Apartemen Eunos Crescent Singapura

Cerita ini merupakan pengalaman dari seorang penjaga apartemen di Singapura, tepatnya di Blok 9 Eunos Crescent. Kejadian itu terjadi pada bulan ke 7 dari penanggalan Cina dan seperti biasa, di saat-saat seperti itu memang dikenal sebagai bulan di mana hantu-hantu bergentayangan. Saat itu saya tengah berpatroli dengan rekanku pada pukul 3 lewat dinihari, ketika kami menerima sebuah laporan dari Pos Divisi Penjaga untuk melayani keluhan dari salah satu penghuni blok apartemen.

Kami tiba di sana dan mengetuk pintu apartemen itu sekitar 10 menit kemudian. Pintu itu dibuka oleh seorang wanita yang berusia kira-kira di awal 20 tahunan. Dia menggunakan sebuah handuk untuk menutupi tubuhnya dia histeris. Wanita itu menggenggam sejumput bawang putih dan sebuah salib di tangannya, serta sebilah pisau di tangan yang satunya.

Dia tampak mulai tenang ketika melihat kami dan segera mengajak kami masuk ke rumahnya dan mengantar kami ke dapur. Dia berbicara dengan penuh semangat dan terlalu cepat, sehingga membutuhkan waktu bagi kami untuk mencernanya. Saya lalu bilang padanya untuk menaruh pisau dan barang-barang lain yang dibawanya terlebih dahulu dia hanya menaruh pisau itu, tidak dengan bawang putih dan salib yang masih di tangannya. Katanya itu untuk melindungi kami. Lalu lanjut mengantar kami ke dapurnya.

Di dalam dapur kami melihat sebuah gelas seperti telah dibanting, dengan sebuah cairan yang kami yakini adalah kopi. Ada juga beberapa laci tergeletak di lantai dengan isi yang berhamburan keluar di sekeliling dapur. Ada bau yang menyengat seperti kotoran dan beberapa oli hitam yang tebal di lantainya. Juga beberapa pakaian yang compang-camping.

Wanita itu kemudian mengiring kami melihat jendela dapurnya dan menunjuk ke sebuah pohon yang berada sekitar 10 meter dari jendela itu. Dia kemudian bertanya kepada kami, “Kalian lihat dia?” Saya jawab, “Lihat apa?”. Dia melihat kami dengan tatapan tak percaya, dan bertanya lagi. “Kalian lihat sosok itu?” Sekali lagi saya menjawab, “Sosok apa? Bu, tidak ada apa-apa di sana”.

“Pak, apa kamu buta, di sana ada sesosok laki-laki yang berdiri di ranting pohon itu, dan tangan kanannya sedang menggenggam kepala buntungnya, tersenyum dan melihat kita sekarang”. Berdua, saya dan rekan segera memperhatikan lama-lama ke arah pohon itu tapi tak satu pun dari kami melihat sesuatu. “Ibu, apa kamu sedang mengkomsumsi obat-obatan?” Dia menggelengkan kepalanya. “Apa kamu mengatakan bahwa ada seorang laki-laki berkepala buntung di ranting pohon yang ada di luar rumahmu dan dia menggenggam kepala di tangannya?” Dia mengangguk.

Saya menoleh ke rekanku dan mengatakan “32”, rekanku itu juga menganggukkan kepalanya. (32 adalah kode polisi yang mengisyaratkan Orang Gila). Saya menoleh kembali kepadanya dan mengatakan “Bu, tidak ada apa-apa di luar! Dan saya rasa itu hanya imajinasimu yang terlalu keras bekerja”. Wajahnya mendadak pucat dan kami mengantarnya kembali ke ruang tamu, dan beginilah ceritanya selanjutnya berjalan.

Janet bukan nama sebenarnya, adalah seorang warga negara Singapura keturunan China dan telah menikah dengan suaminya yang kini masih berada di Malaysia karena pekerjaannya. Mereka baru saja pindah kemari 3 bulan setelah pernikahan mereka. Suaminya Jack juga bukan nama sebenarnya, adalah seorang tenaga penjualan oli pelumas dan harus rutin pergi ke negara-negara yang ada di Asia Tenggara untuk melayani kliennya.

Suaminya telah meninggalkannya untuk pergi ke Malaysia pagi-pagi sekali hari ini, dia harus berada di Kuala Lumpur untuk menemui salah satu kliennya. Janet bilang, “Pak Petugas, apa yang akan saya ceritakan padamu ini, walau tidak biasa dan mungkin terdengar gila atau saya seperti orang yang kecanduan obat, tapi saya bisa memastikan bahwa 100% saya tidak menggunakan obat-obatan atau pun gila. Apa yang saya akan ceritakan benar-benar nyata”.

Saat saya tidak bisa tidur, saya mencoba membuatkanku segelas kopi sebelum menonton VCD. Ketika saya masuk ke dapur, saya bisa merasakan sesuatu yang aneh telah hadir. “Perasaan itu seperti seseorang memperhatikanku dari jauh”. Berpikir itu hanya imajinasiku, saya melanjutkan membuat kopiku. Saat itu juga semua lampu mendadak padam, meninggalkanku dalam kegelapan.

Apa yang kucoba lakukan hanyalah menemukan sebuah lilin dan korek api dari salah satu laci di dapur, namun saya melihat seseorang melompat masuk ke dalam dari jendela. Sosok itu kemudian berusaha menjamahiku. Dia menarikku dari tempatku dan memelukku. Tangannya menggerayangiku. Saya sedang berusaha melawannya, ketika saya menangkap penampakan dari sosok yang menyerangku itu. Dia tinggi, besar dan hitam. Tubuhnya di lapisi minyak yang lengket atau oli mesin. Kedua matanya menyala terang berwarna kuning seperti macan.

Saya kemudian berhasil mengambil papan cuci dan memukulnya di kepala dengan itu. Sosok itu menyerah dengan pekikan yang keras setelah kepalanya jatuh menggelinding. Dia lalu bangkit, mengambil kepalanya dan melarikan diri keluar dari dapur dan singgah di ranting pohon yang ada di luar apartemenku. Sosok itu masih duduk di atas pohon itu di luar.

loading...

Wanita itu kemudian menunjukkan piyamanya yang robek, yang ada di dapurnya. Di piyama itu, ada dua bekas tangan yang terlihat jelas di permukaannya. Itu bekas tapak yang tercetak dari oli dan lumpur dan tampak jelas sekali. Ketika rekanku selesai mengirim laporan tentang itu ke Pos Penjaga, Kepala Operator kami menyuruhku menelepon balik. Aku lalu memerintahkan rekanku untuk tinggal bersama wanita itu sementara saya turun ke bawah menggunakan telepon umum.

Saat itu sudah hampir pukul 4:35 ketika saya berbicara dengan Kepala Operatorku. Dia mengabarkan bahwa ada sebuah mobil yang terlibat dalam sebuah kecelakaan fatal di jalan tol pada pukul 1:00 dinihari tadi. Mobil itu selip dan terjungkal balik hingga masuk ke sebuah sungai kecil yang ada disana. Tubuh dan kepala korban kemudian ditemukan terpisah dari kejadian itu.

Saya membalasnya “Sersan, saya masih menangani sebuah kasus juga!” Saya pikir dia ingin saya bergabung dengan kesatuan yang menangani itu. Kadang-kadang ketika sebuah lokasi sulit ditemukan, mereka akan meminta bantuan untuk mencarinya. “Kapten Christopher, biarkan saya menyelesaikannya.” kata Kepala Operator. “Dari isi yang ada di dalam dompet korban, diketahui bahwa korban adalah Jack Lim yang tinggal di blok apartemen Ubi Ave. Apartemen itu adalah apartemen yang sama, yang kau tangani sekarang! Kau harus mengabarkan kecelakaan ini kepada istrinya”.

Saya lalu kembali ke apartemen itu dan memberitahu kabar buruk ini kepada Janet setenang yang saya bisa. Ketika saya memberitahunya, dia goyah dan jatuh ke lantai. Kami membawanya ke ruang tamu dan membaringkannya di atas sofa. Saya kemudian menghubungi Ambulance. Sambil menunggu kedatangan Ambulance, rekanku dan saya mendengar suara tangisan yang meratap keluar dari dapurnya. Kami pergi memeriksa dari mana suara itu, dan menemukan jejak suara itu berasal dari pohon yang ada di luar. Walau begitu, tak satu pun dari kami bisa melihat sesuatu tapi itu sudah cukup membuat bulu kuduk kami merinding.

Ketika Ambulance datang, Janet dibawa ke rumah sakit. Setelah itu diketahui bahwa dia pun meninggal di malam yang sama tanpa pernah sadar kembali. Setelah kejadian tersebut, kapan pun saya menangani kasus yang ada di blok apartemen, kenangan itu tidak pernah gagal membuatku bergidik. Saya harap jiwa-jiwa mereka menemukan kedamaian di mana pun mereka berada.

Share This: