Arwah Nenek Menemani Sakaratul Maut Bapak Kami

Hay, mau tepati janji nih. Ini ketiga kalinya saya kirim cerita saya disini. Sebenarnya bapak saya masih hidup sampai sekarang. Di sebut sakaratul maut bapak saya “mati suri”. Sebenarnya bukan satu kali, dua kali dia (bapak) mati suri, setahu saya sudah tiga kali, yang kedua kalinya itu jam 12, pada tahun 2004 saya ingat karena saya disuruh pergi ke sekolah buat kasih kabar sama kakak saya yang lagi sekolah kelas 4 dan kelas 6.

Tapi ketemu dijalan, mereka pakai baju merah putih karena itu saya ingat jamnya. Sedangkan dirumah sudah ramai orang baca yasin, saya masih kecil saat itu kelas 1 SD. Namanya saya masih kecil itu senang banyak orang di rumah. saya gak tahu juga kalau bapak itu mati. Kalau ibu saya gak nangis, mungkin saya gak tahu kalau bapak mati. Eh sudah mau dimandikan, lalu dia langsung bangun, orang-orang pada teriak semua.

Ok yang ketiganya tentang sakaratul maut ini adalah yang terakhir yang saya tahu. Ceritanya begini, tahun 2012 saya kelas 8 SMP, saya ditinggal merantau oleh ibu, saya tinggal sama kakak adik ponakan dua dan bapak saya itu, kakak saya yang paling tua di Malaysia, setiap pulang sekolah waktu bapak saya itu sakit, saya gak enak makan karena gak tega lihat bapak yang sudah sakit parah. Yah kadang saya sama kakak adik dan ponakan itu begadang pijat bapak. Lampunya gak ada pokoknya sengsara hidup saya waktu itu. (Nulisnya sampai keluar air mata nih).

Ponakan saya itu masih kecil 3 tahun dan 4 tahun. Tapi mereka ngerti meski kecil. Ok lanjut, kami begadang karena kalau gak di pijat bapak itu kesakitan, jadi kami gantian, kakak, saya dan adik saya pijat. Lalu saya dan ponakan tidur, begitu sebaliknya. Itu kami lakukan sampai bapak bilang sudahlah nak. Paling awalnya bapak bilang gitu, jam 2 malam. Itu pun kami gak tidur tenang, gak tega dengar bapak *ngedudu.

Sudah tiga hari bapak sakit gitu dan keempat harinya bapak sakit, semuanya tidur kali ini cuma saya dan kakak saya yang tidur sama bapak, adik dan ponakan ada dikasur lain karena saya gak tega lihat mata mereka bengkak kurang tidur. Saya dan kakak saya itu gak tidur, lampu sama gak ada. Bapak bilang nak ada almarhum nenek dan kakek kalian.

Bapak bilang begitu, tapi saya dan kakak saya itu gak ngerasain kedatangan mereka (kata orang, kakek saya itu miripnya sama saya dari watak sampai muka dan badannya), sedangkan nenek saya mirip kakak saya itu. Bapak masih sama *ngedudu. Saya ambil minyak goreng sama bawang merah (kami pijat pakai itu). Karena rumah saya gelap tapi saya hapal tempat minyaknya karena dapurnya ada di dalam rumah (gak punya dapur).

Nah saat saya lihat dikamar, ada seorang kakek pakai jubah putih senyum. Saya cuma menatap agak lama tapi saya gak ada perasaan takut, karena saya tahu itu kakek saya. Nah saya jalan dikit lagi cuma berapa langkah, tepat ditempat air minum saya lihat nenek saya duduk disamping tempat air minum itu. Wajahnya kayak sedih gitu bisa terlihat karena ada penerang api kecil.

Sesudah ambil bawang, saya duduk disamping kakak dan bapak yang sedang sakaratul maut. Saya ada dibawah tempat solat bapak itu. Saya pas di bawahnya, karena bapak tidur ditanah beralas terpal dan tikar, kata orang Madura itu (Lencak) yang gak tahu bisa lihat di google apa itu lencak. Nah saya ngerasa banget itu nyentuh kaki orang padahal gak ada orang disitu. Saat saya lihat keatas, itu nenek saya yang lagi duduk di lencak atas saya itu.

loading...

Selang berapa jam bapak yang sudah sakaratul maut berpesan kepada kami. Begini pesan terakhir bapak. Nak, kalau saya sudah gak ada jangan kalian bertengkar sesama saudara kamu nak (menunjuk saya). Kamu sebagai lelaki lindungi saudaramu, ada makanan saling bagi. Air mata sudah tidak kebendung lagi, kami pun menangis. Bapak yang terlihat sakaratul maut itu sudah kejang-kejang, kakinya sudah bengkak. Kulitnya sudah dingin, dia menatap kosong kearah langit-langit rumah sambil membaca kalimat syahadat.

Kami bingung takut, bercampur aduk, saya kayak mau pingsan saat itu. Mau panggil orang-orang, sudah pada tidur dan saya lihat bayangan putih bergerak ke arah bapak dan diam. Cukup lama sekitar 1-2 jam, anehnya kakak saya katanya gak ngelihat. Tapi saya sudah gak peduli apa-apa, saya cuma bisa berdoa semoga bapak bangun lagi. Cukup lama bayangan putih itu di samping bapak, dan dia pun pergi.

Kini aku hanya bisa memeluk bapak sambil nangis dalam hati, berkata ya Allah, saya sudah gak punya bapak. Saya gak percaya semua ini, cukup lama kami menangis. Di dada bapak saya mendengar jantungnya kembali berdetak lagi, alhamdulillah bapak cuma mati suri. Bapak sudah bisa jalan, dia tanya ke saya kamu lihat bayangan putih waktu saya sudah dicabut nyawa? Saya jawab iya.

Bapak bilang itu nenekmu. Saya gak pernah tahu muka nenek sebelumnya karena nenek meninggal saya belum lahir tapi karena kejadian itu saya tahu wajahnya. Kalau kakek sama, saya tidak tahu karena meninggal sebelum saya lahir. Tapi tahu juga wajahnya karena saat saya sudah besar makamnya itu longsor sampai kelihatan kain kafannya.

Jadi dibongkar sama bapak, alhamdulillah meskipun kakek saya semasa hidupnya kasar sama orang tapi badan dan mukanya pun masih utuh, memang benar mirip saya mukanya. Dan alhamdulillah bapak sehat sampai sekarang. Maaf kalau ada kata kurang baik bahasanya Indonesianya, karena saya sudah setahun di Malaysia. Sekian cerita tentang arwah nenek menemani sakaratul maut bapak kami. Jika ada yang mau berteman silahkan.

Facebook: Bebe kece
Pin: 7B1EB736

loading...
KCH

ahmad naufal

Sekedar kembali mengingatkan. "Jangan pernah baca ini sendirian" :)

All post by:

ahmad naufal has write 2.751 posts