Antara Fiksi dan Nyata

Minggu 26 februari 2017, cuaca yang cerah bukan. Ku rebahkan tubuh ini di atas tempat tidur, membayangkan sesuatu yang entah tiba-tiba tergambar di benakku. Mengiringi rasa bosan tanpa hiburan. Alangkah baiknya aku buat cerpen saja pikirku. Ku mulai memikirkan cerita fiksi atau kejadian nyata, tapi tidak tersirat satu pun cerita yang menarik dipikiranku.

Bahkan ada cerita yang cukup bagus tapi bingung mau di beri judul apa, namun sayang cerita itu durasinya sangat pendek dan mungkin akan menyangkut di kertas KCH yang seharusnya minimum 1500 kata. Ah lebih baik ku urungkan niat untuk menulis, tiba-tiba ada suara motor terparkir di depan rumah. Ku lihat dari balik jendela kaca kamar. Huh ternyata itu bulek sri, adik kandung dari ibuku.

Ku kira ada tamu pangeran atau putri cantik yang mau ngajak piknik atau apa gitu, ternyata malah bulek, gerutuku dalam hati. Tapi tak apalah, dari pada hari ini bosan siapapun jadi, yang penting yang datang bukan manusia khayalan atau hantu, kan gak eksis kalau mojok sama mereka, pikirku. Akhirnya aku bergabung dengan bulek dan ibuku yang sedang mengobrol di teras rumah.

Di siang bolong ini malah bulek mengajak ngobrol tentang horor. Sontak saya terkejut, sambil berceletuk, “tumben nih obrolannya seru” gumamku dalam hati. Sebelum mendengar cerita serunya, ku panggil es cincau yang lewat di depan rumah, buat nyegarin tenggorokan, eh salah kali ini buat nyegarin pikiran biar tidak terlalu serius terbayang-bayang sosok cantik dan ganteng yang akan ia ceritakan.

Di mulailah ceritanya dari yang cerita aku takut bu, membunuh burung dara (merpati) akhirnya? dan cerita tukang sayur yang meninggal nyungsep di rawa. Bahkan cerita lainnya yang kira-kira pernah di alami beberapa warga dan keluarga kami, ibu pun ikut bercerita. Aku hanya menjadi pendengar setia KCH di dunia nyata saat itu. Dan ketika sedang tidak fokus dengan es cincau, bulek bercerita yang di alami oleh om/adik kandung mereka berdua.

Saat itu om main ke rumah bulek waktu jam 7 malam, singkat cerita om akan pulang ke rumah karena hari sudah mulai larut malam. Padahal waktu masih menunjukan jam 10 malam. Tapi suasana sudah sepi senyap malam itu.
“Kamu berani pulang gak yon” kata bulek memanggil yono adiknya.
“Ah beranilah, kacangan (penakut) amat kalau gak berani” jawab om yang suka nyeletuk.

Akhirnya setelah menghidupkan motornya dan hendak pulang, ia melihat ada orang yang sedang naik sepeda sendirian. “Alhamdulillah ada teman di jalan” pikirnya. Setelah hampir sampai dengan orang bersepeda tadi, om terkejut. Bahwa orangnya menghilang, tepat berada di gerbang pabrik padi pinggir sawah. Om yang kebingungan bercampur kaget mencari ke kanan dan ke kiri, tapi tidak ada orang satupun. Akhirnya dia ngebut menghindari area itu sampai ke rumah dan keesokan harinya dia bercerita pada bulek.

loading...

Ibu yang menanggapi pun bilang memang disitu adalah tempatnya mereka. Bahkan di buk (tempat duduk dari semen) jembatan sungai di sawah itu ada penunggunya sejak zaman dwi kecil, kata ibu. Dan tempat yang di maksud adalah tanjakan rawa yang menewaskan tukang sayur langgananku beberapa hari yang lalu.

Sebelum ia tewas, ia sering di ikuti pocong di area situ. Dan mungkin pocong itu salah satu yang menampakkan diri pada gadis kecil bernama putri. Aku yang fokus dengar ceritapun tak sadar es cincauku mencair, sekian cerita antara fiksi dan nyata dari dwi.
Facebook: Dwy dwi dandwi

Dwy Dwi Dandwi

Dwy dwi dandwi

Jangan baca ini sendirian ya... :D by: penulis amburadul horor dari lampung tengah.

All post by:

Dwy dwi dandwi has write 118 posts