Awas Hati-hati!

*Ehem, hai penghuni situs KCH. Sudah beberapa hari kagak menyapa kalian. Semoga pada baik semua ya. Dan hai kak john, awas ya, jalan-jalan kagak ngajak-ngajak member. Sampai-sampai ada yang protes kiriman ceritanya kagak dipublish, hihi. (Kasiman, eh salah kasihan). Tapi maaf ya member KCH, siapa tahu cerita anda tidak sesuai dengan kebijakan KCH, jadi tidak di publish atau untuk sementara agak lama. Terutama nih para admin malah pada sibuk sendiri, awas ya pokoknya dwi minta jatah oleh-oleh, *hihi.

Ok kita akan bercerita sekaligus bernostalgia, eh memang mau dangdutan ya dwi? Maksudnya diselingan selengean atau lebay ya, *hehe. Di tulisan ke-86 ini adalah cerita dari kakak sepupuku. Anak dari bude atau kakak kandung dari ayah dwi. Dulu, iya ini cerita zaman semono atau zaman bahela alias zaman hong atau zaman dulu. Di desaku kan masih banyak yang menggunakan toilet berbentuk MCK. (Ih dwi ini, kebanyakan ceritanya begitu, *hehe). Ya maklumlah *cuy, kan mayoritas tempat terangker didunia ya itu, *hihi.

loading...

Ok, lanjut. Waktu itu kak diki/sepupuku akan buang hajat alias BAB. Dia menuju ke MCK yang jauh dari rumahnya, dan dekat dipinggir sawah beserta dipinggir rimbunan pohon bambu. Awalnya lagi asyik semedi dengan khayalan penuh (wih memang lagi khayal apaan sih ditempat beginian, *hihi). Ya seperti orang pada umumnya, pasti semedi sambil mikirin sesuatu, iya kan? Yang kagak mau ngaku dwi doain ngefans, *hihi. (Ih dasar dwi/dwi memang amit-amit, suka maksa, *hehe). Iya begitulah kira-kira, disela-sela lamunannya tiba-tiba.

“*Whuish, pluk, plung” suara benda jatuh tepat berada didekatnya yang masuk dilubang MCK. (Hii, jangan dibayangkan ya permisa, *hihi). Sontak kak diki terkejut sambil clingak-clinguk menoleh keseluruh penjuru. “Tidak ada orang!” pikirnya. Lalu tiba-tiba terdengar suara tawa. “*Hahaha” dan keluarlah kak solih adiknya, yang bersembunyi dibalik rimbunan pohon bambu. Otomatis kak diki ngomel dan menyudahi lamunannya eh salah, menyudahi semedinya, *hehe.

Dia keluar dari MCK dan hendak mengejar adiknya yang jahil, karena bajunya kotor kena itu, iya itu, gak usah dibayangin ya, *hehe. Setelah adiknya lolos entah kemana, akhirnya dia bersih-bersih dan entahlah selanjutnya, itu urusan mereka, *hehe. Dan selang beberapa hari kemudian. Tepat malam hari, sekitar habis magrib. Dia hendak buang hajat lagi.

Karena tempatnya gelap dan dikebun, jadi dia bawa senter, buat jaga-jaga kalau tidak mau nginjak kodok (eh tapi bukan yang dicerita “kodok loncat” ya, *hehe). Saat dia lagi asyik semedi, tiba-tiba ada angin meniup pohon bambu. Tapi dia biasa saja, malah dia menyiapkan batu dan kayu, buat jaga-jaga kalau di usilin sama adiknya, *hehe. Saat beberapa detik, seperti ada suara berdehem “ehem”. Tapi kak diki cuek dan bilang “sudahlah hon, gak usah jahilin atau nakutin aku lagi. Tak serampang dari sini kapok” katanya.

Tapi suara itu tidak bergeming bahkan hening seketika. Saat beberapa detik kemudian, kak diki ditimpuk lagi dan kena sasaran kedua kalinya, *hehe. Dia langsung bangun sambil ngomel-ngomel gak jelas. Niat hati mau menyorot dengan senter, yang dikira adiknya sedang bersembunyi di balik semak-semak. Tapi saat dicari-cari tidak ada, bahkan suara/jawaban atas ocehannya pun tidak ada.

Saat hendak mau keluar KCH, eh salah MCK. Dia masih tetap menyorot arah semak-semak yang tadi sambil bilang “keluar kamu hon! Sini tak jitak”. Cukup lama dia menunggu, saat dipanggilan ketiga. Barulah muncul sebuah bayangan hitam seperti anak kecil. Berlari keluar cepat sekali menuju arah dekatnya dan kedepan. Sontak dia kaget, bahwa itu bukan sholihun adiknya. Dan akhirnya dia berteriak sambil berlari menuju rumahnya. Hingga bapaknya yang mendengar terheran-heran.

Saat didalam rumah, dia tambah terkejut bahwa adiknya sedang duduk bercanda dengan kakak perempuan dan adiknya yang paling bungsu. Ketika ditanya pakde/bapaknya. Dia mencerikatan semuanya, dan minta diantar oleh bapaknya untuk bersih-bersih. Awalnya sih saudara-saudaranya sempat takut, tapi saat melihat keadaan kak diki yang belepotan begitu akhirnya tertawa, *hihi. Makanya “awas hati-hati!” ya. Kalau mau masuk ruangan terangker harus baca doa dulu, *hehe. Sekian.

Dwy Dwi Dandwi

Dwy dwi dandwi

Jangan baca ini sendirian ya… :D
by:
penulis amburadul horor dari lampung tengah.

All post by:

Dwy dwi dandwi has write 118 posts

Please vote Awas Hati-hati!
Awas Hati-hati!
Rate this post