. Dia tak memakan buruannya itu, malah diberikannya kepada kami, orang yang baru dikenalnya.

Apakah dia sudah mencari dan memakan buruannya duluan sebelum mencarikannya untuk kami? Aku tak tahu. Tapi ada untungnya anjing ini. Seperti biasa, anjing itu pulang dengan membawa buruannya, kali ini berupa seekor rusa. Saat dia membawa rusa, aku sangat kaget. Bagaimana seekor anjing bisa mengejar, melumpuhkan dan menggigit seekor rusa? Berarti giginya sangat tajam dan dia lincah selincah macan. Itu yang ada dipikiranku. Aku memasak makanan itu, suamiku pun pulang. Suamiku makin senang karena belakangan ini dia selalu makan enak.

Di hari berikutnya, suamiku bekerja dan aku dirumah. Kali ini aku dirumah bersama anjing itu. Kenapa dengan anjing itu? Dia tak berburu. Apa dia capek? Aku kasihan melihat anjing itu. Aku biarkan saja dia beristirahat. Matanya aku lihat semakin merah, badannya juga semakin kurus, air liurnya semakin banyak keluar dari mulutnya, menetes-netes dan aku baru sadar kalau dia sepertinya tak pernah makan. Apakah dia tak pernah makan buruannya? Kenapa? Tak terasa sorepun tiba, suamiku pulang.

Suami: buruan apa kali ini yang dibawa anjing itu?
Istri: dia kelelahan. Dia tak berburu.
Suami: apa?
Istri: biarkan dia beristirahat sejenak untuk hari ini.
Suami: tidak! Aku lapar. Dia harus berburu. Atau.
Istri: apa?

Suami: dia yang akan menjadi santapanku hari ini.
Istri: jangan! Dia sudah banyak berkorban untuk kita. Kau tak lihat, dia sepertinya tak pernah makan demi kita.
Suami: dia itu binatang yang takdirnya untuk dimakan. Sudah, kau ambil air disungai untuk mencuci dagingnya nanti. Aku mau menyiapkan pisau.
Istri: tapi?
Suami: kau melawan?

Aku tak bisa berbuat apa-apa. Aku langsung mengambil ember dan pergi ke sungai untuk mengambil air. Sampai dirumah, aku mencari cari suamiku. “Suamiku, suamiku. Dimanakah kau? Ini airnya” aku tak melihat suamiku. Tak berapa lama ,aku melihat anjing itu.

Istri (sambil mengelus anjing ): maaf ya. Suamiku mau memotongmu. Tapi, kau sepertinya terlihat lebih baik dari sebelumnya. Oh, kau kali ini pasti sudah makan, ya?

Aku tahu kalau anjing itu sudah makan, karena aku melihat darah segar dimulutnya. Daging buruannya membuat dia lebih baik. Tapi, dimanakah suamiku? Aku mencarinya sampai kebelakang ujung rumah. Aku melihat sebuah baju biru dan celana pendek berlumuran darah yang tercabik-cabik seperti habis diserang oleh sesuatu. Astaga! Aku baru ingat kalau, hari ini suamiku memakai baju ungu dan celana pendek.

Fiolin Fradah

Sezgina F.S Fradah

Thank you for reading my stories. Thank you for liking my stories Thank you so much... Terimakasih,Thank you,Arigato gozaimasu, kamsahamnida,Xie-xie,Merci bien,Dankejewel,Matur nuwun,Tarimo kasih,Hatur nuhun,Bujur...

All post by:

Sezgina F.S Fradah has write 94 posts