Arwah Teman Ayahku

Namaku Lia, aku punya sahabat namanya Junjung. Tapi aku sering memanggilnya mbak junjung. Junjung itu keponakan dari tetangga sebelah rumahku, saat dia pertama kesini dari hari ke hari, aku sering bermain dengannya. Kejadian itu saat aku masih kelas 6. Sore itu, kami lagi bermain dan duduk-duduk sambil cerita. Katanya, mbak junjung mau tidur di rumahku, dan aku pun sangat senang karena aku tidurnya gak sendirian.

Awan pun mulai berganti menjadi awan hitam, berarti itu sudah malam. Mbak junjung pun datang kerumahku. Saat sudah tiba dirumahku, aku pun ingin bercerita-cerita kembali dengan mbak junjung, rasanya pingin belum tidur. Pertama kami cerita itu di dalam kamarku, ceritanya agak lumayan lama, jadi aku pun merasa bosan. Jadi aku suruh mbak junjung supaya kita bercerita di ruang tamu saja.

Akhirnya kami pun duduk diruang tamu. Saat itu jam 22.00 malam, dan saat itu ayah, ibu dan adikku sudah tidur. Pokoknya aku dan mbak junjung masih belum tidur. Saat mbak junjung berbicara denganku, aku melirik ke arah jendela paling depan, tapi yang di ujung. Saat itu gordennya agak sedikit terbuka. Saat ku lihat, Kayaknya ada sosok aneh yang manjat di tiang di teras paling ujung, sosok itu warna putih tapi kusam dan bengkok.

loading...

Tapi aku masih gak percaya, dikira itu cuma batang pohon. Aku berpikir, bagaimana batang pohon bisa merangkul tiang dan batang pohon kan warnanya coklat-coklat hitam dan memang sih ada pohon, pohon cempedak di pinggir rumahku, tapi agak sedikit jauh. Aku alihkan pandanganku ke mbak junjung, rasanya aku tidak mau menengok ke jendela itu lagi. Tapi didalam batinku, aku ingin lagi melihat ke arah jendela itu.

Akhirnya aku melihat lagi, dan sosok itu masih ada. Aku mulai takut. Aku ingin menceritakannya ke mbak junjung. Tapi, nanti kalau aku ceritakan, takutnya aku gak bisa tidur. Dan saat aku melihat mbak junjung, mbak junjung diam saja sambil melirik ke jendela, jendela yang aku lihat itu juga. Kata mbak junjung: “Lia, siapa yang manjat di tiang kamu itu?”. Aku pun sangat kaget dengar omongannya mbak junjung, berarti benar ada sosok aneh yang ada di tiang teras depan di rumahku itu, dikira bohongan. Kataku “siapa mbak, masa sigit sih?”.

Kata mbak junjung “mana mungkin sigit keluar malam, orangnya sudah besar, dan juga orangnya sudah tua dan dia laki-laki”. Saat itu aku pun menceritakan langsung, kalau aku itu juga melihat orang yang manjat ke tiang itu, tetapi, gak jelas. Ternyata yang ku lihat itu tanganya saja tapi cuma daerah sikut. Kayaknya sosok itu lagi ngerangkul tiang gitu. Kata mbak junjung sambil melirik ke jendela itu “Lia, kenapa orangnya ngelihatin aku terus ya, sambil melotot, aku jadi merinding, jangan-jangan?!” yang aku takut, mbak junjung bisa melihat seluruh tubuhnya, kalau aku cuma sikut tangannya saja.

Kataku “mbak, jangan nakutin coba. Mbak, dia pakai baju apa?”. Kata mbak junjung “dia pakai baju kaos putih tapi kayak ada darah-darahnya sama robek, dan celana panjang warna hitam robek juga”. Nah, berarti yang aku lihat itu juga betul, warna putih tapi kusam. Kata mbak junjung “rambutnya banyak ubannya. Tapi pas ku lihat orangnya, orangnya itu seperti bayangan saja, kayak gak seperti manusia gitu”.

Aku mulai berpikir, dari mana munculnya sosok itu, kenapa dia manjat tiang teras rumahku, memang dia itu mau apa? Aku mulai mendalami pikiranku, aku pikirkan bajunya, robek-robeknya, darahnya, ubannya, dan semuanya pokoknya. Aku pun mulai ingat semuanya sosok itu siapa. Sekalinya dua atau tiga minggu yang lalu, ada sepasang suami istri kecelakaan karena di tabrak ambulans, tapi di jalan raya sana, agak jauh tempatnya. Saat itu mereka dari kebun karet, mau pulang kerumahnya, karena hari agak sedikit mendung, jadi mereka ingin cepat-cepat pulang.

Saat ditengah jalan, mereka pun di tabrak oleh ambulana, inalillahi, dan ternyata sosok itu adalah arwahnya teman ayahku yang kecelakaan tadi. Pasti dia ingin menemui ayahku. Aku menceritakan ke ayahku tentang hal ini. Sekalinya ayahku juga pernah bertemu sosok ini saat dikebun karet, tapi ayahku gak bisa lihat, cuma bisa merasakan kalau sosok itu lagi dipinggir ayahku yang lagi deres karet.

loading...
KCH

Lia

Sekedar kembali mengingatkan. "Jangan pernah baca ini sendirian" :)

All post by:

Lia has write 2.749 posts