Arwah di Tengah Badai

Hari ini malam jumat, hujan yang lebat membuat rumah-rumah mati lampu ditambah guntur dan kilat. Aku melihat keluar jendela, tidak ada satupun kendaraan melintas di depan rumahku, tapi ada seseorang berdiri di tengah jalan. Ketika itu sedang hujan, bisa dibilang sedang badai karena angin bertiup begitu kencang. Keesokan harinya aku bertanya kepada temanku “teman-teman! Ada apa ribut-ribut?”.

“Tadi malam ada penampakan arwah yang tidak tenang, jadi ceritanya begini, 10 tahun yang lalu ada badai yang mengerikan di dekat sekolah ini. Ada anak yang berumur 8 tahun tersesat mencari rumahnya. Suara petir bergemuruh membuat anak itu ketakutan, tiba-tiba saja petir manyambar anak itu, kemudian badai berhenti dan langit menjadi cerah sekali. Arwahnya tidak tenang karena dia belum menemukan rumahnya. Setelah dikubur arwah anak itu keluar dari kuburannya pada malam jumat, arwahnya hanya datang setiap badai malam jumat saja, dia kadang juga menangis, tapi setelah hujan berhanti arwah anak itu menghilang”.

Cerita itu mengingatkanku tentang kejadian tadi malam, ketika hujan mulai berhenti arwah itu menghilang. Sepulang sekolah aku merasa aneh, aku merasa ada yang mengikutiku di belakang, tetapi tidak ada siapapun.

“Rina. Kamu kenapa?”.
“Tadi aku merasa ada yang mengikutiku dibelakangku, atau mungkin itu hanya firasatku”.
“mungkin itu firasatmu saja, aku pulang dulu ya, dah”.

Malam jumat selanjutnya hujan tidak terlalu lebat, tetapi arwah itu muncul. Aku keluar rumah memakai payung, saat itu aku di rumah sendirian, ayah dan ibuku pulang malam dan kakak ku masih di kampus.

“permisi, siapa namamu?”.
“Namaku Rena, bisakah kau membantuku, aku tersesat dan tidak bisa pulang”.
“kerumahku dulu yuk!”.

Ketika kita berjalan di lumpur, aku melihat tidak ada jejak kaki anak itu dan dia tidak basah, tapi banyak luka di tangannya.

“Sini aku obati dulu”.
“terima kasih, tapi tidak perlu”.
“kamu lapar?”.
“tidak”.

Aku mengajaknya bermain di kamarku, kemudian dia berkata ingin pulang ke rumahnya. Aku membiarkannya menginap di rumahku. Paginya ketika aku bangun dia tidak ada “teman-teman kemarin aku bertemu dengan anak seperti yang diceritakan oleh Rizal, namanya Rena”. Mereka mulai terkejut, aku sendiri bingung “memangnya kenapa?”.

“Rina! Anak yang kamu temui itu arwah anak yang tersambar itu!”, aku mulai terkejut. Pulang sekolah aku mengambil jalan pintas, jalan itu sedikit dekat dengan kuburan. Aku berjalan sendirian di dekat kuburan, jalan itu juga banyak pohon dan tidak banyak cahaya matahari “Kok aku merasa aneh ya, kok aku merinding?”. Kabut tebal keluar, tiba-tiba “hiks… hiks… hiks. Aku mau pulang”, suara siapa itu! “Halo, siapa di sana?” Aku melihat seseorang berdiri di tengah kabut dengan awan mendung di atasnya, tiba-tiba hujan deras turun, angin bartiup sangat kencang.

Dinginnya udara membuatku pingsan. Ketika aku bangun aku sudah berada di kamarku. “Rina, kamu sudah bangun. Tadi kamu diantar kesini oleh temanmu, Rena” Jadi ternyata Rena itu baik, bahkan aku bisa melihatnya di samping ibuku. Sabtunya aku bermain dengan temanku, ketika pulang aku melihat Rena di pinggir lapangan, “Rina. Kemari sebentar!”.

“iya, ada apa?”.
“Bisa bantu aku menemukan kuburan keluargaku, mereka kecelakaan ketika sedang liburan. Jika sudah selesai aku akan tenang”.
“baiklah”.

Aku bertanya nama ayah, ibu, dan kakaknya agar aku bisa menemukan tempatnya.

“ini dia! Rena aku menemukannya!”.
“Terima kasih banyak sudah membantuku, kini arwahku bisa tenang, sampai jumpa”.

Pelan-pelan dia menghilang, jika aku merindukannya aku hanya perlu melihat derasnya hujan. Beberapa tahun kemudian banyak kejadian petir yang menyambar banyak warga, aku berpikir jika orang tuanya tidak tenang karena mereka mengira aku berperilaku jahat kepada Rena, meskipun Rena berbicara yang sesungguhnya aku yakin orang tuanya tidak peduli.

loading...

Aku rasa orang tuanya mengincarku. Bulan April kakakku sedang mengendarai mobilnya, petir menyambar mobilnya, kecelakaan terjadi dan aku sangat sedih. Sepertinya keluarga Rena mengincarku, aku harus berhati-hati. Di jendela ketika hujan ada tulisan, “maafkan aku Rina” aku sudah memaafkannya sejak awal, aku hanya ingin orang tuanya tidak seperti ini.

Share This: