Ayo Bermain di Taman Kota

Hari itu adalah hari minggu siang, sekitar 9 pagi di daerah sekitar Fukushima, Jepang. Aku baru saja terbangun dari tempat tidurku, dan melihat ke arah jam. Astaga aku benar-benar melupakan hal itu. Harusnya sekarang aku telah berada di taman kota dan berjalan-jalan, serta bermain dengan gadis yang aku sukai. Aku lihat membuka ponselku, dan 13 panggilan tidak terjawab ditambah 7 pesan tidak terbaca.

“Di mana kamu sekarang? Jangan membuatku menunggu lagi. Cepatlah kesini” diterima pukul 8.20 pagi sekitar setengah jam yang lalu. Astaga. Aku benar-benar mengacaukannya. Akhirnya aku mengambil motorku dan melesat langsung kearah taman kota. Anehnya, taman kota yang harusnya ramai pada hari itu nampak sedikit sepi hanya ada beberapa orang menjual takoyaki dan kue.

Akhirnya aku duduk di sekitar taman belakang. Di dekat skate park yang langsung menghadap kearah jalan raya. Aku mencoba menelepon seseorang yang harusnya aku temui sekitar 3 jam yang lalu. Tidak ada jawaban, aku coba lagi, tetap tidak ada jawaban. Aku tahu aku benar-benar mengacaukannya hari ini. Pasti dia sangat marah. Mungkin dia telah pulang, dan akan sangat membuat suasana semakin tidak nyaman jika aku mendatanginya sekarang. Akhirnya aku hanya duduk dibawah pohon taman. Sebuah bola tiba-tiba mendarat dibawah kakiku

“Hai kakak! Tolong bawa kembali bolanya *dong” seorang anak dan beberapa temanya meneriakiku dari kejauhan. Aku lempar bola itu lagi kearah mereka. Kemudian seorang gadis kecil yang merupakan salah seorang dari mereka mendatangiku. “Kakak, ayo ikut bermain dengan kita *dong. Kita kekurangan anggota” ucapnya. Mungkin akan menyenangkan jika aku menghabiskan sedikit waktuku bersama mereka, begitu kataku dalam hati.

“Oke” kemudian mereka mengajakku kearah barat taman.
“Hey anak muda! Mau kemana kamu? Jangan kesana” tiba-tiba seorang pengemis tua dengan muka menyeramkan dan pakaian compang-camping meneriaki kami.
“Kakak, ayo cepat lari. Sebelum orang gila itu menangkap kita” kata anak yang menendang bola tadi.

Aku menuruti saja, karena tanganku telah ditarik oleh mereka. Akhirnya kita sampai di bagian barat dari taman itu, berbeda dengan taman belakang tadi yang masih ada beberapa penjual yang ada. Di sini hanya ada taman bermain, dan ternyata ada beberapa temannya yang lain ada disitu. Beberapa anak gadis bermain masak-masakan dengan pasir. Dan yang laki-laki bermain bola.

“Ayo kakak! Kita main masak-masak kan. Kami buat sup loh” kata salah satu anak wanita.
“Jangan kak kita bermain bola saja” kata yang laki-laki.

loading...

Tetapi karena desakan dari para gadis kecil itu akhirnya aku bermain dengan mereka. Di saat aku sedang asyik menonton mereka main, seorang gadis kecil membawakan mangkuk berisi sup merah padaku.

“Silahkan supnya kak” katanya dengan wajah riang.
“Terima kasih”.

Sup itu tampak agak kental, dan sepertinya agak amis. Ada sesuatu didalamnya jadi aku mengaduknya agar bisa menemukan apa yang ada didalamnya dengan sendok. Sebuah benda panjang lunak dan dua benda bulat terangkat. Apa ini? Sebuah jari dan dua bola mata manusia, dan aku yakin sup itu adalah darah. *Pyar! Mangkok itu jatuh dan darah yang ada didalamnya tumpah keluar. *Brak! Tiba-tiba sebuah benda keras menghantam mukaku cukup keras.

“Maaf kak, tanganku terpeleset saat melempar bola” kata salah seorang anak. Aku lihat bola yang mengenai wajahku tadi, tunggu, itu bukan bola. Bentuknya tidak bulat dan tampak berwarna kemerahan diujungnya. Astaga! Ternyata yang mengenaiku tadi adalah sebuah tangan yang telah termutilasi, keringatku mulai bercucuran karena takut. Anak laki-laki lain kemudian mengambil tangan yang digunakan sebagai bola tadi dan mulai melemparkannya. Aku langsung beranjak dari tempat itu, tetapi baru saja tubuhku berdiri seseorang memegangi kakiku.

“Kakak mau kemana? Kakak tidak mau bermain sama kami ya?”.
“Kami mohon! Kakak mau ya bermain bersama kami?”.

Aku langsung beranjak dan berlari tetapi sebuah benda yang cukup besar mengenai kepalaku sehingga aku terjatuh. Benda itu menggelinding di depanku. Oh Tuhan, ternyata itu adalah sebuah kepala, dengan rambut panjang sebahu. Dengan mata yang telah bolong. Kemudian aku menyadari siapa pemilik kepala itu. Itu kepala Mai, darah segar keluar dari mata dan mulutnya yang menganga. Mereka mulai mendekatiku, beberapa anak membawa tongkat besi dan sebuah pisau daging besar.

“Akhir-akhir ini kami selalu kehabisan bahan untuk sup dan mainan”.
“Kami hanya mau bermain, kenapa kakak tidak mengerti?”.
“Kakak, mau ya jadi mainan kami? Kami mohon”.
“Kakak mau ya?”.

Dan kembali kepada 5 tahun yang lalu, terjadi kecelakaan di jalan raya dekat taman di Fukushima, Jepang. Sebuah mobil dengan pengendara yang mabuk menabrak sekelompok anak yang sedang bermain dan menyebabkan mereka meninggal. Pengendara tersebut kabur dan tidak pernah ditemukan. Sejak kejadian itu, sering terjadi laporan tentang orang yang menghilang di taman barat tepat di dekat lokasi kecelakaan. Ternyata sampai sekarang pun anak-anak tersebut masih bermain di taman barat itu. Mereka hanya ingin bermain.

Arie R

Arie R

Suka berbagi cerita dan senang membaca website seperti KCH!

All post by:

Arie R has write 79 posts